MY LITTLE WIFE (Merisha & Reyhan)

MY LITTLE WIFE (Merisha & Reyhan)
Bersikaplah seperti biasa



Masih diruangan Reyhan berkumpul beberapa orang yang duduk dengan rapi layak nya berhadapan dengan guru sekolah.


Teman kantor Merisha masih terpaku dengan apa yang baru saja mereka ketahui.


Mereka hanya tertunduk diam tidak berkata sepatah kata pun.


Begitu juga dengan Merisha, dia tidak tau harus memulai percakapan dari mana. Sampai suara datar Reyhan memecah keheningan tapi masih dalam suasana mengintimidasi menurut karyawan nya.


"saya berterima kasih pada kalian karena telah berteman baik dengan istriku. Dan sebagai balasannya aku akan memberi kalian bonus dan hari libur seminggu". ucap Reyhan tanpa mengalihkan pandangan nya dari Merisha. Sedari tadi dia sibuk memainkan jari-jari nya di leher Merisha sehingga beberapa kali dia merasakan kalau Merisha merinding menahan geli.


Mendengar bonus yang di berikan oleh Reyhan, teman Merisha tersebut sebenarnya ingin sekali berteriak kegirangan penuh bahagia. Bagaimana tidak sudah di beri bonus dan lagi di tambah dengan hari libur seminggu.


Tapi karena di hadapan mereka ini adalah bos mereka, maka niat itu pun mereka urungkan.


"terima kasih, tuan". ucap mereka dengan serentak.


Suasana kembali hening hanya terdengar suara Reyhan yang terus tertawa kecil karena terusan mengganggu Merisha.


Merasa kalau teman kantor nya itu seperti sedang terintimidasi, Merisha langsung membekap mulut Reyhan dan mengumpulkan tangan Reyhan menjadi satu dan diletakkannya di atas paha nya.


"mmm kalian bicara saja seperti biasa, jangan pedulikan dia". Merisha menunjuk Reyhan dengan sudut mata nya, yang entah kenapa juga Reyhan pun tidak lagi bergerak dan hanya mata nya saja yang mengedap ngedip.


Meskipun sudah di tawar Merisha untuk berbicara seperti biasa, tapi teman nya itu tetap diam membisu.


Merisha menghela napas panjang dan melepaskan tangan nya yang membekap Reyhan.


"apa setelah ini kalian tidak lagi mau berteman dengan ku". tanya Merisha tatapan nya seperti memberitahu kalau jika mereka masih mau maka dia bersyukur tapi jika tidak dia juga tidak mempermasalahkan nya.


Mendengar pertanyaan Merisha, serentak teman nya itu mendongak dan melihat Merisha.


"tidak merish eh tidak nona Merisha. Kami akan tetap menjadi teman nona yang baik dan selalu menjaga nona dari orang yang berniat jahat". ucap salah satu teman Merisha.


"tidak perlu seperti itu. Panggil aku seperti biasa dan jangan pernah kalian merubah sikap kalian dan satu lagi aku tidak perlu kalian lindungi. Aku bisa melindungi diri sendiri".


Penuturan Merisha membuat mereka tidak bisa berkata-kata dan hanya kata 'baik' yang bisa mereka ucapkan.


"baik, nona". mereka menunduk hormat pada Merisha.


Saat Merisha ingin berbicara lagi, tiba-tiba Reyhan menengahi.


"kalian boleh pergi". dengan satu kalimat membuat teman Merisha itu langsung beranjak dan keluar dari ruangan Reyhan.


Setelah beberapa orang tersebut keluar, kini menyisakan Reyhan dan Merisha.


Merisha terus menatap Reyhan dengan pelototan tajam.


"kenapa kau punya ide seperti ini. sekarang bagaimana pekerjaan ku".


"ya bekerja seperti biasa apa masalah nya". Reyhan bertanya seperti benar-benar bukan beban tentang memperkenalkan Merisha sebagai istri nya.


"apa alasan mu".


"alasan nya mmm ya karena aku sekarang bisa bebas memanggil mu tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi".


"hei ini kantor. apa kau tidak malu di lihat karyawan sendiri berkelakuan seperti ini". Merisha menyipitkan mata sebelah sambil terus bergerak mundur tanpa disadari Reyhan.


"ini kantor ku. mereka karyawan ku jika mereka macam-macam maka siap-siap saja hidup mereka akan menderita".


"bukan nya kau terlalu kejam". tanya Merisha.


"aku kejam untuk orang yang pantas aku kejami".


"kau juga kejam pada ku apa kau sadar itu". Merisha jadi teringat tentang bagaimana dia selama ini harus selalu melayani Reyhan.


"begitu. menurut ku itu masih biasa saja". Reyhan mengangkat bahu sambil tersenyum.


"biasa saja". ulang Merisha tidak terima jika pelayanan dia terhadap Reyhan selama ini hanya biasa saja, dia melakukan nya setiap malam bukannya ini kejam nama nya.


Merisha ingin mengucapkan kata-kata lagi, tapi saat melihat wajah Reyhan seperti ingin menerkam nya, dia pun mengurungkan niat dan beranjak dari duduk nya.


"ya sudah lah. aku mau kembali dulu ya. daah". Merisha berlalu pergi sambil melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.


Reyhan ikut beranjak dan menghampiri Merisha dari belakang.


Mendapat tarikan di tangannya, Merisha pun kembali mundur dan terjerembab ke sofa karena Reyhan mendorong nya.


"akhh sakit. apa lagi Rey.. ". Ucapan Merisha terhenti saat napas nya merasa tercekat karena Reyhan mulai menyusupkan tangan nya ke dalam baju Merisha.


"kita sedang di kantor". Merisha menarik tangan Reyhan untuk keluar dari dalam baju nya.


"tidak ada orang yang akan masuk".


Reyhan menempelkan bibir nya dengan bibir Merisha supaya mulut itu bisa berhenti mengoceh dan mengangkat tangan Merisha ke atas kepala supaya tidak mengganggu tangan nya bekerja.


Jari-jari Reyhan terus bermain di dada Merisha sehingga membuat Merisha mendesah kecil dan itu membuat nya semakin liar mencium Merisha.


tidak tau tempat.


Bersambung!!!