Nadia's Love Story

Nadia's Love Story
Pokoknya mama tetap tidak setuju



Singapore


Satu bulan sudah Rafel berada di rumah kedua orang tua nya, setelah ia keluar dari rumah sakit. Kini diri nya pun masih saja berdiam diri di rumah orang tua nya. Karena sang mama yang masih tidak mengizinkan nya untuk kembali ke London.


Rafel menyandarkan tubuhnya di sandaram sofa yang berada di kamar nya, ia ingin sekali mengabari sang pujaan hati nya itu, tapi apalah daya ponsel nya masih di sita oleh sang mamah, bahkan Rafel di belikan ponsel baru oleh sang mama nya itu.


"Gue ga bisa kaya gini. Gua harus ngomong sama mama" Ucap nya dan beranjak dari duduk nya itu.


Rafel pun turun ke bawah mencari keberadaan sang mama. Dan terlihat lah sang mama yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.


"Mah" Panggil nya.


Sang mama pun menoleh ke arah suara tersebut "Iya nak" jawab nya.


"Ada yang mau El bicarakan dengan mama"


"Bicaralah"


Rafel pun mendudukan tubuh nya di sofa dekat sang mama.


"Mah" Panggilnya lagi.


"Hem"


"Rafel ingin kembali ke London" Pinta nya. Rafel yang yakin bahwa sang pujaan hati nya sudah kembali ke London, maka ia oun memutuskan untuk mencari nya kembali ke London, jika memang ia tidak menemukan Kayla di sana barulah ia akan ke Indonesia mencari wanita nya itu.


"Tidak"


"Tapi mah, El juga harus bertanggung jawab dengan pekerjaan El. El sekarang sudah sembuh mah, el harus kembali ke London"


"Kamu sudah tidak lagi bekerja di rumah sakit itu" Jawab sang mama dengan enteng. Rafel yang mendengar perkataan sang mama pun membulatkan mata nya, pasal nya memang ia tidak tahu bahwa diri nya sudah tidak bekerja disana lagi.


"Maksud mama?"


"Mama sudah membuat surat pengunduran diri dan memberikan nya kepada rumah sakit tempat mu bekerja"


"Kenapa mama melakukan itu?" Ucap nya dengan amarah yang tertahan.


"Alasan yang mudah, karena mamah tidak ingin kamu bertemu lagi dengan wanita sialan itu"


"Dan ya" Lanjut sang mama.


"Semua aset yang kamu punya di Indonesia sudah mama pindah kan kesini, dan kamu tidak memiliki apapun lagi di Indonesia"


Lagi lagi Rafel di kejutkan dengan penuturan sang mama nya itu. Rafel tak habis fikir, hanya karena masalah salah paham malah berujung seperti ini.


"Mah ini hanya salah paham saja"


"Tidak ada nya salah paham disini"


"Mah asal mamah tau, El sudah bertunangan dengan Kayla"


Giliran sang mama yang terkejut dengan apa yang di katakan oleh sang anak.


"Sejak kapan?"


"Sudah lama mah"


"Tapi tetap mamah tidak akan setuju"


"Tapi mah.."


"Pokoknya mamah tetap tidak setuju El" Ucap nya dan meninggalkan sang anak yang sedang menahan amarah nya itu.


"Mah tunggu mah" Panggil Rafel.


"Mah"


"Aaaargh" Teriaknya sambil mengepalkan tangan nya itu. Rafel pun kembali ke kamar nya, dan menuju ruangan yang terdapat di dalam kamar nya itu.


***


London


Sudah satu bulan ini Kayla kembali melakukan aktivitas nya sebagai seorang dokter bersama dengan Sifa.


Dan minggu depan sifa dan sang kaka akan melangsungkan acara pernikahan nya yang di gelar di Bali.


Hari demi hari Kayla lewati dengan menguatkan hati nya untuk menjalankan hari hari nya seperti biasa, walau itu memang pasti akan sangat berat.


Kayla juga sudah tau bahwa sang pujaan nya tidak lagi bekerja di rumah sakit yang sama dengan nya, karena yang membawa surat pengunduran diri nya pun Dokter Aji sahabat baik dari Rafel.


Kayla hanya membuang nafas nya kasar dan menahan sesak di dada ketika Aji menanyakan "Kamu gapapa kan Kay?" kayla bisa apa? Ingin marah pun seperti nya tidak bisa mengingat bahwa sang mama dari Rafel pun sudah sangat marah kepada nya. Kayla hanya menjawab "Iya aku gapapa ko ji" dengan suara yang tercekat karena menahan gejolak rasa marah dan kecewa di rongga dada nya itu.


"Aku pasti bisa lewatin ini semua" Gumam nya yang saat ini tengah berada di ruangan nya sambil memijat pelipis nya pelan, karena ia merasa sangat pusing yang dimana di satu sisi ia harus berkonsentrasi dengan pekerjaan nya, satu sisi ia sedang kalut dengan masalah hati nya.


Sifa yang melihat nya pun menatap nanar ke arah sahabat kecil nya itu yang sebentar lagi akna berubah syatus menjadi adik ipar nya. Ingin menasehati nya pun sulit, karena memang jika ia berada di poaiai Kayla saat ini, ia pun akan murung dan tidak semangat untuk melakukan hal hal lain. Tapi sifa salut dengan Kayla, walaupun wajah dan mata nya terlihat sedih dan tak bersemangat tapi ia tetap menjalankan hari hari nya dan pekerjaan nya dengan fokus dan rapih.


Sampai sekarang pun Kayla masih belum mendapatkan kabar dari Rafel, di hubungi nya pun sudah tidak aktif lagi nomor nya. Begitu pun dengan Aji, setelah mendapatkan surat pengunduran diri dari Rafel, Aji pun sudah tidak bisa lagi menghubungi sang sahabat baik nya itu. Seperti nya mama Rafel sudah menutup akses dari teman teman Rafel yang berada di London. Baik yang di London maupun di Indonesia.


"Kay" Panggil Sifa kesekian kali nya sambil memegang bahu sang sahabat.


"Ah iya Sif?" Tanya nya.


"Ini sudah waktu nya makan siang, kamu mau makan apa? Biar aku pesankan"


"Ah itu, aku mengikuti mu saja Sif"


"Baiklah, aku akan memesankan nasi dengan di campur kikil kesukaan mu saja ya untuk kita, bagaimana?"


"Memang disini ada Sif?"


"Biar bibi yang ada di apart yang membuatkan nya untuk kita"


"Baiklah" Pasrah nya sambil tersenyum.


"Oke. Aku akan menghubungi nya dulu" Ucap Sifa sambil mencari nomor sang bibi.


Yaa.. Kini di apart milik mereka berdua sudah ada satu orang bibi yang akan membantu mereka, entah itu beres beres atau pun memasak. Itu pun titahan dari sang bunda dan ayah nya. Dan sang bibi pun di bawa dari Indonesia untuk di pekerjakan di London.


"Sudah, tinggal menunggu saja" Ucap nya sifa ketika sudah menghubungi sang bibi.


"Oke" Jawab Kayla.


"Aku ingin membeli minum ke cafe depam apakah kau akan ikut? Atau ingin membeli sesuatu akan ku belikan untuk mu?" Ucap Sifa lagi.


"Belikan aku Macchaciato satu" Pinta Kayla kepada Sifa.


"Ada lagi?"


"Itu saja"


"Baiklah akan aku belikan. Kalau begitu aku pergi dulu sebentar" Pamitnya kepada Kayla.


Kayla pun hanya menganggukan kepala nya dan menjawab "Oke" kepada Sifa.


Sifa pun melangkah kan kaki nya keluar dari ruangan tersebut untuk menuju cafe depan rumah sakit ini.