MY LITTLE WIFE (Merisha & Reyhan)

MY LITTLE WIFE (Merisha & Reyhan)
Makan malam



{Malam}


"kau mau makan dimana. bukannya ibu sudah masak tadi". tanya Merisha yang kini berada di mobil hanya berdua dengan Reyhan.


Sekretaris Abi mendapat hari libur nya kali ini, walaupun tadi nya dia melawan untuk diliburkan.


"cih, kau tidak romantis sekali. apa kau sama sekali tidak peka".


"aku tidak tau bagaimana bersikap seperti mau mu, kau tau kan aku ini masih di bawah umur. pacaran saja aku tidak pernah".


Reyhan hanya tersenyum melihat tingkah Merisha yang berbicara tapi mata nya tertutup.


Reyhan memperlambat laju mobil dan dia mendekatkan kepala nya dan menutup mulut Merisha yang sedang mengoceh dengan mulut nya sendiri.


Seketika Merisha terdiam sementara Reyhan langsung tergelak.


Perjalanan mereka terhenti di sebuah restoran mewah khusus untuk tamu VVIP.


Reyhan keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Merisha. Dia menggandeng tangan Merisha dan membawa nya ke dalam restoran.


"kau mau makan apa di restoran seperti ini. ini nama nya pemborosan. ibu.. ". lagi-lagi omongan Merisha di bungkam oleh Reyhan dengan bibirnya.


Para pelayan yang menyambut mereka spontan terkejut melihat fenomena barusan.


"apa yang kau lakukan, kau mau aku jadi bahan gosip". Merisha berjinjit mendekati telinga Reyhan supaya omongan nya tidak terdengar para pelayan.


Dengan sengaja, Reyhan memeluk Merisha dari samping supaya para pelayan itu melihat seberapa sayang nya Reyhan terhadap istri kecil nya itu.


Mereka di antar seorang pelayan wanita ke meja yang sudah di pesan sekretaris Abi.


Pelayan wanita tersebut memberikan buku menu kepada Reyhan dengan gaya berlebihan nya ciri khas wanita penggoda.


haha dasar pelayan gak tau diuntung, berani-berani nya dia seperti itu.


apa tidak lihat istri nya ada disini.


lihat kesini pelayan!!


Seolah tau apa yang dipikirkan Merisha, pelayan tersebut langsung melihat ke arah Merisha.


Di lihat nya Merisha yang sedang menatap tajam pada nya, seolah-olah petir yang menyambar pelayan tersebut langsung lari meninggalkan meja mereka.


wanita itu seram sekali. dia seperti anak-anak, tapi kenapa bisa mengeluarkan tatapan seperti tadi.


Di lain sisi, Merisha tergelak dengan tingkah pelayan tadi. Reyhan menatap nya dengan kebingungan.


"sayang, kau kenapa".


"hehe tidak bukan apa-apa".


Tak lama kemudia, makanan yang mereka pesan pun tiba.


Merisha yang sudah menahan lapar dari tadi tentu makannya lahap sekali. Reyhan yang melihatnya hanya bisa tertawa.


"kenapa kau makannya lahap sekali, kau tidak mau menyuapi ku".


"suap-suapan nya hanya untuk makan di rumah, kalau di luar tidak".


tidak romantis sekali.


Ada beberapa hidangan yang pelayan itu bawa dan di letakkan ke meja mereka.


Hidangan di buka satu persatu, Merisha yang melihat semua sajian langsung berbinar-binar.


Reyhan menyerahkan lava cake ke hadapan Merisha yang saat itu benar-benar senang dengan hidangannya.


"kau suka". tanya Reyhan sambil mengelus pipi cabi Merisha.


"sekali". Merisha mengangguk kuat tanda dia benar-benar suka.


"makanlah". Reyhan hanya melihat Merisha sambil menahan dagu dengan tangannya.


Merisha memang suka cokelat, dia suka hal-hal yang berbau manis.


Apalagi jika dihadapan nya terdapat sepotong kue seperti ini maka dia enggan untuk berbagi.


Merisha membelah kue nya menjadi dua dan keluarlah lava cokelat yang nikmat.


Tapi saat Merisha ingin memakannya tiba-tiba terdapat sebuah benda yang terjatuh bersamaan dengan lava kue dan berdenting di piring.


Dia membersihkan nya dengan tisu dan melihat benda itu terbungkus plastik putih.


Dia membuka nya dan betapa terkejut nya dia saat melihat sebuah kalung dan juga cincin bersamaan di plastik itu.


Merisha beralih melihat Reyhan yang sedari tadi hanya tersenyum.


"Reyhan".


Tangan Reyhan menjulur ke depan dia ingin Merisha menyerahkan benda itu pada nya.


Reyhan menarik tangan kiri Merisha dan menyematkan sebuah cincin di jemari manis Merisha, sedangkan cincin yang lama dia serahkan pada Merisha.


"kenapa kau membeli cincin lagi Reyhan, bukankah cincin ini juga masih bagus". tanya Merisha sambil memegang cincin nikah lama nya.


"ini.. ".


"pemborosan nama nya. ya ya aku tau, selagi itu untuk mu aku akan melakukan pemborosan sebanyak yang aku mau". Reyhan mencium punggung tangan Merisha dan bangkit dari duduk nya kemudian dia berada di belakang Merisha untuk memakaikan sebuah kalung.


Kalung indah dengan mata liontin berukuran kecil menyatu di kulit putih mulus Merisha benar-benar menambah kesan cantik di diri Merisha.


Reyhan menyibak rambut Merisha ke depan dan memakaikan kalung itu.


Merisha hanya diam saat tangan besar Reyhan menyentuh lehernya. Terasa hangat.


"kau menyukai nya". tanya Reyhan lembut, dia melingkarkan tangannya di leher Merisha dan mengecup leher itu.


Merisha hanya terdiam sambil memegang mata kalung itu.


"kenapa kau baik sekali dengan ku, Reyhan". ucap Merisha dengan suara lirih.


"karena kau istriku".


"ya aku tau, tapi perlakuan mu ini seperti orang yang benar-benar jatuh cinta. sedangkan pernikahan kita cuma di dasari dengan pernikahan politik apa kau ingat, aku hanyalah alat penyatu untuk mu dan ayah. aku tidak berarti apa-apa, tapi bagaimanapun juga aku tidak mau mengecewakan ayah, aku akan melakukan apa pun untuk kebaikannya. itu adalah bakti seorang anak terhadap orang tua nya". jelas Merisha dengan suara yang mulai parau, dia ingin menangis tapi masih bisa ditahan.


Reyhan memutar kursi Merisha agar berhadapan dengannya, dia berlutut hanya untuk melihat wajah Merisha yang sedang menunduk.


Bersambung!!