
Asisten Hen pun menghubungi sang bos untuk memberitahukan bahwa dia sedang berada di jalan untuk ke rumah sakit sekarang.
Asisten Hen : Hallo bos.
Gilang : Ada apa?
Asisten Hen : Saya sekarang sedang berada di jalan akan ke rumah sakit untuk memebritahukan informasi yang saya dapatkan mengenai kedua orang yang menembak Rafel.
Gilang : Baiklah.
Tuut.. Panggilan pun di putus oleh Gilang. Asisten Hen pun kembali menyimpan ponsel nya di balik jas nya itu.
***
DI rumah sakit
Gilang masih setia menemani sang wanita pujaan nya itu yang sekarang sedang mengkhawatikan pria lain. Gilang masih mampu untuk menahan gejolak rasa cemburu nya kepada sang pria tersebut. Gilang masih normal untuk memaki dan mengumpat nya, karena ia masih tau dan masih melihat bahwa pria tersebut masih di tangani oleg dokter di ruang operasi.
"Kay kita makan dulu ya" Bujuk Gilang ke sekian kali nya.
"Engga, aku mau di sini aja nunggu Rafel" Lagi dan lagi Kayla menolak ajakan dari Gilang.
"Kay, apa kamu mau Rafel sedih ketika dia membuka mata nya, malah kamu yang terbaring sakit di rumah sakit yang sama dengan nya?" Kini ucapan Gilang bisa di cerna dengan baik oleh kayla.
"Baiklah" Sebuah keputusan akhir dari Kayla.
"Yaudah ayo kita ke kantin rumah sakit aja ya. Percayakan semua nya kepada dokter yang ada di sini" Ucap Gilang sambil merangkul tubuh Kayla.
"Iya" Jawab Kayla.
Gilang dan Kayla pun melangkah kan kaki nya menuju kantin rumah sakit itu.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Gilang setelah sudah sampai di kantin.
"Apa saja. Sama kan saja dengan mu" Lanjut nya lagi.
"Baiklah" Ucap Gilang.
Gilang pun ikut duduk ketika sudah selesai memesan makanan nya.
"Apa kamu ga kabarin kaka kamu kay?" Tanya nya sambil menunggu pesanan mereka tiba.
"Nanti saja"
"Baiklah"
Tak lama pesanan mereka pun sampai, mereka pun memakan nya, Gilang memakan makanan itu dengan lahap tapi tidak dengan kayla. Kayla merasa makanan itu sangat lah hambar di mulut nya, entah karena memang benar makanan itu tak enak, entah karena memang ia tidak nafsu untuk makan.
"Makan lah makanan mu Kay, habiskan" Ucap Gilang ketika melihat makanan Kayla masih terlihat sangat banyak.
"Aku tak nafsu makan Lang"
"Mau aku suapi?"
"Tidak"
"Yasudah kau makan lah"
"Iya" Pasrah nya, dari pada ia harus di suapi oleh Gilang.
Akhir nya Kayla pun mampu menghabiskan makanan nya itu walaupun dengan rentan waktu yang bisa di bilang cukup lama.
Dret.. Dret.. Dret... Ponsel milik Gilang bergetar. Gilang pun mengambil ponsel nya dan melihat nama yang berada di layar ponsel nya itu. Tertera jelas nama sang asisten yang menghubungi nya. Ia pun langsung mengangkat telpon tersebut.
Gilang : Ada apa?
Asisten Hen : Saya sudah ada di rumah sakit bos, dan tadi dokter Satria berpesan kepada saya bahwa anda dan nona Kayla di tunggu di ruangan nya sekarang bos.
Gilang : Baiklah saya akan kesana.
Tuut.. Panggilan pun di putus oleh Gilang.
"Ada apa?" Tanya Kayla kepada gilang setelah Gilang mengakhiri panggilan nya.
"Kita di tunggu di ruangan nya dokter Satria sekarang"
"Yaudah ayo kita kesana sekarang"
"Ayo"
Mereka berdua pun berjalan dengan tergesa gesa sambil menerka nerka apa yang terjadi dengan rafel.
***
tok.. Tok.. Tok..
Ceklek
"Excuse me" Ucap Gilang setelah sampai di dalam ruangan dokter Satria.
Dokter Satria yang melihat itu pun menengok ke arah suara tersebut dan langsung menyuruh mereka untuk duduk.
"Please, sit"
"Okay, thanks"
"What's wrong, Satria, how come you called us?" Lanjut Gilang.
"I have something to tell you about the patient"
"What's up with him?" Tanya Kayla dengan dada yang sudah bergemuruh.
"Is there a family?"
"I am a doctor patient lover"
"Oh Okay"
"Will you be able to accept all of this?"
Deg..
Jantung Kayla seketika berhenti mendadak mendengar pertanyaan tersebut. Air mata nya sudah tidak bisa ia tahan lagi.
"Is there a serious problem?" Tanya Gilang sambil menggenggam tangan Kayla seraya menenangkan.
"Yes"
"What's the problem?"
"The bullet nearly hit the patient's heart, just a little more, the bullet had pierced the patient's heart. Currently the patient is in a coma."
"Is it coma doc?" Ucap Kayla dengan terkejut.
"That's not possible, doc?" Lanjut Gilang.
"This is the reality. I'm sorry, I tried my best."
"Until when?"
"We'll wait in a week. If within that time the patient still does not wake up then sorry we are forced to remove the breathing apparatus"
"Okay then we'll excuse me"
"Okay"
Gilang dan Kayla pun keluar dari ruangan tersebut dengan gontai. Karena mereka merasa sangat kaget dengan apa yang di tutur kan oleh dokter Satria tadi.