
Hari ini adalah hari keberangkatan Merisha dan Reyhan ke luar negri.
Mereka berdua sudah memberitahu orang tua masing-masing bahwa mereka akan pergi untuk satu bulan.
Kenapa tidak langsung pergi bulan madu saja? ya karena Merisha tidak bisa pergi terlalu lama.
Mungkin saat Merisha sudah selesai dengan dunia kuliah nya barulah mereka bulan madu.
Merisha sudah mengemas semua barang bawaan ke dalam koper, sebenarnya dia terlalu lelah untuk ini karena Reyhan yang semalaman terus menggangggu nya.
"beres". akhirnya selesai juga berkemas. Merisha langsung bangkit berdiri dan melakukan senam punggung.
waahh aku benar-benar lelah, tulang-tulang ku berbunyi semua.
bagaimana gak lelah si mesum itu tidak henti-hentinya menggerayangi tubuhku. mungkin kalau aku tidak pergi hari ini aku masih tidur.
"kau kelelahan sekali". tanya Reyhan yang tiba-tiba memeluk Merisha dari belakang.
Dia baru selesai mandi sehingga rambutnya masih basah dan masih menggunakan jubah mandi.
ya itu semua karena mu.
"ya itu semua karena ulah seseorang yang terus melakukannya walaupun sudah aku bilang berhenti".
Merisha melirik Reyhan dengan malas.
Reyhan tersenyum bila mengingat kejadian semalam.
Kenapa dia jika berurusan dengan Merisha selalu tidak terkendali.
Reyhan meletakkan dagu nya di bahu Merisha menghirup aroma wangi tubuh istri nya dan beberapa kali dia mengecup leher dan bagian bahu Merisha yang sedikit terbuka.
Reyhan menarik tangan Merisha agar keluar dari ruang ganti dan membantu nya mengeringkan rambut.
Setelah selesai, Reyhan pergi ke ruang ganti dan memakai pakaian nya.
Dia menggunakan setelan jas yang pas sekali untuk badannya.
Setelah Reyhan keluar dari ruang ganti, Reyhan melihat Reyhan dari atas sampai ke bawah.
"pantas saja para wanita tergila-gila pada nya bahkan ada fanatik yang mengaku-ngaku sebagai tunangan dia. yaaah lumayan ku akui itu". Merisha membuang muka daripada terus melihat Reyhan yang seperti memancarkan kilau tak terlihat.
Reyhan cukup terkejut mendengar pengakuan Merisha dan senyum mengembang di wajah tampannya itu.
Dia menghampiri Merisha yang sedang memejamkan mata sambil bersandar di sandaran kasur.
Reyhan mendoel pipi Merisha dengan telunjuk nya.
"apa". tanya Merisha tanpa memerhatikan Reyhan yang sudah berdiri di depannya.
"bilang sekali lagi".
"bilang apa".
"pengakuan mu".
"memangnya pengakuan apa yang pernah aku bicarakan". ucap Merisha masih tidak menyadari kalau pengakuan yang dia kira dia ucapkan di hati sebenarnya dia ucapkan dengan cukup lantang dari mulut nya.
"pantas saja para wanita tergila-gila pada nya bahkan ada fanatik yang mengaku-ngaku sebagai tunangan dia. yaaah lumayan ku akui itu". Reyhan mengulang kata-kata yang Merisha ucapkan, bahkan kata-kata nya tepat sekali dengan yang Merisha sebutkan.
Mata Merisha langsung terbelalak dan membulat seketika.
Dia melihat Reyhan yang berdiri di depannya dengan tersenyum lebar.
Merisha menunduk dan bergumam sesuatu.
"ohh hahaha. kau salah dengar Reyhan".
"ucapkan lagi". perintah Reyhan.
hikss harga diri ku terlau tinggi untuk mengaku, tapi kalau tidak ku ucapkan maka apa yang nanti bisa dia perbuat selalu merugikan aku.
Merisha menghembuskan napas kasar.
"eheem.. ya ku akui kau lumayan keren, kau tampan, pokok nya semua yang melekat pada dirimu itu yang terbaik, tapi lumayan bukan sangat jadi kau jangan terlalu narsi..s".
Merisha dikejutkan dengan Reyhan yang tiba-tiba memegang dagu nya membuat wajah Merisha mendongak pada nya.
"akhirnya kau mengakui juga, apa berat sekali bagi mu untuk mengakui kalau aku ini memang yang terbaik di antara yang terbaik". ucap Reyhan tergelak.
"ini sebab nya kenapa aku tidak mengakui nya, kenarsisan mu ini selalu membuat ku mengurung niat.
lepaskan kepala ku sakit melihat mu seperti ini".
Reyhan pun duduk di depan Merisha dan menyerahkan dasi pada Merisha.
"ikatkan". perintah nya sambil menyodorkan sebuah dasi pada Merisha.
Merisha mengambil dasi dari tangan Reyhan dan mengikat nya di leher itu.
Merisha dengan wajah yang masih cemberut membuat Reyhan ingin menjahili nya.
"hei". teriak Merisha pada Reyhan yang tiba-tiba mengecup nya.
Reyhan terus sumringah dari tadi dan sepanjang Merisha mengikatkan dasi selama itu pula dia mengecup seluruh wajah Merisha.
"apa kau mau aku cekik pakai dasi ini". kesal Merisha pada Reyhan yang terus menjahili nya tanpa henti.
"coba saja kalau kau berani, kalau gagal maka habis kau nanti". ucap Reyhan dengan senyum licik nya sambil melipat kedua tangan di depan dada nya.
Merisha kembali mengikatkan dasi sambil menahan kesal dan akhirnya selesai juga.
"selesai. ayo kita turun". setelah merapikan kembali jas Reyhan Merisha pun turun dari kasur dan saat ingin keluar tiba-tiba Reyhan menahan nya dan mengakibatkan pintu yang sudah Merisha buka sedikit menjadi kembali tertutup.
Merisha berbalik dan menoleh pada Reyhan yang saat ini mengukungnya di balik pintu.
"apa lagi".
tanpa menjawab Merisha Reyhan memegang dagu Merisha dan.
"kau belum memberiku ciuman". Reyhan mulai mencium bibir Merisha dengan lembut.
Salah satu tangannya menarik punggung Merisha agar dekat dengannya sementara satu nya lagi menekan tengkuk Merisha agar memperdalam ciuman mereka.
Merisha meremas sedikit jas Reyhan di bagian lengan, karena merasa ada sedikit cubitan di lengannya Reyhan meletakan kedua tangan Merisha untuk melingkar di leher nya tanpa melepas ciuman nya.
"Reyhan, sudah cukup ya ibu pasti menuggu di bawah". ucap Merisha saat ciuman mereka berhenti dan dia hendak menurunkan tangannya dari leher Reyhan, tapi Reyhan mengancam nya.
"tetap disana atau kau kuhabisi sekarang". Reyhan kembali mencium Merisha kali ini sedikit panas.
Reyhan melepaskan ciuman mereka dengan terpaksa.
Dia hampir kehilangan kendali lagi, dan dia melihat Merisha yang hampir kehabisan napas.
"sudah cukup sekarang kau memang penggoda kecil". ucap Reyhan mengecup kening Merisha dan menggandeng tangan kecil itu keluar dari kamar.
apanya yang penggoda kecil memang kau itu yang tidak bisa menahan nafsu mu, dasar mesum.
Bersambung!!!