Nadia's Love Story

Nadia's Love Story
Cemburu Seorang Gilang



Seminggu sudah Gilang berada di London untuk melihat keseharian dari wanita pujaan nya itu. Kini ia sedang tengah bersiap untuk kepulangan nya nanti malam dengan menggunakan Jet Pribadi nya dan sebelum ia menguntit kembali sang pujaan nya sebelum ia kembali ke Indonesia.


"Asisten Hen siapkan keberangkatan saya nanti malam" Ucap nya melalui sambungan telpon.


"Siap bos" Jawab sang asisten.


Setelah mendengar jawaban dari sang asisten nya pun Gilang langsung mematikan sambungan telpon nya.


***


Berbeda hal nya dengan Nadia. Kini Nadia sedang menikmati masa-masa menjadi dokter baru di rumah sakit ternama di London dengan masih bersemangat 45 dalam bekerja, sifa pun sampai geleng-geleng ketika melihat semangat yang sangat tinggi yang di miliki oleh Nadia.


"Nanananananana..." Senandungan Nadia ketika sedang berada di ruangan nya sambil melihat daftar pasien yang akan ia periksa hari ini.


"Hem hem hem hem hem..." Lagi lagi senandungan Nadia terdengar oleh Sifa.


Tak lama Nadia berbicara kepada Sifa.


"Hanin" PAnggil nya.


"Ya?" jawab nya.


"Kamu ngerasa seneng ga sih kita di pindah tugasin ke rumah sakit ini?"


"Biasa aja sih Kay kalau aku mah. Kalau kamu? Kaya nya sih kamu mah seneng banget ya?"


"Ko kamu tau sih Han? Ketauan banget ya?"


"Hehe iya, soal nya kamu itu dari hari pertama kita tugas di sini sampe sekarang kamu itu kaya yang suka banget gitu loh"


"Iya emang suka banget"


"Iya deh percaya aku tuh"


"Yaudah yuk kita kembali tugas"


"Oke"


Mereka berdua pun keluar dari ruangan nya dan berjalan menuju ruang rawat inap pasien.


"Itu siapa ji? Tanya Rafael ketika melihat Nadia dan sifa melewati mereka.


"Dokter sama asisten yang baru, baru aja seminggu kerja di sini"


"Oh"


"Lo ko gatau sih?"


"Yeh si dodol, emang lo lupa, seminggu kemaren kan gue ada tugas ke rumah sakit laen"


"Iya juga, gue lupa"


"Heeeu dasar, yaudah lah kita kerja lagi"


"Yoman"


"Akhir nya gue ketemu juga sama cewe yang kaya nya bisa naklukin hati si gunung es ini deh" Gumam Aji dalam hati sambil tersenyum.


"Kenapa lo?" Tanya Rafel ketika melihat sahabat nya itu senyum senyum sendiri.


Di rumah sakit itu memang hanya mereka berdua saja yang asli Indonesia, maka dari itu mereka bisa seakrab layak nya keluarga.


***


"Udah selesai, waktu nya gue ke rumah sakit buat liat wanita pujaan hati gue" Gumam Gilang dalam hati sambil senyum senyum seperti orang yang kurang waras.


"Hykaila Nadia Kamil i'm coming" Teriak Gilang dengan bersemangat.


Gilang pun langsung menyambar kunci mobil nya dan bergegas kerumah sakit tempat Nadia bertugas.


***


Tok.. Tok... Tok...


Ceklek


"Permisi dok, ada pasien yang harus di tangani"


"Loh, ini bukan jadwal saya"


"Iya dok. Dokter sudah di tunggu, di sana sudah ada dokter Kayla"


"Baiklah" Jawab dokter tersebut sambil melangkah kan kaki nya menuju ruang operasi.


Dokter Rafel pun melangkah kan kaki nya dengan sangat cepat karena ia sudah di tunggu oleh dokter dan perawat lain nya.


Ceklek.. Pintu di buka oleh dokter Rafel.


"Ada masalah apa?" Tanya Rafel dan di jelaskan oleh Nadia.


"Baiklah, mari kita mulai" Ucap rafel dan mereka semua yang ada di situ pun bersiap untuk memulai operasi nya.


***


"Kita ke restoran yang ga jauh dari rumah sakit aja yuk Han" Ajak Nadia.


"Ayo kay" Jawab Sifa.


Nadia dan sifa pun pergi ke restoran yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut.


***


Restoran


Setelah mereka berdua sampai di restoran yang sudah di sepakati mereka pun memesan makanan untuk di santap.


Tak lama pesanan mereka pun sampai dan langsung menyantap nya.


"Permisi, kita boleh ikut gabung engga?" Tanya Dokter Aji yang sama sama bertugas di rumah sakit yang sama dengan Nadia.


"Eh iya dok boleh ko" Jawab Nadia karena memang sudah kenal dengan dokter Aji.


Dokter Aji dan Rafel pun duduk bersama dengan Nadia dan juga Sifa. Sebenarnya Rafel tidak ingin duduk bersama dengan Nadia dan Sifa, karena itu paksaan dari Aji dengan berkilah 'Meja penul el udah si ayo kita bareng mereka aja'


Flashback on


"Mau makan apa lo el?" Tanya Aji kepada Rafel ketika Aji sedang berada di ruangan Rafel.


"Bebas"


"Yaudah ayo kita ke restoran dekat rumah sakit ini" Ajak Aji, karena Aji tadi mendengar sedikit obrolan dari sifa dan juga Nadia.


Setelah sampai di restoran yang di pinta oleh Aji.


"El lo yang pesen gue yang cari tempat duduk" Pinta Aji.


"Oke" Jawab Rafel tanpa adanya rasa curiga padahal maksud Aji adalah mencari tempat duduk yang di duduki oleh Nadia dan juga Sifa. Ah bisa ae nih si amang Aji.


"Woy udah dapet belom lu tempat duduk nya? Ko kaga duduk duduk sih" Ucap Rafel setelah selesai memesan makanan untuk mereka.


"Eh iya, gue liat liat kaya nya penuh deh. Tapi kita masih bisa duduk tapi satu meja sama dokter Kayla, gimana?" Kilah nya.


"Ogah ah. Ji liat itu masih banyak yang kosong Ji"


"Itu udah di booking el" Bohong Aji.


"Masa sih Ji? Coba gue tanya dulu deh"


"Eeeeeeh jangan El, tadi gue udah nanya soal nya" Tahan Aji dengan dada yang sudah beremuruh takut ketauan bohong.


"Terus?"


"yaudah lah ayo kita duduk sama mereka aja gapapa ga usah malu"


"Ck"


"ayo" Ucap Aji sambil berjalan ke arah meja Nadia.


Flashback off


Dan di sini lah, di tempat yang sama sudah seperti pasangan kekasih saja.


Sedang asik makan, tiba-tiba Nadia tersedak.


Uhukk... Uhukk... Uhuk...


Dengan sigap Rafel langsung memberikan air minum kepada Nadia dan nadia pun langsung mengambil nya tanpa melihat siapa yang memberikan air minum itu. Dan itu pun tak lepas dari penglihatan Aji, Sifa dan juga satu pria yang sedari tadi sudah terbakar api cemburu siapa lagi kalau bukan Gilang.


"Makasih Han" Ucap Nadia kepada hanin.


"Bukan aku yang kasih air minum itu Kay"


"Loh terus siapa?"


"Dokter Rafel"


"Eh... Makasih ya dok" Ucap nya sambil tersenyum.


"Iya sama-sama" Jawab nya sambil emmbalas senyuman Nadia.


"Ekhem" Deheman dari Aji ketika mereka berhenti dalam satu tatapan yang sangat intens.


Mendengar deheman dari Aji, Nadia dan Rafel pun tersadar dan langsung memalingkan wajah nya karena malu.


***


Di tempat yang sama di meja yang berbeda terlihat ada seorang pria gagah sedang mengepal kan tangan nya karena merasa sangat marah kepada pria yang sedang bertatap mata dengan wanita pujaan nya itu, siapa lagi kalau bukan Gilang.


Gilang yang memang sedari tadi sudah memperhatikan gelagat dari mereka berdua merasa sangat kesal dan marah.


"Brengsek" Umpatan nya.


"Sial" Umpat nya lagi.


Gilang pun langsung meninggalkan restoran tersebut dan memilih untuk langsung kembali terbang ke Indonesia.