
"Ekhem. Wangi nya enak banget nih" Ucap seorang pria yang baru saja datang memasuki meja makan.
Kayla yang mendengar ada suara pun menoleh, dan benar saja bahwa yang datang adalah sang kaka dna calon istri nya. Untung saja ia membuat banyak seblak nya.
"Ko pulang?" Tanya Nadia unfaedah.
"Kalau kaka ga pulang takut kamu kangen de" Jawab nya dengan pede.
"Cih" Kata Nadia.
"Wah ada seblak" Ucap Sifa.
"Iya sif, ayo di makan seblak nya, ini aku loh yang bikin. Aku buat banyak juga, ayo cobain sif" Kata Nadia.
"Oke" Kata sifa.
"Apaa itu de?" Tanya Keynan.
"Sejak kapan aku punya kaka tuli?" Tanya balik Nadia.
"Maksudnya gimana ya?" Tanya Keynan dengan menaikkan satu alis nya karena bingung.
"Ish, kaka ini itu seblak. S E B L A K, seblak" Kata Nadia.
"Seblak? Makanan apa itu?"
"Lah ini makanan nya ka, ada di depan kaka"
"Emang itu enak?"
"Yaudah cobain aja dulu"
"Oke"
Baru saja Keynan hendak menuangkan seblak nya kedalam mangkuk milik nya, suara nadia kembali menghentikan gerakan nya itu.
"Emang kaka sama sifa ga makan di luar?"
"Engga, ini bukti nya kaka makan disini"
"Kenapa emang?"
"Tuh sifa di ajak makan di luar ga mau" Jawab Keynan dan Kayla pun menatap Sifa.
"Pengen makan bareng bunda tadi nya, eh pas nyampe sini bunda nya ga ada" Jawab sifa.
"Oh gitu" Kata Kayla.
Mereka bertiga pun akhir nya makan siang dengan menggunakan seblak sebagai sayur nya.
Uhuk... Uhuk... Uhuk... Keynan tersedak ketika mencoba seblak buatan Nadia.
"Minum dulu" Ucap Sifa sambil memberikan gelas berisi air putih itu.
"Pelan pelan dong ka makan nya" Timpal Nadia.
"Ini seblak apa racun?" Tanya Keynan dan kedua wanita itu pun saling pandang sambil mengerenyitkan dahi nya karena bingung.
"Seblak lah ka" Jawab kayla.
"Kamu mau racunin kaka de?" Lagi lagi pertanyaan keynan membuat bingung Kayla.
"Maksudnya?"
"Ini seblak pedes banget heh" Jawab Keynan.
Kayla yang baru saja menyadari bahwa sang kak memang tidak suka pedas pun hanya menahan senyum nya saja.
Sebenarnya rasa seblak ini standar jika mereka mereka yang sangat menyukai pedas, tapi tidak dengan yang tidak menyukai pedas, ini memang sangat amat pedas di lidah mereka.
"Hehe maaf ka" Ucap kayla sambil nyengir kuda.
"Enak sih enak, tapi seblak nya gila ih serem"
"Yaudah kaka makan yang lain saja"
"Iya lah kaka makan yang lain, kalau tetep makan yang ini ga bakal bener"
"Hehe"
"Yaudah sifa, kita makan lagi" Ucap nya kepada sifa.
Mereka pun kembali melanjutkan makan nya yang sempat tertunda akibat perkara seblak dan racun.
***
Terlihat pemuda tampan yang sangat berkharisma baru saja turun dari jet pribadi nya. Siapa lagi kalau bukan Gilang dan sang asisten nya.
Jet pribadi milik Gilang pun baru saja mendarat 5 menit yang lalu di atap rumah sakit yang kini rafel tengah di rawat di sana.
Gilang pun langsung masuk ke dalam rumah sakit tersebut dan memasuki lift yang akan mengantar kan nya kepada Rafel. Tak lupa pula sang asisten yang setia di belakang nya.
Tok... Tok.. Tok.. Pintu di ketuk oleh Gilang.
Ceklek
Terlihat di dalam ruangan tersebut ada dua orang yang sedang memejamkan mata nya, hanya saja berbeda tempat. Jika Rafel berada di kasur pesakitan, lain hal nya dengan Aji yang tertidur di sofa ruangan tersebut.
"Saya akan siapkan 1 ruangan untuk anda beristirahat bos" Ucap sang asisten ketika melihat dua orang yang sedang memejamkan mata nya itu.
"Baik" Jawab Gilang dan kembali menutup pintu ruangan itu.
Baru saja hendak menutup pintu tapi ada suara yang dapat memberhentikan langkah nya.
"Tunggu" Suara parau dari pria yang sedang berbaring di ranjang pesakitan. Siapa lagi kalau bukan Rafel.
Gilang pun kembali membuka pintu tersebut dan melihat siapa yang menahan nya "Maaf jika aku mengganggu waktu istirahat mu" Cicit nya.
"Aku memang sudah bangun sejak tadi" Jawab nya.
Oh ya ampun ingin sekali Gilang mengumpat pria ini, apa yang dia katakan? Sudah bangun sejak tadi? Padahal jelas jelas bahwa diri nya melihat bahwa dia sedang memejamkan mata nya. Oke Waktunya untuk sabar!
"Baiklah" Jawab Gilang.
"Silahkan masuk" Ucap Rafel sambil mendudukan tubuh nya.
"Ji bangun Ji" Panggil Rafel kepada sahabat nya itu.
"Woy kupret Aji" Pekik nya.
Aji yang mendengar nada tinggi dari Rafel pun mengelisik tubuh nya, ia pun membuka mata nya secara perlahan.
"Loh siapa mereka? Sejak kapan ada disini?" Gumam nya dalam hati ketika melihat Gilang dan sang asisten berdiri di hadapan nya.
"Aji bangun, suruh mereka duduk. Mereka tamu" Ucap Rafel lagi.
"Eeeh iya sorry sorry. Silahkan duduk tuan tuan" Ucap nya sambil beranjak dari ke pewean nya di sofa.
Aji pun melangkah kan kaki nya untuk duduk di sebelah Rafel, sebelum ia duduk, Aji membenarkan ranjang Rafel terlebih dahulu agar Rafel duduk dengan nyaman.
"Baru aja gue merem udah ada lagi aja tamu nya, sepopuler apa sih si Rafel ini?" Gerutu nya dalam hati.
"Baik terimakasih" Ucap Gilang.
Gilang pun duduk di sofa tersebut tidak dengan sang asisten, ia lebih memilih untuk berdiri di pinggir sofa.
"Ada maksud apa anda datang kemari?" Tanya Rafel to the point.
"Hanya ingin tau tentang kondisi anda saja" Jawab nya.
"Saya sudah baikan, terimakasih sudah mau berkunjung" Ucap nya.
Aji yang memang tidak mengetahui akan h ini dia hanya mampu mendengar kan sambil menaikan satu alis nya dan mengeretnyitkan dahi nya saja.
"Kenal di mana?" Monolog nya dalam hati.
Rafel yang sedari tadi melihat ke arah sang sahabat pun memperkenalkan diri nya kepada Gilang, karena ia tahu isi otak sang sahabat nya itu.
"Ji kenalin, ini Gilang. Gilang kenalin ini Aji sahabat saya" Aji yang mendengar perkataan Rafel pun sontak membulatkan mata nya itu.
"Oh jadi ini yang namanya Gilang? Ganteng juga, holang kaya juga kayanya" Monolog nya dalam hati.
"Gilang" Perkenalan nya yang membuyarkan lamunan Aji.
"A... Aji" Jawab aji yang terkejut ketika Gilang memperkenalkan diri nya.
Keheningan melanda ruangan itu. Sampai akhir nya Gilang membuka suara nya kembali.
"Rafel bisa kita ngobrol secara empat mata saja?" Tanya nya dan di angguki oleh Rafel.
Aji dan sang asisten pun yang mendengar nya memilih untuk menunggu di luar ruang rawat inap Rafel.
"Saya menunggu di luar bos" Pamit nya kepada sang bos dan di angguki oleh Gilang.
"Gue keluar ya El" Pamit Aji kepada sang sahabat nya itu dan di angguki oleh Rafel.
Setelah Aji dan sang Asisten milik Gilang keluar. Rafel membuka suara nya terlebih dahulu.
"Apa yang mau kamu bicarakan kepada ku?" Tanya Rafel kepada Gilang.