
Sudah kurang lebih 2 bulan Merisha kerja di kantor Reyhan, kini saat nya tugas nya berakhir.
Beberapa teman nya memberi selamat pada Merisha karena dengan mulus nya menyelesaikan tugas yang ada.
Dan juga tak lupa mereka memberi selamat karena sebentar lagi wisuda di usia nya yang masih muda.
Di balik canda tawa yang di rasakan Merihsa saat ini, tak jarang juga tatapan tak suka terus menghujani nya.
Merisha tau, tapi dia tidak memperdulikan nya.
Setelah cukup lama berbincang dengan teman nya, Abi pun menghampiri dan membawa pesan pada nya.
"nona, tuan ingin kau datang ke ruangan nya". ucap Abi dengan wajah datar.
Saat mendengar kalau Reyhan memanggil Merisha, amarah Gina langsung meledak.
"lihat. kau memang wanita murahan. kau di panggil ke ruangan tuan Reyhan lagi dan parah nya kau menuruti nya. apa kau tidak kasihan dengan istri nya yang tidak tau apa-apa di rumah. apa aku perlu mengajari mu tata krama". Gina terus mencecar dan fokus melihat Merisha, dia tidak melihat kalau Abi saat ini seperti ingin membunuh di tempat.
apa perempuan ini tidak tau apa itu jera. dia berani melawan ku dan berani mengatai nona Merisha dengan sebutan wanita murahan.
awas kau.
Saat Abi mengambil langkah ke depan, Merisha dengan sigap menahan nya agar Abi tidak perlu ikut campur.
Merisha menghampiri Gina dan dia mengangkat tangan nya tinggi-tinggi. Mungkin saat saat ini orang-orang berpikir kalau Merisha ingin menampar Gina, tapi nyata nya dia hanya menepuk bahu Gina.
"kau sudah menjadi wanita suci ya syukurlah. Dan untuk tata krama aku sudah ada guru ku sendiri jadi tidak perlu kau ajarkan dan ". Merisha memperhatikan Gina dari atas sampai bawah.
"pakaian mu sudah benar. baiklah aku pergi dulu".
Merisha berlalu meninggalkan Gina dan pergi ke ruangan Reyhan di susul oleh Abi yanh sedang menatap Gina dengan penuh tatapan membunuh.
Entah apa yang merasuki Gina, padahal kemarin sudah diingatkan oleh Abi kalau dia tidak boleh mencari masalah apalagi dengan Merisha.
sial. siapa sebenarnya perempuan itu sampai tuan Abi juga mendukungnya.
.
Merisha memasuki ruangan Reyhan dan betapa terkejutnya dia saat menutup pintu Reyhan langsung merengkuh nya dari belakang.
"kenapa".
Merisha bingung dengan pertanyaan Reyhan.
"apanya".
"kenapa wanita itu kejam sekali padamu, dasar wanita gila". Reyhan memberengut sambil membenamkan wajah nya di bahu Merisha.
Merisha yang mendengar Reyhan mengatai Gina wanita gila pun tertawa.
waahh seandainya Gina itu mendengar nya pasti dia malu sekali.
"tidak tidak. aku tidak tertawa". Merisha mengusap-usap pipi Reyhan di sebelah nya.
"nah jadi kenapa kau memanggil ku".
"apa perlu alasan alu memanggil mu kesini, bukan nya hampir setiap hari kau kesini dan kau tidak pernah bertanya alasan nya". Reyhan terus mendorong Merisha dari belakang hingga Merisha hampir menabrak meja jika dia tidak menahan nya dengan tangan.
"ya karena aku tau kau memanggilku untuk apa". Merisha bergumam sampai Reyhan pun tidak mendengar nya.
"apa kau bilang". tanya Reyhan yang masih setia dengan posisi nya.
"bukan apa-apa".
"bisakah kau jangan menggantung pada ku lagi kau berat apa kau sadar". Merisha yang menyadari kalau berat di bahu nya semakin bertambah karena Reyhan terus menekan nya.
Reyhan pun melepaskan rengkuhan nya dan memutar tubuh Merisha agar menghadap nya.
"aaaa bahu ku seperti sehabis menggendong batu". Merisha sibuk merenggangkan bahu dan leher nya, tanpa menyadari kalau saat ini Reyhan sudah mengangkat nya dan mendudukan nya di atas meja.
"Rey". Merisha terkejut saat Reyhan memeluk perut nya dengan erat.
ehh sejak kapan aku di atas sini.
"diamlah sebentar". ucap Reyhan masih membenamkan wajah nya di perut Merisha.
Lama Merisha melihat Reyhan dalam kondisi seperti itu, dan akhirnya dia turunkan tangan nya sambil mengacak-ngacak rambut Reyhan.
"kau kenapa".
Reyhan mendongak dan menatap lekat pada Merisha sehingga Merisha sendiri merasa tidak nyaman dan hendak menurunkan tangan nya yang saat ini sedang mengusap punggung Reyhan.
"tetap di sana". ucap Reyhan memerintah agar tangan Merisha tetap di tempat nya.
Reyhan perlahan naik dan mensejajarkan tinggi nya dengan Merisha yang masih duduk di atas meja.
Lama mata mereka saling pandang. Sampai Merisha merasa tergugup.
"a a ada apa". Tanya Merisha terbata-bata.
Bukan nya menjawab Reyhan malah mencium bibir Merisha dengan lembut sampai Merisha terbuai dan membuka mulut nya.
Karena mulai merasa sesak Merisha ingin mendorong Reyhan, tapi Reyhan sendiri yang melepaskan ciuman mereka.
"ayo kita bulan madu".
Karena masih berusaha mengatur napas nya kembali jadi respon Merisha pun melambat.
"apa".
Bersambung!!!