Nadia's Love Story

Nadia's Love Story
Cerita Sifa Hanin



"Ayo sini aku bantu duduk di kursi roda ya" Kata Nadia dan hanya di jawab anggukan dan senyuman saja oleh Gilang.


Nadia pun mendorong kursi roda itu menuju taman yang berada di rumah sakit itu. Banyak yang melihat ke arah mereka, karena mereka baru pertama kali melihat Nadia yang sedekat itu dengan seorang pria selain dengan kaka nya sendiri.


Nadia pun berhenti mendorong kursi roda itu setelah sampai di taman belakang, Nadia pun berjalan ke hadapan Gilang, dan duduk di bangku yang sudah tersedia di taman tersebut.


Dret... Dret... Dret... Ponsel Nadia bergetar tanda ada telpon yang masuk.


"Sebentar ya, aku angkat telpon dulu"


"Iya"


Via telpon


Nadia : Hallo ka?


Key : Kamu dimana?


Nadia : Aku di taman ka, lagi ngajak gilang keliling. Apa kaka udah di rumah sakit?


Key : Ya. Kaka udah di parkiran rumah sakit.


Nadia : Yaudah kaka ke ruangan ku aja. Ada Hanin di ruangan ku ka.


Key : Baiklah kalau begitu. Tapi kaka bawa makanan untuk makan siang.


Nadia : Boleh tuh. Yaudah kaka ke taman dulu ya bawa makanan nya hehe.


Key : Kamu tuh ya kalau ke makanan aja langsung nyamber.


Nadia : Iya lah ka harus.


Key : Yaudah kaka kesitu.


Nadia : Oke!!


Key pun mematikan telpon nya dan bergegas ke taman yang ada di rumah sakit itu. Nadia pun kembali menghampiri gilang yang sudah menunggu nya.


"Maaf lama, tadi kaka ku telpon katanya dia mau kesini"


"Oh iya gapapa ko"


"Apa kamu masih mau disini atau ke kamar?"


"Disini aja, aku merasa bosan saat berada di kamar"


"Baiklah kalau begitu. Aku akan menemani mu disini"


"Apa kamu engga sibuk?"


"Kalau ada panggilan urgent, hanin akan memberitahu ku"


"Baiklah kalau begitu"


"Ekhem...." Terdengar deheman dari sang kaka.


"Eh hehehe ada kaka. Sini ka"


"Maaf mengganggu waktu kalian. Bagaimana kabar nya pak gilang?"


"Jangan panggil pak, panggil saja gilang, ini kan sedang tidak berada di kantor"


"Baik lah kalau begitu. Bagaimana kabar mu gilang?"


"Saya sudah mulai membaik"


"Syukur lah kalau begitu. Oya Nad ini makanan untuk mu"


"Ah thank you so much kaka ku tersayang"


"Oke. Yaudah kaka ke ruangan mu ya"


"Oke ka. Semoga berhasil"


"Oke"


Key pun meninggalkan nadia dan gilang. Nadia pun menawarkan Gilang untuk makan bersama.


"Lang, mau makan enggak?"


"Engga. Makanan di sini ga enak"


"Haish, kita makan berdua aja kalau begitu, sini aku akan menyuapi mu"


"Apak aku boleh memakan itu?"


"Tentu"


"Yaudah kalau gitu aku mau"


Mereka berdua pun makan bersama seperti layak nya sepasang kekasih. Lain hal nya di ruangan Nadia yang penuh dengan rasa canggung dan tegang.


Flashback off


Setelah key meninggalkan nadia dan gilang, key pun berjalan cepat ke arah ruangan nadia. Dia pun mengetuk pintu ruangan tersebut. Tok... Tok.. Tok... "masuk" teriak dari seseorang yang sedang berada di dalam.


Keynan pun langsung masuk ke dalam ruangan Nadia. Dan taraaaaa betapa terkejut nya mereka berdua saat saling bertatap muka. Mereka memang tidak pernah bertemu tapi mereka memiliki perasaan yang kuat satu sama lain, dan karena itu mereka langsung meyakini bahwa yang di hadapan mereka adalah, orang yang sedang mereka cari dan nanti nanti kan selama ini.


"Siff.... Sifa"


"Key.. Keynan"


Ucap mereka secara bersamaan dan langsung memeluk satu sama lain.


"Apa kau benar sifa?"


"Iya aku sifa, lihat lah, aku masih memakai kalung dari mu key"


"Sungguh aku sangat bahagia melihat mu ada disini sif, aku sangat merindukanmu. Lihat lah aku, aku pun masih memakai gelang pemberian mu"


"Key aku sangat merindukanmu"


"Iya sif aku pun"


Kriyukkk... Suara perut dari sifa yang membuat mereka kembali tersadar dalam dekapan mereka masing-masing.


Key pun mengajak makan sifa terlebih dahulu, beberapa menit mereka selesai dengan menyantap makanan nya.


Flashback on


Disini dan di ruangan ini lah rasa canggung karena tidak bertemu selama beberapa tahun, membuat mereka harus mempertahankan rasa dari mereka masing-masing.


"Sif"


"Key"


Lagi-lagi mereka memanggil dengan bersamaan.


"Kamu duluan aja sif"


"Hemm. Key apa kamu masih menunggu ku?"


"Tentu. Aku ga akan pernah bisa ngelupain kamu sif. Aku berusaha buat lupain kamu tapi itu


semua ga bisa, nama mu selalu memenuhi otak dan pikiran ku"


"Apa kamu mencari aku selama ini?"


"Aku selalu mencari mu kemana-mana sif, tapi aku ga pernah dapet informasi apapun dari kamu"


"Maaf "


"Gapapa, yang terpenting sekarang kamu udah ada di depan aku. Aku ga nyangka kalau kamu adalah asisten pribadi dari adik ku"


"Apa dia Nadia gadis kecil yang selalu manja pada mu?"


"Yaa.. Kau benar sif, dokter kayla itu adalah gadis kecil yang sangat manja kepada ku"


"Sungguh aku ga nyangka banget kalau nadia bakal jadi atasan aku, dan dia berhasil menjadi dokter "


"Aku juga ga nyangka kalau dia bakal  berhasil menjadi dokter dengan cara nya sendiri"


"Aku bangga pada nya"


"Sekarang jawab pertanyaan ku sif"


Aapa yang mau kamu tanyain"


"Kemana aja kamu selama ini sif? Kenapa ga pernah kasih kabar ke aku?"


Deg... Deg... Deg... Jantung sifa berdegub kencang seperti ingin melompat dari tempat nya.


"A..... Aku.... Ada ko key. Aku sibuk banget disana jadi aku ga sempet untuk mengabari mu"


"Sungguh?"


"Ya"


"Apa kamu ga bohong sama aku?"


"Engga key"


"Ku rasa kamu lagi bohong sama aku sif"


".... "


"Ayo lah sif aku minta penjelasan kamu"


"Baiklah aku akan menceritakan semua nya sama kamu"


"Iya"


"Jadi, pas aku sama keluarga ku pindah ke negara Jerman hidup kami berubah, kami hidup dengan sangat


bahagia. Sampai akhirnya ada wanita lain yang masuk ke dalam keluarga ku, yang tak lain dan tak bukan itu adalah wanita simpanan ayah ku. Dia datang dengan perut buncit nya, dan membuat ibu ku terkejut dan terkena serangan jantung dan tak lama meninggal" Sifa pun mulai terisak. Key pun memeluk untuk menenangkan sifa.


"Ayah menikah dengan wanita itu, wanita yang cuma pengen harta ayah aja. Anak itu pun lahir dan di berinama Aresya Putri, semenjak anak itu lahir, ayah menumpah kan semua kasih sayang nya kepada anak itu, karena aku selalu di fitnah oleh istri muda ayah ku. Sampai pada malam itu aku di usir oleh ayah ku sendiri karena aku di tuduh telah membuat resya terluka. Aku pun keluar dari rumah itu dan mencari rumah untuk tinggal. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang kakek dan nenek-nenek, aku membantu mereka, dan aku pun tinggal bersama mereka. Sampai pada akhirnya mereka meninggal dan aku pergi dari kota itu, dan mencari pekerjaan di sini" Lanjut sifa.