
"Gilang, loh ko kamu udah datang? Emang sekarang jam berapa?" Serentetan pertanyaan Nadia kepada Gilang.
Gilang pun melihat jam tangan nya yang sudah melingkar indah di pergelangan tangan nya "Jam 5 sore" Ucap nya.
"Ko cepet banget? Kata nya jam 7 berangkat nya? Emang kamu ga kerja?"
"Ada Hen yang ngurus semuanya" Jawab nya santai.
"Dasar"
"Yaudah ayo duduk dulu, aku bikinin kopi dulu buat kamu sambil nunggu aku ganti baju ya" Ucap nya dan diangguki oleh Gilang.
Nadia pun membuatkan kopi untuk Gilang dan kembali dengan membawa secangkir kopi tersebut.
"Diminum lang" Ucap nya.
"Makasih"
"Iya. Yaudah aku siap siap dulu"
"Oke"
Nadia pun kembali ke kamar nya untuk bersiap siap terbang ke tanah kelahiran nya.
Di sepanjang perjalanan menuju Indonesia, Gilang menatap wajah sendu dari Nadia. Ia mengerti bahwa tidak akan sanggup untuk meninggalkan negara yang memang sudah membuat kita nyaman. Gilang pun merangjul Nadia dan membawa nya dalam dekapan nya itu.
"Kenapa hem?" Tanya Gilang kepada Nadia, yang sebenarnya sudah tau apa yang terjadi.
"Aku ga bisa tinggalin London"
"Kamu bisa kesini kapan pun kamu mau Nad, udah ya jangan sedih lagi" Bujuk nya dengan mengusap usap pucuk kepala Nadia dan mencium nya.
"Ga ada yang bisa dan ga ada yang mau tinggalin negara yang udah buat kita tersenyum, tenang dan damai. Tapi mau bagaimana lagi ini semua udah terjadi, mau ga mau kamu harus mau lewatin ini semua" Lanjut nya.
"Kamu bisa ajak aku kapan pun kamu mau buat kembali lagi ke negara ini" Lanjut nya lagi, namun tetap tak ada jawaban dari Nadia, Gilang pun mengerutkan kening nya karena ia mendengar dengkuran halus dari Nadia.
Yaampun ternyata Nadia sudah tertidur dalam dekapan nya, mungkin karena Nadia kelelahan maka dari itu ia mendengkur walaupun itu tidak keras. Gilang yang melihat itu pun hanya tersenyum, gilang pun semakin mengerat kan dekapan nya pada Nadia.
Gilang kembali mengerutkan kening nya dan mengepalkan tangan nya saat sakit yang di derita nya saat ini menyerang.
"Kenapa ini?" Gumam nya sendiri dalam hati.
Ketika di periksa, Gilang menderita penyakit Anemia. Gilang pun di beritahukan bahwa harus sering banyak istirahat, makan yang teratur dan banyak mengkonsumsi zat besi. Gilang pun hanya menganggukan kepala nya karena ia harus di rawat di rumah sakit selama 1 minggu lama nya.
Beberapa hari belakangan ini, Gilang kembali drop, mungkin karena memang Gilang kembali tidak mementingkan kesehatan tubuh nya karena harus bolak balik Indonesia - London yang memiliki jarak tempuh yang cukup jauh.
Gilang pun melepaskan dekapan nya kepada Nadia, dan ia pun mengambil obat nya yang selalu ia bawa dalam saku jas nya itu, Gilang pun meminta segelas air minum hangat kepada pramugari yang selalu berada di pesawat pribadi nya.
Sang pramugari tersebut pun mengambil kan air minum nya untuk sang bos, dan Gilang pun langsung meminum obat nya.
Setelah meminum obat nya Gilang pun kembali mendekap Nadia dan ikut terlelap dalam perjalanan ke Indonesia.
***
"Assalamu'alaikum bundaaaa" Teriak Nadia ketika sudah sampai di rumah nya.
"Wa'allikum salam sayang, kamu sudah datang? Ayo sini duduk dulu, bunda buatkan minum" Kata nya.
"Iya bun" Jawab nya.
"Bunda Nadia kangen bunda" Ucap nya ketika sang bunda sudah kembali.
"Bunda juga kangen kamu. Kamu bukan nya kamu pulang sama Gilang?" Tanya nya dan diangguki oleh Nadia.
"Loh terus Gilang nya mana? Ko ga di ajak masuk?"
"Gilang udah pulang bunda, kata nya banyak pekerjaan yang harus di selesaikan" Jelas nya.
"Oh gitu"
"Iya bun, oya ko rumah sepi pada kemana bun?"
"Ayah ke kantor, Kaka sama sifa lagi liat liat perumahan di depan de, mereka kan mau pindah pas nanti Sifa lahiran"
"Loh ko pindah sih bun, kenapa ga disini aja" Ucapnya sambil kembali memasang wajah sendu.
"Itu pilihan mereka de, kamu juga nanti gitu pasti bakal ikut sama suami kamu"
"Bunda jangan ngomong gitu" Ucap nya sambil memeluk snag bunda dan bunda pun tersenyum haru.