
"Ada yang ingin aku bicarakan kepada mu vika. Mandi lah terlebih dahulu, nanti kamu temui aku di ruang kerja ku"
"Baik mas"
"Yaudah, aku sudah selesai sarapan nya, aku akan ke ruang kerja ku"
"Baik mas. Nanti vika akan ke ruang kerja mas" Ucap nya dan lagi lagi hanya di jawab anggukan saja oleh Rafel.
Setelah selesai dengan ritual mandi nya, vika pun pergi ke dapur terlebih dahulu untuk membuat kan segelas kopi dan di berikan nya kepada sang suami. Setelah siap, ia pun melanjutkan langkah kaki nya untuk menuju ruang kerja suami nya itu. Dengan langkah pasti dan degupan jantung yang tak karuan, akhirnya vika pun sampai di depan ruang kerja suami nya itu.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk" Teriak rafel dari dalam.
Ceklek... Terlihat lah rafel yang masih berfokus dengan layar monitor yang ada di hadapan nya itu.
"Mas ini aku bawakan kopi untuk kamu" Ucap nya sambil menyodorkan kopi yang sudah ia buatkan.
"Terimakasih. Duduklah" Titah nya dan diangguki oleh vika.
"Apa yang mau mas bicarakan kepada ku?" Tanya nya setelah duduk di hadapan sang suami nya itu.
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut istri nya itu, rafel pun memilih untuk menyudahkan pekerjaan nya dan lebih memilih untuk menatap wanita yang sudah berada di hadapan nya itu.
"Dengarkan aku baik baik vika"
"Iya mas, akan vika dengarkan dengan baik"
"Hemm... Aku ingin kamu dan aku bertemu dengan Kayla" Ucap nya.
Deg..
"Akan terjadi apa nanti?" Gumam Vika dalam hati.
"Baik mas, kira kira kapan mas akan mengajak ku untuk bertemu dengan Kayla?" Tanya nya sambil menetralkan perasaan nya itu.
"Minggu depan, bagaimana?"
"Baik, aku mengikuti saja mas"
"Kamu tidak keberatan kan?"
"Tapi tolong jangan beritahu siapapun akan hal ini ya vik, bilang saja jika kita akan berbulan madu"
"Baik mas, vika paham. Kira kira berapa hari kita disana mas?"
"3 hari saja. Satu hari untuk bertemu dengan kayla, dan 2 hari aku akan mengajak mu keliling London"
Mendengar perkataan dari sang suami, tak menampik rasa bahagia yang tertanam dalam hati. Tak mampu menahan rasa bahagia, rona merah pun keluar dari wajah imut istri nya itu, seperti habis mendapatkan sebuah hadian dari lotre.
"Hanya itu, aku akan mempersiapkan semua nya di sana" Ucap Rafel.
"Baik mas, vika juga akan mempersiapkan keperluan mas dan vika ketika di sana nanti"
"Iya"
Setelah kepergian vika, Rafel pun mengambil ponsel nya untuk menghubungi sang sahabat baik nya itu, siapa lagi kalau bukan Aji.
Ya.. Semenjak pernikahan nya dengan vika, rafel tak begitu di perketat pengawasan nya oleh sang mama. Rafel pun di izinkan untuk menyimpan nomor teman teman nya itu.
Via telpon
Rafel : Hallo ji.
Aji : Iya el, kenapa?
Rafel : Minggu depan gue bakal ke London sama vika.
Aji : Ngapain?
Rafel : Gue mau ketemuin Vika sama Kayla ji.
Aji : Apa lo yakin el?
Rafel : Ya, gue yakin ji. Bagaimana pun juga Kayla harus tau gue udah nikah ji, kasian Kayla gitu gitu juga dia masih jadi tunangan gue ji. Apa lo denger kalau Kayla deket sama cowo ji? Engga kan?
Aji : Iya juga si el. Yaudah nanti gue siapin semua keperluan lu selama disini el.
Rafel : Makasih ya ji.
Aji : Iya el.