
Aji yang mendengar kabar bahwa sang sahabat sudah sadar pun segera menemui sang sahabat nya itu. Ia pun ikut mendorong brankar yang berisi tubuh sang sahabat ketika melihat brankar sang sahabat nya di keluarkan dari ruang ICU, karena Rafel akan di pindahkan ke ruang yang sudah di siapkan oleh Frans dan perawat lain nya.
"Elo" Ucap Rafel lemah ketika melihat sang sahabat ada bersama nya.
"Sssst.. (Ucap Aji memberikan isyarat agar Rafel harus diam terlebih dahulu) gue butuh penjelasan lo nanti. Sekarang lo diem dulu aja" Bisik Aji kepada Rafel, dan Rafel pun hanya menganggukan kepala nya lemah.
Sepanjang brankarnya di dorong, Rafel melihat ke sekeliling nya ia merasa heran karena ia tidak mengenali keberadaan nya saat ini.
"Ko tempat nya asing?" Gumam nya dalam hati.
"Dan, ya gue tau dia kan Dokter Frans, dokter spesialis bedah yang paling bagus bisa di bilang dia setara dengan Kayla. Kenapa bisa ngerawat gue? Kenapa ga Kayla aja?" Gumam nya lagi dalam hati ketika melihat bahwa ada dokter Frans yang ikut mendorong brankar milik nya.
***
Di London
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk" Teriak Gilang yang sedang menyesap kopi kesukaan nya sambil melihat kota London dari balkon apartemen nya.
Ceklek..
"Selamat pagi bos, saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting bos" Terobos Asisten Hen ketika sudah masuk ke dalam kamar sang bos.
"Katakan"
"Tuan Rafel sudah sadar bos, dari 2 jam yang lalu" Ucap asisten Han yang mampu memberhentikan sesapan nya kepada kopi nya itu.
Gilang pun menyimpan kopi nya kembali ke atas meja "Bagus lah jika dia sudah sadar. Apakah dia sudah tau dimana keberadaan nya saat ini?"
"Belum bos, dia belum sepenuhnya mengetahui, tapi dia sudah mulai merasa asing dengan tempat nya sekarang"
"Baiklah, biarkan dia istirahat dulu sebelum kita kesana mengunjungi nya"
"Baik bos"
"Kau bisa keluar"
"Baik, saya permisi dulu bos" Pamit nya dan di angguki oleh Gilang.
"Bagaimana kisah mu selanjutnya Rafel" Gumam Gilang sambil memikirkan ke depan nya akan seperti apa.
***
Singapore
Setelah selesai Rafel pun di biarkan istirahat dengan di temani oleh Aji, kedua orang tua Rafel kembali ke rumah nya itu pun atas titahan dari Aji, karena dari kemarin mereka belum istirahat sedikit pun, terus saja menunggu sang anak untuk sadar. Setelah sadar dan di nyatakan baik baik saja, Aji pun membujuk kedua orang tua Rafel untuk beristirahat sejenak di kediaman mereka, biar Rafel diri nya yang menjaga nya, bahkan Frans pun baru bisa pulang hari ini.
"Ji" Panggil Rafel ketika sudah bangun dari istirahat nya itu.
Sebenarnya Rafel tidak benar benar istirahat karena memang hati nya sangat gusar tidak melihat sang pujaan nya berada di sisi nya saat ini.
Aji yang merasa ada yang memanggil nya pun melihat ke sekeliling dan benar saja, bahwa Rafel berusaha untuk bangun dari duduk nya, ia pun langsung mendekat ke arah sang sahabat baik nya itu.
"Eeeeh lo ga boleh bangun dulu, tidur lagi, biar kasur nya yang gue taikin sedikit biar lo nyaman" Titah nya dan Rafel pun mengikuti kemauan sang sahabat nya itu.
"Segini udah?" Tanya nya kepada Rafel sambil membenarkan kasur nya itu.
"Sedikit lagi"
"Segini?"
"Iya udah" Jawab Rafel.
Aji pun duduk di kursi sebelah Rafel yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
"Apa yang elo rasain El? Apa udah agak enakan?" Tanya Aji.
"Iya"
"Gue dimana?" Lanjut Rafel.
"Ko gue asing ya sama tempat ini Ji?" Lanjut nya lagi sambil melihat ke sekeliling nya.
"Lo di Singapore" Jawab Aji membuat Rafel membulatkan mata nya karena terkejut.
"Si... Singapore?" Tanya nya tidak percaya.
"Iya Singapore, tempat orang tua lo berada sekarang"
"Sejak kapan?"
"Kemarin"
"Yang gue denger si gitu El, soalnya gue juga tau tentang keadaan lo pas nyokap lo ngehubungin gue pake nomor lo, gue shock pas denger lo kaya gitu, dan yaaa... Gue akhirnya ikut kesini buat ngerawat lo"
"Kerjaan lo?"
"Gue di izinin, yaa anggap aja gue dokter yang di sewa sama nyokap lo buat ngurusin lo sama kaya dokter Frans"
"Apa dokter Frans juga di panggil sama mama gue?"
"Ya"
"Terus Kayla mana Ji? Dia ga ikut kesini?"
"Haaaah" Aji membuang nafas nya ketika mendengar pertanyaan Rafel.
"Kenapa lo? Apa yang terjadi sama Kayla? Apa Kayla terluka juga Ji? Setau gue dia ga kenapa-napa Ji?"
"Sebenarnya apa yang terjadi antara lo dengan Kayla El?"
"Maksud lo?"
"Nyokap lo ngelarang Kayla buat ketemu lo lagi"
"Apa lo bilang?" Ucap Rafel terkejut.
"Ya...
Aji pun menceritakan apa yang dia bicarakan oleh mama Rafel.
"Ini bukan salah Kayla Ji"
"Maksudnya gimana si El, gue bingung deh serius"
"Jadi gini Ji...
Rafel pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan juga Kayla, dari pertama dirinya adalah sepupu dari mantan Gilang sampai ia terkena tembakan.
"Oh jadi gitu" Ucap Aji sambil manggut manggut ketika mendengar kan cerita dari Rafel.
"Pantes dia ga ada di sini Ji" Ucap Rafel.
"Apa lo udah hubungi dia Ji?" Tanya nya kepada Aji. Dan Aji hanya menggelengkan kepala nya saja menandakkan bahwa diri nya belum memberitahu kan tentang keadaan Rafel kepada Kayla.
"Hubungi dia Ji, dia pasti khawatir Ji. Asal lo tau Kayla sekarang udah jadi tunangan gue Ji"
"Hah? Apa lo bilang tu... Tunangan?" Ucap Aji sambil melongo.
"Iya Ji dia tunangan gue"
"Sejak kapan Lo?"
"Baru Ji"
"Yaampun El, masalah besar dong ini mah"
"Bingung deh gue juga"
"Yaudah lo cepet hubungi Kayla Ji, gue yakin ponsel gue pasti di bawa sama nyokap gue"
"Iya iya" Ucap Aji dan mengambil ponsel nya mencari nama Dokter Kayla.
Setelah berhasil menemukan nama Kayla. Aji pun langsung mengirimkan pesan kepada Kayla.
To : Dokter Kayla
Siang Kay, aku mau kasih kabar tentang Rafel, kalau Rafel sekarang udah sadar Kay. Udah baik baik aja.
Send
"Udah nih liat nih, gue udah ngabarin dia" Ucap Aji sambil memperlihatkan pesan nya yang sudah dikirim kepada Kayla.
"Oke" Ucap Rafel.
"Turunin lagi kasur gue, pening nih pala gue" Ucap Rafel kepada Aji dan di angguki oleh Aji.
"Yaudah lo istirahat lagi aja, gue juga pusing liat lo kaya begini El"
"Iya Ji"
"Makasih ya lo udah mau jadi sahabat terbaik gue, udah mau nemenin gue kemana pun gue pergi" Ucap Rafel sambil tertawa geli.
"Lebay lo, geli gue denger nya" Ucap Aji.