Nadia's Love Story

Nadia's Love Story
Apa emang aku beneran pembawa sial buat Rafel ya?



"Hati hati di jalan, kalau udah sampai kabari aku ya" Ucap gilang ketika sudah mengantarkan Kayla sampai ke bandara.


"Iya. Yaudah aku pergi ya" Ucap Kayla dan di jawab anggukan saja oleh Gilang.


Kayla pun melangkah kan kaki nya di belakang sang kaka dan juga sang kekasih nya itu.


Sama dengan Kayla, Gilang pun kembali memacu mobil nya untuk menuju apartemen nya. Ia menantikan waktu malam untuk mendapatkan informasi dari sang asisten nya itu. Kabarnya setelah sang asisten mendapatkan perintah, ia memilih untuk cepat terbang kembali ke London dan mencari tau informasi yang ingin bos nya itu ketahui. Sungguh Asisten ideal.


***


Di pesawat lain, ada seorang pria berwajah pucat yang masih memejamkan mata nya, siapa lagi kalau bukan Rafel, kini Rafel sedang berada di dalam perjalanan menuju Singapore, untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif lagi. Yaa... Salah satu nya supaya tidak bertemu lagi dengan Kayla. Rafel di temani oleh kedua orang tua nya dan tak lupa ada sahabat laki laki nya yang selama ini menemani kehidupan yang sepi nya itu, tidak indah tanpa adanya bunga yang bermekaran dan pelangi yang berwarna warni. Siapa lagi kalau bukan Aji.


Yaa... Aji memang ikut mengantarkan Rafel ke Singapore untuk melanjutkan pengobatan nya, Aji pun baru mengetahui tentang Rafel yang sedang sakit parah, itu pun karena dia menghubungi nomor ponsel milik Rafel yang kemudian diangkat oleh sang mamah Rafel, dan mamah Rafel pun menjelaskan nya secara detail.


Aji pasti sangat shock ketika mendengar kabar duka dari sang sahabat, ia pun sempat marah kepada Kayla, ketika ia berfikir ulang, apa mungkin karena Kayla? Dia pun lebih memilih untuk menyimpan pertanyaan itu dalam hati, sampai waktu nya tiba ia akan menanyakan nya langsung kepada sang sahabat.


"Kamu mau ikut mengantar saja Ji?" Tanya mama rafel membuyarkan lamunan Aji.


"Eh iya tan, soalnya Aji cuma minta cuti 3 hari aja"


"Kenapa ga sekalian kamu urus Rafel aja disana? Biar nanti tante yang ngomong sama pihak rumah sakit" Bujuknya.


"Mana bisa begitu mah, itu bukan rumah sakit kita" Tegur sang suami.


"Bisa, bilang saja, kita membutuhkan dokter untuk merawat Rafel, selain dokter yang dari Indonesia" Ucap sang istri.


"Indonesia? Siapa?" Gumam Aji dalam hati.


"Gimana Ji?" Tanya sang tante lagi.


"Ehehe kalau emang bisa gapapa tan, sama sama tugas ini"


"Yaudah nanti akan tante bicarakan kepada pihak rumah sakit"


"Iya tan"


Mereka pun kembali diam dalam keheningan yang menyelimuti perjalanan itu.


"Lo harus segera sadar El, gua butuh penjelasan yang detail dari lo. Supaya ga ada salah paham lagi. Lo harus bisa perjuangin cinta lo El. Lo pasti denger kan mama lo udah bilang aoa aja ke elu? Gue tau lo pasti denger semua nya ko" Gumam nya dalam hati sambil melihat ke arah Rafel.


"Pokoknya gua yakin lo pasti bakal sadar segera mungkin" Gumam nya lagi.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, yang dimana kini Gilang sedang bersiap menunggu sang asisten untuk memberikan informasi yang ingin ia dapatkan.


Tok... Tok... Tok..


Tak butuh waktu lama ada sang asisten pun datang mengetuk pintu dan masuk kedalam ruang kerja tersebut.


Terlihat jelas raut wajah lelah sang asisten yang sudah tidak biaa ia sembunyikan lagi dari siapapun. Tapi ia masih mampu untuk mengerjakan keinginan sang bos nya itu.


"Bagaimana?" Tanya Gilang to the point.


"Ini bos bisa liat sendiri video nya" Ucap sang asisten sambil memberikan sebuah flashdisk.


"Oke" Jawab nya sambil mengambil flashdisk yang berikan oleh sang asisten nya itu.


Gilang pun membuka video tersebut dan mendengar kan percakapan yang ada di dalam video tersebut.


"Saya mendapatkan ini dari rumah sakit, dengan di bantu oleh dokter samuel" Ucap nya dan di angguki oleh Gilang.


"Bukan bos. Menurut saya bukan karena kesalah pahaman saja. Kalau itu kesalah pahaman, seharusnya orang tua Rafel tidak tau bahwa anak nya yang menjadi korban karena dia dianggap orang yang selalu dejat dengan nona Kayla bos"


"Iya bisa jadi. Lalu?"


"Bisa jadi ada yang menghasut nya"


"Oke akan aku pikirkan lagi"


"Baik"


"Oya bos satu lagi" Lanjut Asisten hen.


"Apa?"


"Dokter Frans dan dokter Naura sahabat dari nona muda Kayla yang di tunjuk atau di perintah kan oleh pihak rumah sakit di Indonesia agar merawat tuan muda Rafel, dan Dokter Aji dari rumah sakit London yang di tunjuk agar merawat tuan muda Rafel juga bos"


"Siapa yang menyuruh nya?"


"Orang tua rafel"


"Oke"


"Baik, kalau begitu saya permisi dulu"


"Istirahat lah"


"Baik bos"


Asisten Hen pun keluar dari ruang kerja milik sang bos nya itu, ia pun memilih untuk mengistirahatkan badan nya di kamar milik nya.


Karena di mana pun asisten hen dan sang bos menginap pasti ia sudah di sediakan kamar oleh sang bos besar nya itu. Memang terkadang Gilang bisa sebaik itu kepada orang yang ada di dekat nya, tapi sangat menyeramkan bagi siapa saja yang mengusik kehidupan nya.


"Hem jadi begitu" Kata Gilang sambil mengangguk anggukan kepala nya dan memainkan flashdisk yang kini berada di tangan nya.


"Siapa kira kira yang sudah menghasut nya" Ucap nya lagi sambil berfikir.


***


Berbeda hal nya dengan gilang yang sedang berfikir keras, kini Kayla terlihat sedang memaksakan mata nya untuk terpejam, karena waktu untuk tiba di Indonesia masih sangat lah lama.


"Ayo lah tidur. Aku tau kamu lelah kan tubuh? Terus kenapa ini mata ga bisa di ajak kompromi sih" Gerutu nya.


"Haaaah...." Terdengar hembusan nafas kasar dari Kayla.


Kini Kayla kembali memikirkan ucapan dari orang tua Rafel, yang masih terngiang ngiang di telinga dan juga otak nya.


"Kesialan anak saya saat bertemu dengan mu!" Kata itu yang selalu menjadi keterpurukan dari Kayla.


"Apa sebegitu nya?" Tanya nya dalam hati.


"Apa emang aku beneran pembawa sial buat Rafel ya?" Gumam nya lagi dalam hati sambil memainkan cincin yang masih bertengger di jari manis milik nya.


Tak terasa air mata nya pun mentes dan mengenai cincin nya tersebut.


"Maafkan aku, jika aku sudah menyusahkan hidup mu fel. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh mamah mu, kalau aku itu pembawa sial untuk hidup mu"


"Kalau ini yang terbaik untuk mu, aku akan relakan. Aku akan berusaha untuk melepaskan mu"


"Aku harap kamu segera sadar dan cepat mencari keberadaan ku ya fel"