
"Kenapa kamu bohongin aku Lang?" Gumam nya dengan menatap layar ponsel nya.
Nadia pun bersiap untuk pergi ke rumah sakit sore nanti bersama dengan Mamah Gilang.
"Bunda, Nadia mau ke rumah sakit dulu ya nengok Gilang" Pamit nya kepada sang bunda.
"Emang Gilang sakit apa Nad?" Tanya Sifa yang baru tiba di dapur.
"Hanya kelelahan saja sif"
"Yaudah kamu hati hati ya nak ke sana nya, bareng siapa?" Tanya sang bunda.
"Bareng mamah Gilang bun, Nadia jemput dulu ke rumah nya"
"Oh gitu, yaudah bawakan ini untuk Gilang dan mamah nya" Titah sang bunda sambil memberikan bingkisan kecil berisi kue yang tadi sempat di buatkan oleh nya "dan sampaikan salam bunda kepada mamah dan Gilang ya nak, maaf bunda belum bisa menjenguk nya"
"Baik bunda. Yaudah kalau gitu Nadia berangkat ya bun"
"Iya nak hati hati"
"Dah bumil" Ucap nya kepada sifa sambil terkekeh.
"Dah juga onty" Jawab nya sambil terkekeh.
Nadia pun masuk ke dalam mobil nya untuk menjemput mamah Gilang.
***
"Mamah ada bi?" Tanya Nadia kepada kepala pelayan di rumah itu.
"Ada non, sebentar bibi panggilkan, non silahkan duduk" Ucap nya ramah dan nadia pun menganggukan kepala nya sambil tersenyum.
Kepala pelayan tersebut pun berjalan menuju gazebo belakang untuk memanggilkan nyonya besar nya itu.
"Nyonya, di ruang tamu sudah ada non Nadia"
"Baik bi, tolong siapkan air minum dan beberapa cemilan ya bi" Titah nya.
"Baik nyonya"
Mamah Gilang pun beranjak dari duduk nya dan menghampiri Nadia.
"Eh kamu udah dateng nak"
"Iya mah Nadia sudah datang"
"Oya mah ini oleh oleh dari London, dan ini titipan dari bunda" Kata nya sambil memberikan 2 bingkisan dengan berbentuk berbeda.
"Jadi ngerepotin deh"
"Engga ko mah"
"Bunda juga titip salam untuk mamah" Lanjut nya.
"Ah iya, titipkan salam lagi ya kepada bunda mu. Dan makasih untuk bingkisan nya"
"Iya mah"
"Ayo di minum dulu" Lanjut Mamah Gilang ketika sang bibi sudah membawakan 2 gelas berisi jus dan beberapa cemilan.
"Mah, Nadia mau tanya deh sama mamah" Lanjut nadia.
"Tanya apa nak?"
"Memang nya Gilang sakit apa sih mah?"
"Hem.." Gumam nya seraya berfikir.
"Mah?" Panggil Nadia.
Mamah Gilang pun menatap Nadia cukup dalam dan menarik nafas nya sebelum ia menceritakan semua nya.
"Harus kah dirinya yang mengatakan semua nya?" Pikirnya.
"Mah ko ga di jawab?" Lagi lagi Nadia membuyarkan lamunan mamah Gilang.
"Eehh iya nak" Jawab mamah gilang gelagapan.
"Jadi Gilang sakit apa mah?"
"Anemia. Ya Gilang sakit Anemia"
"Anemia?" Tanya Nadia lagi dengan sorot mata yang tidak percaya, bahwa yang diri nya tau Gilang itu sangat menjaga kesehatan tubuh nya, jadi kenapa bisa Gilang terkena penyakit Anemia? Mamah Gilang pun menganggukan kepala nya menandakan bahwa ya Gilang memiliki penyakit Anemia.
"Sejak kapan mah?"
"Sejak 2 tahun terakhir ini"
"2 tahun terakhir? Berarti itu semenjak diri nya bersama dengan Rafel dan Gilang yang tidak menghubungi ku lagi?" Monolog Nadia dalam hati sambil memikirkan hal tersebut.
Karena merasa yakin akan hal itu, Nadia pun menatap mamah Gilang dengan penuh penyesalan "A.. Apa.. Apa karena Na.. Nadia mah?" Tanya nya dengan wajah sendu.
"Bukan nak bukan. Gilang memang karena kelelahan saja" Jawab mamah Gilang menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
Nadia pun menggelengkan kepala nya kuat ketika mendengar jawaban dari mama Gilang "Nadia yakin, in.. Ini semua pasti karena Nadia. Pantas saja ketika Gilang di rawat saat ini, Gilang tidak memberitahukan kepada Nadia"
"Gilang hanya kelelahan saja, kamu bisa tanyakan langsung kepada Gilang. Ayo kita kesana, biar mamah bersiap dulu sebentar"
"Baik mah"
Mamah Gilang pun meninggalkan Nadia sendiri, nadia pun masih diam membisu, otak dan hati nya sedang berperang saat ini.
Kenapa bisa?
Kenapa bisa Gilang seperti ini?
Apa aku sungguh keterlaluan?
Apa aku sungguh kejam?
Engga ga ga ga mungkin Gilang sakit ini karena ku?
Mungkin memang benar Gilang sakit karena kelelahan.
Tapi kenapa bisa terjadi dengan waktu yang bersamaan?
Begitulah kira kira yang sedang ada di otak dan pikiran Nadia saat ini