
Beberapa hari telah berlalu, saat nya untuk beberapa perusahaan besar berlomba-lomba mempresentasikan tender yang menurut mereka berkualitas.
Di dalam ruangan Reyhan terdapat Merisha yang terus mondar mandir karena tender hasil pemikirannya sendiri akan di perlombakan.
bagaimana kalau aku tidak menang, apa Reyhan benar-benar akan membunuhku bagaimana pun juga ini nasib perusahaan nya, dia menyerahkan nasib nya padaku seperti mainan saja.
Tapi aku juga merasa yakin sekali kalau tender hasil ku itu pasti menang.
Merisha duduk di sofa setelah kelelahan.
Tapi dia juga masih tidak tenang, dia menghentakkan kaki nya dan menggigit ujung jari nya.
aaaa bagaimana bisa aku sepercaya diri seperti kemarin, aku bahkan tidak menyadari apa dampak nya jika aku kalah.
Merisha berkecamuk dengan pikirannya sendiri, sampai suara perutnya terdengar.
Dia melirik jam tangan nya dan menyadari bahwa dia belum makan siang.
apa Reyhan masih lama, lebih baik aku makan dulu di kantin.
Merisha beranjak dari duduk nya dan keluar dari ruangan Reyhan.
Merisha bertanya kepada beberapa karyawan dimana letak kantin dan kini dia sudah sampai di kantin itu.
Karena sekarang jam makan siang, tak heran banyak karyawan riuh sana sini melepas kepenatan mereka selama bekerja.
Merisha berbaris rapi mengikuti antri dengan para karyawan.
Para karyawan disini tidak ada yang tau kalau Merisha adalah istri ceo mereka, karena tamu pernikahan Merisha dan Reyhan waktu itu kebanyakan pejabat-pejabat tinggi.
Mereka tau kalau ceo mereka sudah menikah, tapi mereka tidak tau siapa wanita beruntung yang berhasil mendapat perhatian Reyhan.
Telah lama menunggu antrian, akhirnya giliran Merisha tiba dia mengambil beberapa menu di meja kantin dan duduk di kursi kosong.
Di kejauhan terdapat sesosok orang yang dari tadi terus memperhatikan Merisha, mungkin dia hanya penasaran gadis kecil seperti Merisha apa yang dia kerjakan dia di perushaan ini.
kenapa aku tiba-tiba merinding.
Sambil mengunyah makanan Merisha meraba lehernya.
Terdapat sebuah pesan pada ponsel nya.
"selamat tender mu menang, sesuai kesepakatan kita aku akan mengabulkan satu permintaan mu". pesan itu dari Reyhan kelihatannya dia bahagia disana.
Melihat pesan itu, Merisha langsung berbinar-berbinar, kebahagiaan terpancar di wajah nya. Dan reaksi Merisha ini berhasil mencuri perhatian seseorang dari jauh.
"imut sekali". ucap seseorang tersebut.
Setelah selesai makan, Merisha langsung menuju ruangan Reyhan kembali.
Di ruangan itu masih sepi, Reyhan masih juga belum selesai. Mengingat pesan yang di kirim Reyhan, Merisha seketika lupa bahwa di ruangan itu terdapat cctv.
Dia sungguh kegirangan, melompat kesana kesini, tertawa dengan lepas.
Diruangan lain Reyhan yang melihat tampilan cctv itu tergelak.
"dia tidak pernah selepas ini di hadapan ku. apa aku sebegitu menakutkan". Reyhan bertanya pada Abi tanpa mengalih perhatian dari tablet yang terhubung ke cctv itu.
"apa aku perlu jawab jujur tuan". tanya Abi dengan wajah datar nya.
"boleh".
"anda memang orang yang menakutkan tuan makanha nona Merisha tidak pernah selepas ini dihadapan anda". jelas Abi pada Reyhan supaya dia mengerti bagaimana kondisi Merisha selama ini.
Reyhan terlihat berpikir panjang sambil terus melihat tampilan cctv yang terdapat Merisha sedang duduk di sofa karena sudah kelelahan bersemangat.
apa yang dia bilang benar juga, apa aku kurang memberikan kebebasan pada Merisha ya, ya dia akan mendapatkan waktu bebas nya besok karena dia harus kuliah dan tentu saja hari ini aku akan mengganggu nya habis-habisan.
Abi yang melihat senyum penuh makna di wajah Reyhan langsung tau apa yang sedang dipikirkan tuannya saat ini.
lihat lah wajah anda saat ini tuan, anda kira saya tidak tau arti senyum anda ini.
sudah kuduga menang atau kalah nya nona Merisha tetap saja anda yang diuntungkan.
Bersambung!!