Secret Mafia In Love

Secret Mafia In Love
Judi



Setelah bertaruh di meja judi, Elang dan Revan berusaha untuk menghentikan ini semua.


Mereka sudah menang banyak malam ini, dia ingin pergi meninggalkan tempat itu tapi di hentikan oleh pria yang memakai topeng Joker di sana.


" Bermain sampai titik terendah." Ucap Pria itu.


Dia biarkan Elang pergi begitu saja membawa begitu banyak uang yang sudah dipertaruhkan olehnya bahkan sebuah kunci mobil mewahnya saja pun sudah bertarung di sana serta jam tangan mahal miliknya.


" Apa hak mu melarang ku? aku ingin menyudahi permainan ini dan ingin segera pulang lalu kenapa kau menghentikannya? di sini tidak ada peraturan tertulis bahwa akan main sampai titik terendah seperti yang kau katakan." Ucap Elang.


Dia merasa tidak terima saat dihentikan seperti ini dan Elang paling membenci hal itu.


" Aku sudah kalah banyak dan kau tidak bisa pergi begitu saja." Pria itu bahkan sudah mengepung Elang dan senjata apinya di depan wajah Elang.


Sementara yang mendapatkan ancaman kematian seperti itu hanya tersenyum saja. Dia sudah begitu banyak mengalami dan mendapatkan ancaman kematian seperti ini, jadi ini sudah tidak heran lagi baginya.


" Turunkan senjata mu sebelum dia berbalik sendiri ke arah mu!" Ucap Elang.


Dia tidak ingin kembali berurusan dengan darah, tapi jika mereka menginginkannya, maka dengan senang hati Elang memberikannya.


" Siapa kau berani mengancam ku? tidak ada satu orang mungkin yang berani melawanku." Ucapnya dengan sombong.


Saat dia hendak menarik pelatuk senjata api miliknya, Elang langsung memutar pergelangan tangannya hingga senjata api itu berbalik ke arahnya sendiri dan melepaskan satu buah peluru di sana.


Dor!


Bobby yang menemani Sky di sana langsung mengaktifkan alat canggih miliknya untuk memberi Sinyal pada anak buahnya.


" Tuan..." Sky juga langsung bersiap saat mendapatkan kode dari Bobby.


Kondisi sudah tidak terkendali lagi.


Melihat apa yang terjadi di meja tempat di mana Elang dan Revan bermain judi tadi di situlah terjadi keributan besar.


Elang dan Revan setengah berusaha untuk menghentikan dan menghalau semua serangan dari orang-orang di sana.


Tak jarang suara letusan peluru kembali terdengar.


" Tuan...Mereka semakin ramai." Ucap Revan sudah tidak baik-baik saja karena mereka bertambah banyak untuk menyerang.


" Cari Bobby, dia memegang kendali tempat ini." Revan langsung bicara dengan mobil lewat earphone yang ada di telinga mereka.


" Pergi ke Timur, ada pintu darurat di sana. Mobil sudah menunggu. Kami sudah berada di luar saat ini." Jelas Bobby.


Revan langsung memberitahukan pada Elang untuk hal apa yang Bobby sampaikan padanya tadi.


Sret...


" ****!" Umpat Elang saat lengannya berhasil di lukai oleh pisau milik anak buah seseorang yang telah di pecahannya kepala itu.


" Tuan..." Revan panik saat melihat darah yang cukup banyak keluar dari lengan Elang.


Dor!


Revan melepaskan sebuah tembakan hingga hingga membuat pria tadi lumpuh. Setelah tembakan dari Revan, tembakan kembali terdengar karena mereka mengincar nyawa Elang dan Revan yang telah membuat onar di tempat bos besar mereka.


" Anda baik-baik saja tuan?" Tanya Revan saat melihat Elang yang membuka kemejanya dan mengikat lengannya dengan kemeja putih yang di pakainya tadi.


" Ini hanya luka kecil. Kita Ke rumah sakit untuk membuat luka ini tidak berdarah lagi. Aku tidak ingin Elle mengetahui keadaan ku seperti ini."


...🖤🖤🖤...