Nadia's Love Story

Nadia's Love Story
Lepaskan!



"Dokter kenapa? Ko kaya lagi banyak pikiran gitu?" Tanya Maya ketika melihat Kayla yang sejak tadi tidak biaa diam karena gelisah.


"Aku gapapa kok may" Jawab nya dengan senyum yang di paksakan.


"Aku harus ketemu Gilang sekarang juga"


Nadia pun mengambil ponsel nya untuk menghubungi Gilang.


Nadia : Hallo mas.


Gilang : Iya sayang.


Nadia : Mas dimana?


Gilang : Kantor, ada apa?


Nadia : Aku mau mas jemput aku ya nanti malam.


Gilang : Oke, nanti mas jemput.


Nadia : Yaudah mas kalau gitu aku tunggu ya mas.


Gilang : Iya sayang.


Tuut... Sambungan pun terputus.


***


“Sayang ayo kita pulang” Ajak Nadia kepada Gilang, ketika Gilang masih sibuk dengan ponsel nya itu.


“Iya ayo” Jawab Gilang dan kemudian beranjak dari duduk nya dengan langsung memeluk pinggang Nadia dengan posesif.


“May, aku duluan ya” Ucap nya kepada sang asisten.


“Iya bu. Hati hati di jalan ya bu” Jawab nya dan diangguki oleh Nadia.


Nadia dan Gilang pun berjalan menuju parkiran rumah sakit.


“Sayang, aku jadi iri sama dokter disini” Kata Gilang ketika berjalan dii koridor rumah sakit.


“Loh kenapa?”


“Karena mereka dengan mudah dan sangat terlalu sering bisa menemui mu, bisa melihat mu dengan gratis. Sedangkan aku? Aku sangat sulit bertemu dengan mu karena kesibukan kita masing-masing” Keluh nya.


Nadia yang mendengar itu pun tersenyum menanggapi nya “Kamu ga perlu merasa iri begitu sayang, ingat kamu sebentar lagi akan menjadi suami ku, sedangkan mereka? Mereka hanya mampu melihat ku tapi tidak bisa menggapai ku”


“Kamu bisa saja”


***


“Siapa kalian?” Teriak Reno ketika Asisten Hen berada di hadapan nya.


“Kamu tidak tahu siapa saya?” Tanya Asisten Hen kepada Reno.


“Tidak”


“Saya adalah Asisten Hen, Asisten dari tuan muda Gilang Putra Mahendra” JAwab nya dengan tegas dan nada yang dingin.


Reno yang mendengar nya pun membelalakan mata nya “As.. asisten Hen” Ucap nya dengan tergagap.


“Ya saya adalah Asisten Hen. Bagaimana, apakah kamu sudah mengenali saya?”


“Ya”


“Tapi, apa salah saya sampai kau harus membawa saya ke tempat seperti ini”


“Karena kau sudah mencoba coba untuk mengganggu hubungan tuan muda dan nona muda kami”


“Maksud mu?”


“Kau kan yang sudah memberikan nona muda Kayla bucket bunga tadi siang?”


Lagi lagi reno melotot kan mata nya “Maksud nya Dokter Kayla?”


“Ya” Tak ada jawban lagi dari reno. Asisten Hen pun memberikan Kode kepada para pengawal nya untuk membuat Reno babak belur.


***


“Mas”


“Hem?”


“Boleh aku bertanya?”


“Tanyakan saja sayang”


“Emm..”


“Emm..”


“Apa yang ingin kamu tanyakan sayang?” Tanya Gilang ketika melihat Nadia yang ragu.


“Dokter Reno” JAwab nya dan wajah Gilang pun berubah menjadi dingin.


“Mas?” Panggil nya.


“Hem?”


“Kamu apakan Reno mas?” Tanya nya pelan pelan, takut takut Gilang murka.


“Tidak”


“Mas”


“Ya?”


“Kamu apakan mas?”


“Tidak”


“Bohong”


“..”


“Mas?”


“Ya?”


“Tadi siang asisten Hen datang kerumah sakit untuk melihat CCTV, kamu mau apa ke dokter reno mas?”


“Hanya memberikan pelajaran sedikit saja kepada nya”


“Mas sudahlah, Reno kan hanya memberikan bunga saja tidak lebih” Ucap nya dengan pelan.


“Tapi dia sudah berani berbuat seperti itu kepada tunangan ku!”


“Tapi mas, Reno tidak berbuat lebih kan?”


“Kamu membela dia?”


“Ti.. tidak mas”


“Lantas?”


“Aku hanya tidak mau kamu seperti itu mas, Reno teman baik ku sejak SMA”


“Ya aku tau itu. Bahkan Reno menyimpan perasaan kepada mu sejak kelas 2 SMA”


Nadia melototkan mata nya “Ap.. apa mas?” Tanya nya dengan suara terbata, karena Nadia tidak percaya bahwa Reno memendam perasaan untuk nya.


“Ya, Reno menyimpan perasaan kepada mu sejak lama”


“Pantas saja Gilang murka” Gumam nya dalam hati.


“Mas percayakan sama aku?”


“Aku selalu percaya sama kamu, tapi engga sama kunyuk satu itu” Jawab nya dengan nada yang mulai rendah dan bersahabat.


“Mas,Reno itu teman ku dari kami SMA, sudah ya mas lepaskan Reno”


“Tidak mau”


“Mas”


“Tidak”


“Mas ayo lah”


“Sekali tidak tetap tidak”


“Baiklah jika mas tetap begitu” Ucap Nadia dengan nada merajuk.


Dret.. Dret.. Dret… Ponsel Gilang bergetar, terlihat lah nama Asisten Hen di layar ponsel nya.


Gilang : Ya Hen.


Asisten Hen : Anda di mana bos?


Gilang : Saya akan ke sana sebentar lagi.


Asisten Hen : Baik bos.


Tuut… Sambungan pun di putus.


Keheningan pun menyelimuti Gilang dan Nadia. Mereka sama sama diam, Nadia yang tengah merajuk dan Gilang yang masih dengan amarah nya.


Ckiiit… Mobil Gilang pun terhenti di depan rumah Nadia. Nadia pun turun tanpa mengucapkan satu kata pun. Gilang yang telah melihat sang tunangan masuk ke dalam rumah, langsung menancap gas nya untuk ke tempat yang sudah di tentukan. Tanpa Gilang ketahui bahwa kini Nadia mengikuti nya dari belakang.


Flashback on


Ketika Gilang telah selesai dengan Ponsel nya, Nadia pun langsung bertekad untuk mengikuti Gilang. Karena Nadia yakin yang tadi menghubungi Gilang adalah Asisten Hen.


Setelah turun dari mobil Gilang, Nadia pun berjalan ke dalam rumah nya, ketika Nadia mendnegar suara mobil Gilang yang sudah tidak ada lagi di depan gerbang, Nadia pun langsung berlalri ke pafrkiran dan langsung mengejar mobil Gilang.


“Kamu mau kemana Nadia?” Tanya Ayah.


“Nadia ada keperluan mendadak yah. Nadia pergi dulu ya”


“Yaudah hati-hati”


“Iya yah”


Flashback off


***


“Selamat datang bos” Sapa Asisten Hen.


“Ya”


“Dimana dia?” LAnjut Gilang.


“Di sebelah sana” JAwab Asisten Hen dengan menunjuk ke arah ruangan tersebut. Setelah mendapatkan jawaban dari sang Asisten, Gilang pun langsung berjalan kearah ruangan tersebut.


***


“Tempat apa ini?” Monolog Nadia, ketika melihat bangunan tua yang sudah usang. Nadia pun turun dari mobil nya dan berjalan secara mengendap-ngendap.


“Bagaimana cara nya aku masuk? Banyak pengawal di depan pintu masuk itu” Monolog nya lagi. Nadia pun terus memikirkan jalan keluar nya agar bisa masuk ke dalam gedung tua tersebut, tanpa Nadia sadari, sudah ada satu pengawal yang melihat Nadia dari kejauhan.


“Sst.. Ssst.. Heh bro” Ucap salah satu pengawal itu.


“Apaan si lu?”


“Lu liat ga?”


“Kaga”


“Bodoh, gua belom beres ngomong”


“Yaudah apaan?”


“Tuh lu liat, bukan nya itu nona muda Kayla?”


“Mana?”


“Tuh”


“Iya, itu nona muda Kayla”


“udah cepet kita laporin ke Asisten Hen”


“Yaudah sana, gua jaga sini, takut takut nona muda kenapa-napa”


“Oke”


Salah satu pengawal itu pun masuk dan menghampiri Asisten Hen.


“Asisten hen” PAnggil nya.


“Ada apa?”


“Ada nona muda Kayla tidak jauh dari depan pintu gedung tua ini”


“Apa?!!”


“Benar Asisten Hen”


“Biarkan nona muda masuk, buatlah seolah olah kalian lengah dan tidak melihat nona muda”


“Baik”


“Tapi tetap kau awasi nona muda, jangan sampai kenapa-napa”


“Baik Asisten Hen”


Pengawal tersebut pun kembali lagi ke tempat nya dan Asisten Hen pun mendekat ke arah Gilang untuk memberitahukan bahwa ada nona muda nya itu.


“Maaf bos, di depan ada nona muda Kayla”


“Hah apa.. Kayla ada disini?”


“Iya bos, nona muda ada disini”


“Bagaimana bisa?”


“Saya tidak tau bos”


“Lepaskan dia!” Titah nya kepada Asisten Hen.


“Apa bos, lepasin dia?” Tunjuk nya kepada Reno yang sudah babak belur oleh anak buah nya dan juga Gilang.


“Ya lepaskan dia. Ini hanya pelajaran ringan untuk nya, jika masih berani mendekati Kayla, langsung habisi saja dia”


“Baik bos” JAwab anak buah Gilang serempak.


Setelah memberikan perintah, Gilang pun keluar dari ruangan tersebut dan langsung duduk sembari menunggu sang tunangan masuk ke dalam gedung tersebut.


Tak lama terdengar orang yang sedang melangkah..


Dan


“Hay sayang” Sapa Gilang.