Nadia's Love Story

Nadia's Love Story
Hadiah



Vika pun di pindahkan ke ruang VVIP begitu juga dengan sang anak.


"Wah cantik sekali anak nya" Puji Kayla.


"Iya cantik kaya mamah nya" Jawab Rafel.


"Orang tua kamu sama Vika belum kesini?" Tanya Kayla.


"Masih di perjalanan" Jawab Rafel dan diangguki oleh Kayla.


"Siapa nama nya?" Tanya Kayla lagi, vika dan gilang hanya menjadi penonton dan pendengar sejati diantara mantan kekasih itu.


"Rasyafira Saputri"


"Wah nama yang bagus"


"Terimakasih"


Kayla dan Gilang pun mulai mencoel coel anak bayi Vika, sampai akhirnya anak vika nangis karena ingin meminta jatah makan nya (ASI) kayla, rafel dan gilang yang melihat itu pun tertawa bersama, dan akhirnya kayla dan gilang memilih untuk pulang karena waktu pun sudah sore.


***


“Sayang, sebelum ke hotel boleh engga kalau kita beli kado dulu untuk anak nya rafel dan vika” Kata Nadia kepada Gilang.


“Boleh, kamu mau membelikan apa?”


“Bagaimana perlengkapan bayi saja mas?”


Gilang pun berfikir “Hemm boleh juga. Yaudah kita ke tempat perlengkapan bayi yah”


“Oke mas”


“Asisten Hen, kita ke tempat perlengkapan bayi dulu”


“Baik tuan muda” Jawab asisten Hen.


Asisten hen pun mengendarai mobil nya menuju perlengkapan bayi yang terletak tak jauh dari rumah sakit. Tak lama Asisten Hen pun memarkirkan mobil nya di area parkir took perlengkapan bayi. Nadia dan Gilang pun turun dari mobil tersebut dan Gilang pun menggandeng tangan sang tunangan.


“Welcome to our shop, sir and miss” Sapa salah satu pelayan toko tersebut, Gilang dan Nadia pun mengangguk dan tersenyum dengan sapaan sang pelayan itu.


“Can I help you, miss?” LAnjut pelayan tersebut.


(Ada yang bisa saya bantu nona?)


“I want to see a baby carriage”


(Saya ingin melihat kereta bayi)


“Come with me, I'll show you”


(Mari ikuti saya, akan saya tunjukkan)


Nadia pun menggandeng tangan Gilang untuk mengikuti seorang pelayan tersebut.


“This is the stroller, miss”


(Ini kereta bayi nya nona)


Nadia pun melihat kearah beberapa kereta bayi yang ada di hadapan nya kini.


“Kita kapan membeli ini untuk si kecil sayang?” Bisik Gilang di telinga Nadia.


Blush.. Pipi Nadia pun bersemu merah “Apa sih mas” Jawab nya.


Gilang pun yang melihat itu terkekeh geli “Mas ih, udah jangan gitu” Kata nya ke Gilang sambil memukul tangan gilang


“Mas bagusan yang mana?” Tanya nya kepada Gilang sambil menunjuk kearah kereta bayi berwarna pink dan biru muda.


“Dua dua nya juga bagus sayang”


“Ih mas, aku bingung” Rengek nya.


“Apalagi aku sayang, aku ga ngerti sama yang kaya gini”


“Emmm… kalau yang aja gimana mas?” Tanya nya sambil menunjukk kea rah kereta bayi berwarna merah muda.


“Boleh, ini juga bagus sayang”


“Yaudah yang ini aja ya mas” Kata nya dan menganggukan kepala nya.


“I want this one” Kata Nadia sambil menunjukk kearah kereta bayi warna pink itu.


(saya mau yang ini ya)


“Fine, I'll prepare it”


“Oke”


Sambil menunggu si mba menyiapkan kereta bayi yang di pesan oleh Nadia, Nadia dan Gilang pun melihat lihat ke perlengkapan bayi lainnya.


“Lucu” Celetuk Nadia ketika melihat baju perempuan anak bayi.


“Iya sayang lucu”


“Mas mau punya anak berapa?”


“Sebanyak banyak nya”


“Dasar” Katanya, Nadia dan Gilang pun terkekeh geli.


Selang beberapa lama stollernya sudah di siapkan oleh pelayan tersebut.


“The stroller is ready, miss”


(Kereta bayi nya sudah siap nona)


“Okay, thanks”


“You are welcome”


“Mas ayo bayar”


“Iya sayang”


Gilang pun membayar stoller tersebut.


Setelah selesai dengan belanja nya, Nadia dan Gilang pun keluar dari toko tersebut.


“Asisten Hen, kita ke restoran terlebih dahulu”


“Baik tuan muda”


***


Keesokan hari nya sebelum pulang ke Indonesia. Nadia dan Gilang pun memilih untuk mampir ke rumah sakit tempat Vika melahirkan, sekalian untuk memberikan kado kepada anak nya dan memberikan surat undangan kepada orang tua baru itu.


“Hay sayang, aduh cantik nya aunty” uCap nya sambil mencium pipi Rasya.


“Iya aunty cantik” JAwab Vika dengan menirukan suara anak kecil.


“Aunty punya kado untuk kamu sayang” Kata nya kepada Vika.


“Mas kasih kado nya” Lanjutnya kepada sang tunangan nya itu.


“Ini vika” Kata Gilang sambil memberikan kado kepada Vika.


“Aduh jadi ngerepotin gini” Ucap Vika.


“Engga dong”


“Oya, sekalian aku mau kasih surat undangan pernikahan kita”


“Wah sebentar lagi dong”


“Iya, jangan lupa datang ya Vika”


“Aku usahakan ya Kay”


“Aku tunggu kehadiran kalian” Kata nya smabil memeluk Vika.


“Iya kay”


“Sayang ayo” Ajak Gilang.


“Kalian mau kemana?” Tanya Vika.


“Kami mau kembali ke Indonesia Vika. Aku dan Gilang pamit ya, salam untuk Rafel” Ucap nya.


“Kenapa cepat sekali?”


“Pernikahan kami sebentar lagi, dan Gilang juga banyak pekerjaan yang sudah ia tunda”


“Baiklah, aku memaklumi kalian”


“Yaudah kalau gitu kami pamit”


“Hati hati dan terimakasih untuk hadiah nya”


“Iya sama sama”