Nadia's Love Story

Nadia's Love Story
Sadar



Tok... Tok.. Tok..


"Ka key Nadia mau masuk. Apakah kaka sedang sibuk?"


"Masuk saja"


Ceklek


"Kaka, nadia ingin bercerita"


"Apa?"


"Tapi Nadia ingin bertanya terlebih dahulu kepada kaka"


"Hem?"


"Apakah sifa sudah ada kabar ka?"


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang sifa?"


"Haish kaka ini, kalau nadia bertanya di jawab bukan malah balik tanya"


"Baiklah baik. Sampai sekarang kaka belum dapat informasi tentang dia"


"Apakah kaka masih akan menunggu dia?"


"Mungkin"


"Hem. Kak nadia memiliki asisten baru, nama nya hanin, ia lulusan dari salah satu universitas di negara Jerman"


"Negara Jerman?"


"Iya ka"


"Coba kaka ingin melihat orang nya, kamu memiliki foto nya tidak?"


"Tidak ka. Baru sehari bekerja tidak mungkin kan nadia minta foto"


"Ck. Kau ini"


"Dia sangat cantik loh ka. Dia disini tinggal sendiri. Eh tapi ya ka aneh nya dia memakai kalung liontin inisial huruf K. Terus pas aku tanyain kata nya itu kalung dari pria masa lalu nya yang sekarang masih dia tunggu"


"Apa?!!!"


"K... Kaka... Kenapa ko gitu? Nadia kan jadi kaget"


"Eh maaf sayang. Kaka terkejut saja"


"Kenapa memang? Apakah dia sifa?"


"Entah lah, kaka kurang yakin"


"Apa kaka mau bertemu dengan nya?"


"Besok kalau kaka tidak sibuk kaka akan ke rumah sakit"


"Baiklah"


"Yaudah kamu pergi tidur, sudah larut malam"


"Siap pak bos"


Nadia pun meninggalkan kamar kak key. Key yang di tinggal kan oleh nadia pun masih memikirkan apa yang tadi di cerita kan oleh adik nya.


"Apakah itu beneran kamu sif?"


"Kalau itu beneran kamu, apakah kamu tidak mengenal nadia?"


"Aaargh..."


.


.


.


.


Keesokan hari nya, nadia yang sangat sibuk mengurusi pasien nya yang datang silih berganti, ia sangat cantik dengan menggunakan jas kebesaran nya itu.


Di kamar VVIP terlihat raut wajah bahagia karena melihat keadaan anak nya yang sudah siuman 2 jam yang lalu. Siapa lagi kalau bukan kedua orang tua dari gilang.


"Mah.. Pah..."


"Iya nak?"


"Gilang ada di mana?"


"Kamu ada di rumah sakit nak sekarang"


Gilang pun tersadar dengan kejadian yang menimpa nya.


"Lang, kamu tau ga siapa dokter yang nanganin kamu?"


"Engga lah mah, aku kan baru sadar sekarang"


"Hehe iya juga ya"


"Iya lah"


Ceklek


"Eh riko"


"Apa riko ganggu tante sama om?"


"Oh engga ko rik. Masuk aja"


"Makasih tan"


Riko pun mendekat ke arah gilang dan memeriksa keadaan gilang.


"Lo makin membaik bro. Tetap jaga kesehatan elo ya biar cepet pulang"


"Yoi"


"Nak riko, boleh tante minta tolong?"


"Ah iya tante boleh. Tante mau minta tolong apa ya?"


"Tante sama om mau pulang dulu, nanti kami akan kesini lagi. Apakah nak riko bisa menemani gilang?"


"Baik tante, riko akan menjaga gilang disini"


"Yaudah kalau begitu tante titip gilang ya riko"


"Iya tante"


"Iya mah"


Kedua orang tua gilang pun pergi meninggalkan rumah sakit, di koridor rumah sakit mama nya gilang melihat nadia yang sedang berjalan ke arah nya, karena nadia ingin menjenguk gilang.


"Eh bu dokter"


"Eh iya tante, tante panggil saja saya kayla, saya tidak enak di panggil seperti itu" Sapa nadia sopan. "Tante sama om mau kemana ya?" Lanjut nadia.


"Ah baiklah kayla"


"Ini om sama tante mau pulang dulu kerumah. Kebetulan gilang sudah siuman 1 jam yang lalu, sekarang udah ada riko yang menemani gilang, jadi om dan tante pulang dulu" Jelas papa gilang.


"Oh gitu ya om, yaudah kalau begitu om dan tante hati-hati ya"


"Baiklah kayla, tante dan om pamit permisi dulu ya nak. Tante titip gilang sama kamu ya"


"Oh iya tan baik saya akan menjaga gilang"


"Yaudah tante permisi dulu"


"Iya tante"


Kedua orang tua gilang pun melanjutkan perjalanan nya menuju rumahnya. Dan Nadia kembali memeriksa pasien yang baru saja tiba di rumah sakit.


Di kamar VVIP


"Gue bersyukur banget lo masih bisa selamat"


"Gue juga ga nyangka masih bisa selamat"


"Gimana tadi nya sih lo bisa sampe kecelakaan begitu?"


"Gue gatau juga rik, kaya nya ada yang engga beres deh sama kecelakaan itu. Gue harus cari tahu"


"Iya nanti lo cari tahu kalau lo udah sembuh total, sekarang lo harus istirahat dulu"


"Gue bosan tiduran terus"


"Terus lo mau apa?"


"Mau dugem"


"Si koplak"


"Serius gue"


"Lo tau ga sih betapa khawatir nya si kayla pas dia tau elo yang dia tangani pas operasi"


"Jadi dia yang oprasi gue?"


"Iya, dia yang nanganin elo. Kata asisten pribadi nya sih, dia sempat shock dan sempat histeris pas tau lo hampir kehilangan nyawa lo"


"Serius lo?"


"Iya gue serius. Malahan setiap dia tugas nih ya, dia suka sempet-sempetin waktu biat jenguk lo"


"Apa dia udah mulai buka hati ya sama gua?"


"Mungkin. Gue ga begitu tau juga sih"


"Apa jangan-jangan yang di tanyain sama nyokap gua itu si kayla?"


"Maksud lo?"


"Iya tadi nyokap gue ngomong kata nya siapa dokter yang nanganin gue"


"Oh iya mungkin si kayla kali. Soalnya kan dari pas pertama kali lo di rumah sakit yang nanganin elo si kayla"


"Betah ini gue lama-lama disini kalau begini"


"Yee ke enakan elo itu mah"


Sedang asik bercengkrama, terdengar suara ketokan pintu dari luar. Tok... Tok... Tok.. Ceklek


"Permisi"


"Eh ada dokter kayla"


"Eh iya dokter riko. Apakah saya mengganggu kalian?"


"Ah engga ko dok, kebetulan anda disini, saya mau ada urusan dulu sebentar. Apakah saya bisa menitip kan pasien ini dengan bu dokter?" Alasan riko.


"Hem... Baiklah dokter riko, saya akan menjaga pasien ini" Jawab nadia yang membuat gilang senang.


"Yasudah kalau begitu saya permisi dulu ya bu dokter"


"Iya dokter riko"


Riko pun meninggalkan nadia dan gilang dalam satu ruangan. Hanya keheningan yang terjadi di ruangan itu, karena mereka berdua merasa canggung. Sampai akhir nya nadia membuka suara nya.


"Hem... Gimana keadaan kamu?"


"Eh eh dia manggil gue dengan sebutan 'kamu' asik peluang besar" Gumam gilang sambil tersenyum.


"Kata riko aku sudah baikan ko"


"Oyasudah kalau begitu, lekas membaik ya, jangan betah-betah disini, disini ga enak"


"Enak ko"


"Enak?" Tanya nadia sambil mengerenyitkan dahi nya.


"Iya enak, bisa di tengokin kamu terus"


"Ish apa sih, malesin banget"


"Hehe sorry sorry. Gue bosen nih disini, gue bisa keluar engga?"


"Bentar ya, aku periksa dulu"


"Oke"


5 menit kemudian..


"Boleh, kamu boleh keluar, tapi harus pakai kursi roda biar engga terlalu cape"


"Hem... Kamu mau nemenin aku engga kay?"


"Boleh"


"Baiklah"


"Yaudah aku ambil kursi roda nya dulu ya"


"Iya bu dokter "