
"ehh".
Begitu terkejut nya Merisha melihat rambut hitam pekat yang perlahan muncul ke permukaan air dan tepat berada di depannya.
"aaaarggh". teriak Merisha, dan dia langsung menjauh dari kepala itu, tapi sayang nya sebuah tangan menahan perutnya.
Dan sosok itu menampakan dirinya yang tak lain adalah Reyhan.
"kenapa kau ketakutan sekali". tanya Reyhan tergelak.
Merisha langsung kesal dan memasang wajah cemberutnya.
"aaaa jantung ku astaga sakit sekali". rintih Merisha sehingga membuat Reyhan khawatir.
"tapi bohongan". Merisha tertawa sendiri, tapi tidak dengan Reyhan.
"kau".
"hmm karena kau mengerjai ku jadi tidak ada salah nya ku kerjai balik".
"kau berani ya mengerjai ku". dengan suara dingin nya Reyhan menarik Merisha.
Merasa terancam, Merisha berusaha melepaskan rengkuhan Reyhan tapi tidak bisa.
"haha iya iya aku minta maaaaf berhenti Rey hahaha". Reyhan terus menggelitiki perut Merisha tanpa ampun dan berhenti sesaat kemudian.
"aku lelah sekali". keluh Merisha sambil meletakan kepala nya di atas bahu Reyhan.
"kau baik-baik saja". tanya Reyhan sambil mengelus punggung Merisha.
"hmm".
"sudah ya. Kau harus banyak istirahat sekarang".
"baiklah". Merisha pun menuruti dan langsung naik ke pinggiran kolam disusul Reyhan yang langsung menggendong nya.
Saat mereka melewati ruangan di villa itu, Merisha merasakan kejanggalan.
"kemana orang-orang". tanya Merisha mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru villa.
"mereka ku suruh keluar". jawab Reyhan santai.
"kenapa". tanya Merisha tidak peka.
"agar mereka tidak mengganggu".
"tapi kenap.. ".
Perkataan Merisha terpotong karena Reyhan mulai m****** bibir nya.
"banyak sekali pertanyaan mu".
Untuk menghindari tatapan Reyhan, Merisha memalingkan wajah nya ke belakang punggung Reyhan.
.
"besok kita pulang kan". tanya Merisha.
"hmm".
Reyhan dengan handal mengeringkan rambut Merisha dengan handuk kecil.
"Abi saja yang belikan, kau harus istirahat".
"memangnya dia tau seperti apa buah tangan yang menarik".
"terserah dia saja mau beli apa".
Mendengar nya saja Merisha tau kalau Reyhan tidak terlalu peduli tentang oleh-oleh nya.
hikss hikss
Mendengar isakan kecil yang tak lain dari Merisha sendiri, Reyhan langsung duduk menghadap Merisha.
"kau kenapa". tanya Reyhan lembut dengan mengusap pipi Merisha.
"kau.. apa kau tidak peduli dengan ayah".
"aku.. ".
"kau tidak peduli dengan ibu, teman-teman ku". tanya Merisha diiringi dengan isakan yang membuat Reyhan merasa bersalah.
"iya iya kita sendiri yang pergi, sudah ya". Reyhan terus membujuk Merisha dan akhirnya berhasil.
"baiklah. Sekarang kita pergi". dengan semangat Merisha langsung merapikan diri dan keluar dari kamar meninggalkan Reyhan yang masih menatap kosong kepergiannya.
kemana dia yang menangis tadi.
Reyhan pun segera bangun dan merapikan diri.
Setelah selesai dia keluar dari kamar dan bergegas menyusul Merisha yang sudah menunggu nya di luar.
"ayo". Reyhan menarik pinggang Merisha dan membawa nya masuk ke mobil.
"daaah Abi". dengan wajah tak berdosa Merisha melambaikan tangan pada Abi dan masuk ke mobil.
Reyhan langsung memberikan tatapan tajam pada Abi.
"apa yang kau bicarakan dengannya". tanya Reyhavn dingin pada Abi.
"hanya perkenalan biasa tuan". jawab Abi dengan tenang.
Entah mendengar ataupun tidak, Reyhan langsung masuk ke mobil dan melajukan sampai tak terlihat lagi di pandangan Abi.
.
Perjalanan dipenuhi suasana sunyi semenjak mereka keluar dari area villa.
Merisha merasa aneh karena Reyhan tidak berbicara dari tadi.
"ekheemm".
Reyhan masih tidak menanggapi.
"ekheeeeem". kedua kali nya Merisha berdehem, tapi Reyhan masih saja seperti batu.
Akhirnya dia kesal sendiri dan memilih melihat pemandangan di luar jendela.
Dan perjalanan mereka kembali sunyi sampai mereka tiba di toko tujuannya.
Bersambung!!!