Nadia's Love Story

Nadia's Love Story
Kemelut Hati Gilang



Gilang yang masih termenung dengan kejadian yang tadi menimpa nya, ia hanya diam menatap langit langit ruang rawat inap VVIP tersebut.


Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan hati dokter cantik pujaan hati nya itu, ia mengakui bahwa diirnya terlalu bodoh untuk hal semacam ini yang hanya bisa diam saja ketika mendapat kan mantan kekasih nya itu datang kembali untuk mengganggu nya.


tak lama terdengar suara pintu terbuka, terlihat lah dokter frans masuk kedalam kamar gilang untuk memeriksa kan keadaan nya, yang seharusnya ini adalah tanggung jawab riko dan kayla.


Karena mereka berdua yang memang sedang libur, akhirnya ia yang turun tangan, bahkan naura pun enggan untuk bertemu dengan pria yang tengah dekat dengan sahabat nya itu.


"Selamat malam tuan muda, maaf saya mengganggu waktu anda, saya akan memeriksa kondisi anda tuan"


"Ya" Jawab nya singkat.


"Kemana dokter kay dan doter riko dok, kan biasanya mereka yang memeriksa kan keadaan saya?" Lanjut  nya.


"Mereka berdua sedang libur tuan, jadi saya yang mengambil alih untuk memeriksa kan kondisi anda"


"Baiklah"


Frans pun mulai memeriksa kondisi Gilang. Setelah memastikan kondisi Gilang, Frans kembali menyuruh gilang untuk beristirahat.


"Selamat tuan kondisi anda semakin hari semakin membaik, saya harap tuan tidak banyak fikiran dan terlalu cape"


"Kapan saya bisa pulang dok?"


"Besok juga anda sudah bisa pulang tuan, jadi lebih baik sekarang tuan muda istirahat agar besok tubuh anda lebih terlihat segar lagi"


"Baiklah"


"Apa ada pertanyaan lagi tuan muda?" Tanya Frans dan hanya di jawab gelengan kepala saja oleh Gilang.


"Baik, jika sudah tidak ada pertanyaan lagi. Saya permisi dulu, jika anda butuh sesuatu anda


bisa menekan tombol yang ada di dinding bawah dekat tempat tidur anda tuan"


"Ya"


Setelah mendengar jawaban dari Gilang, frans pun melangkah kan kaki nya untuk keluar dari ruang rawat inap Gilang.


Gilang kembali melamun kan cara nya untuk kembali mendapat kan hati kayla yang akan semakin sulit.


"Haaah..." Gilang membuang nafas kasar dan mengusap wajah nya dengan kasar.


"Baru aja nih gue deketin dia udah ada aja masalah nya, mana si mey oncom kesini lagi ngerusak kebahagian gue aja deh ck" Gerutu Gilang mengingat kejadian tadi.


Gilang pun mengambil ponsel nya yang terletak di meja samping tempat tidur nya. Ia mencoba menghubungi kayla, tetapi sayang nya kayla tidak mau mengangkat telpon dari gilang.


Gilang yang merasa benar-benar pusing memilih untuk memejam kan mata nya agar besok ia bisa pulang dan bisa memikirkan langkah selanjutnya untuk mendapatkan hati kayla lagi.


***


Keesokan hari nya, gilang yang tengah bersiap-siap untuk kembali ke rumah nya, di rumah sakit sudah ada kedua orang tua gilang yang menjemput nya.


Setelah selesai mereka bertiga pun meninggalkan rumah sakit itu.


***


Gilang duduk di sofa ruang tamu rumah nya bersama kedua orang tua nya.


"Lang?" Panggil sang mama.


"Ya Mah?"


"Kamu kenapa?"


"Engga"


"Oya ko tadi mamah ga liat dokter kayla ya lang, dia kemana ya?"


"Libur"


"Oh pantes. Kamu punya nomor nya engga?"


"Buat apa sih mah?"


"Ya buat hubungi dokter kayla lah"


"Nih nomor nya" Kata gilang sambil memberikan nomor ponsel milik kayla kata mamah nya.


Mama gilang pun menyimpan nomor kayla di ponsel miliknya. Dan kemudian ia langsung menghubungi nomor tersebut.


Tak menunggu waktu lama kayla pun mengangkat telpon dari mama gilang.


Kayla : Hallo?


Mama gilang : Apa benar ini dengan dokter kayla?


Kayla : Ya dengan saya sendiri, maaf dengan siapa ya?


Mama gilang : Saya Lisa Mahendra, apakah dokter kayla ingat dengan saya?


Kayla : Sebentar ya bu, saya akan mengingat dulu.


Mama gilang : Baik dokter.


Kayla : Apakah anda orang tua dari tuan gilang mahendra nyonya?


Mama gilang : Ah betul sekali .


Kayla : Oh maaf nyonya, apakah ada yang bisa kayla bantu?


Mama gilang : Panggil saja mama seperti gilang.


Kayla : Baiklah mah, maaf ada apa ya mah?


Mama gilang : Oh tidak ada apa-apa ko nak. Apa benar kamu hari ini libur?


Kayla : Oh iya mah, kayla sedang libur.


Mama gilang : Pantas saja tadi mama tak melihat mu di rumah sakit.


Kayla : Loh, emang nya ada apa mah ko mama kerumah sakit? Apakah ada sesuatu yang serius?


Mama gilang : Oh tidak nak, itu mama tadi menjemput gilang, katanya gilang sudah boleh di bawa pulang.


Kayla : Oh begitu, syukur lah. Maaf mah kayla tidak bisa mengantar gilang pulang.


Mama gilang : Tak apa nak, yasudah kamu lanjut kan saja liburan mu.


Kayla : Baik mah.


Mama gilang : Mamah tutup ya sambungan telpon nya.


Kayla : Iya mah.


Tuut... Sambungan telpon pun terputus.


Gilang yang mndengar bahwa mamah nya berhasil menghubungi Gilang pun hanya bisa menekuk kan wajah nya itu.


"Sialan, kayanya Kayla beneran marah deh sama gue, bukti nya dia angkat telpon dari mamah" Gerutu nya dalam hati.


"Awas aja tuh si mey" Gerutu nya lagi.


***


DI Bogor


"Ko bisa ya tau nomo aku?" Monolog nya sendiri ketika mamah Gilang sudah memutuskan sambungan telpon nya.


"Apa dari Gilang?" Monolog nya lagi.


"Hey" Ucap Keynan membuyarkan lamunan Kayla.


"Kaka ngagetin aja deh"


"Ko ngelamun kenapa? Ada masalah di rumah sakit?"


"Oh engga ada ka" Jawab Kayla dan hanya di jawab anggukan saja oleh Keynan.


"Kaka ga sibuk emang?"


"Engga begitu, nanti juga ada asisten kaka yang ngirimin kerjaan kaka lewat e-mail kalau emang penting banget"


"Oh gitu"


"Ya"


"Kaka mau tanya deh" Lanjut nya lagi.


"Apa?"


"Kamu suka sama Gilang?"


Deg..


"Loh ko gue deg degan ya di anya gitu sama kaka, apa iya gue udah jatuh hati?" TAnya nya sendiri dalam hati.


"Ko diem?" Tegur sang kaka.


"Eh.. Aku gatau ka"


"Gatau?" Tanya nya lagi sambil mengangkat satu alis nya itu.


"Ya, aku ga ngerti sama perasaan ini, apa ini yang nama nya cinta, apa cuma perasaan antar dokter dengan pasien aja ka"


"Hem" Jawab Keynan sambil manggut-manggut.


"Terus kenapa kamu marah dan sakit hati sampe nangis-nangis pas kamu liat cewe yang deket sama Gilang"


"Eh..." Jawab Kayla sambil memikirkan jawaban apa yang pas untuk sang kaka.