
Perjamuan di didominasi dengan kecanggungan karena Reyhan yang terus menahan Merisha untuk tidak terlalu akrab dengan kerabat jauh nya itu.
Setelah perjamuan itu selesai, seluruh tamu pamit untuk pulang ke rumah mereka ataupun negara mereka masing-masing.
Ibu berniat menyuruh kerabat nya itu untuk bermalam di rumah mereka, tapi mereka menolak.
Merisha juga menahan ayah nya untuk bermalam di rumah Bariksya, tapi dengan berat hati ayah nya menolak karena masih ada keperluan pekerjaan.
Karena sudah malam Reyhan mengajak Merisha untuk beristirahat di kamar.
Gurat kesal si wajah Reyhan belum menghilang.
Ibu yang tau apa yang Reyhan rasakan selama perjamuan tadi hanya bisa menghela napas berharap Merisha dapat menenangkan Reyhan.
Sesampainya di kamar, Reyhan langsung pergi ke kamar mandi meninggalkan Merisha yang kebingungan dengan sikap Reyhan yang tidak seperti biasa nya.
Setelah Reyhan keluar, Merisha bergegas ke kamar mandi karena dia sudah tidak tahan dengan keringat yang terus mengucur.
Setelah selesai dengan mandinya, Merisha melihat Reyhan yang duduk bersandar dengan menutup wajah dengan lengannya.
kenapa dia.
Merisha perlahan menaiki kasur nya dan menyelimuti tubuh nya yang di balut dengan baju tidur berkerawang nya.
"kau kenapa". tanya Merisha.
"hmmm".
"apanya. kau terlihat tidak baik-baik saja saat acara tadi".Merisha mengesampingkan tubuh nya menghadap Reyhan yang masih bersandar sambil menutup wajah nya.
"bukan apa-apa". ucap Reyhan pelan.
Merisha sudah mulai mengerti keadaan Reyhan saat ini. Reyhan sedang menahan segala kekesalannya.
"apa kau sedang kesal.
kau bisa berbagi masalah mu dengan ku. aku akan mendengar nya sampai selesai.
Merisha membujuk Reyhan dengan lembut sehingga Reyhan pun terkejut mendengar nada bicara Merisha kali ini.
Reyhan langsung menoleh pada Merisha yang sedang menatap nya dengan senyuman.
Reyhan langsung mengambrukan diri dan memeluk Merisha.
Merisha yang awal nya tidak tau harus berbuat apa, setelah melihat Reyhan yang membenamkan diri di dada nya, walaupun ragu-ragu akhir nya dia merespon.
Merisha menepuk-nepuk kepala Reyhan dengan lembut dan meletakan dagu nya di atas kepala Reyhan.
Merasakan kenyaman dari perlakuan Merisha, Reyhan semakin mengeratkan pelukannya.
Lama Reyhan tidak menjawab pertanyaan Merisha, tapi karena Merisha telah memberikan dia ketenangan dia pun mulai bersuara.
"tidak, aku tidak baik-baik saja".
"kenapa. kau sedang marah dengan siapa".
"aku tidak marah, tapi aku kesal karena harus melihat muka orang-orang itu. Orang-orang yang telah mengkhianati ayah. Bahkan waktu kematian ayah mereka harus di paksa dulu baru mau untuk menghadiri upacara pemakaman.
Saat kursi ayah kosong, mereka berlomba-lomba merebut nya. Sehingga demi mempertahankan kedudukan ayah, aku yang menggantikan posisi nya. Aku berusaha sekeras mungkin agar tidak ada celah bagi orang luar untuk merusak citra perusahaan yang sudah di bangun ayah dengan susah payah. Mereka bahkan tidak layak di anggap keluarga. Ibu saja yang masih memperlakukan mereka dengan baik.
Dan apa kau ingat, tadi saat di kampus kau bertanya pada ku apa aku kenal dengan teman laki-laki mu itu".
Reyhan mendongakan kepala nya untuk menatap Merisha. Dimana Merisha yang juga sedang menatap nya karena kepala Reyhan bergerak saat mata nya ingin menutup.
"ya".
"kau jangan coba-coba untuk tidur duluan. cerita ku belum habis".
"ya ya aku mendengar kan, aku tidak akan tidur duluan".
Reyhan kembali ke posisi nya, di benamkan lagi wajah nya di dada Merisha dan Merisha meletakan dagu nya di atas kepala Reyhan. Seperti tadi, dia pun menepuk kepala Reyhan dengan pelan.
Reyhan kembali dengan cerita nya.
"Daniel adalah keponakan ku, makanya tadi aku bilang kalau aku kenal dengannya, tapi siapa sangka kau bahkan tidak peduli kenapa aku bisa kenal dengan Daniel. bodoh". Reyhan memasukan tangannya ke dalam baju Merisha dan mencubit sedikit perut Merisha.
"akh sakit". Merisha ingin sekali menjambak rambut Reyhan saat itu, tapi dia tahan kalau tidak mungkin dia tamat malam ini.
"lagi pula buat apa aku peduli. kau kenal dengan siapa pun juga itu bukan urusan ku.
Dan untuk masalah mu tadi aku tidak bisa kasih saran yang mungkin berguna untuk mu, tapi satu hal yang bisa aku beritahukan pada mu ialah kau jangan terlalu mendendam pada orang-orang itu, yang penting sekarang kau dan ibu sudah bahagia. Bahkan tanpa bantuan mereka kau telah berhasil mempertahankan hasil jerih parah ayah mu. Itu lah yang utama". Reyhan mendongakan kepala melihat Merisha yang berbicara pada nya sambil menutup mata bahkan tersenyum.
Reyhan yang melihat hal itu ikut tersenyum.
"ya. kau benar. Dan apa kau serius tidak peduli tentang siapapun orang-orang yang aku kenali bahkan itu wanita".
"hmmm". Merisha sudah mulai masuk ke dalam mimpi nya bahkan ucapan Reyhan saja entah didengar atau tidak oleh nya.
baiklah, kita lihat saja nanti.
Reyhan mencium seluruh wajah Merisha dan ikut tertidur di samping nya.
Bersambung!!!