
Setelah menghabiskan beberapa menit di kamar mandi, Merisha pun keluar dan langsung berganti baju.
Sesudah berpakaian dia pun keluar dari ruang ganti dan menerawang ke setiap sudut kamar nya.
dimana dia.
Tidak ada Reyhan lagi di kasur itu. Apa dia ke bawah pikir Merisha.
Dan tanpa di duga pula ada tangan yang menyelip antara lengan dan perut nya dari belakang.
Merisha melihat tangan besar itu yang bahkan seperti mengode tidak ingin Merisha pergi kemana-kemana dulu.
Setelah melihat tangan besar itu, Merisha pun menolehkan kepala nya untuk melihat wajah orang yang memeluk nya itu.
Dan disambut dengan kecupan dibibir singkat oleh Reyhan.
Reyhan semakin mengeratkan pelukan nya dan menaruh dagu nya di atas bahu Merisha, membiarkan diri nya mabuk dengan aroma mawar yang berasal dari tubuh Merisha.
"kenapa cepat sekali pulang nya". tanya Merisha tanpa memalingkan tubuh nya agar menghadap Reyhan.
"yaa aku pulang lebih awal itu karena kau".
"kenapa jadi gara-gara aku, aku juga tidak minta kau pulang awal tadi. akhhh". Merisha berteriak cukup keras karena sakit.
Reyhan yang tadi nya hanya mencium bahu Merisha tidak peduli, tapi jika dia bahkan menggigit nya tentu Merisha peduli.
"sakit". Merisha mengusap bagian bahh yang di gigit oleh Reyhan.
"apa kau bahagia saat bersama ibu ku". tanya Reyhan sambil menyingkirkan tangan Merisha dari bahu nya dan melingkup nya di dada Merisha.
"tentu saja".
"kau senang". tanya Reyhan lagi.
"tentu saja. kau kenapa Rey".
Sungguh membuat orang heran setiap hari jika Reyhan mulai bertingkah seperti ini.
Reyhan tidak menjawab, tapi dia langsung menggiring Merisha untuk duduk di sofa sedangkan dia malah duduk di lantai sambil melipat tangannya di paha Merisha, seperti anak kecil yang sedang ingin meminta kasih sayang ibu nya.
Merisha yang masih tidak tau apa yang sedang Reyhan alami sampai dia seperti ini hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati.
kenapa lagi dia.
"maafkan aku". ucap Reyhan lalu mendongak pada Merisha dengan wajah memelas nya.
muka nya ini seperti anak anjing yang minta di beri makan.
"maaf kenapa". tanya Merisha.
"aku minta maaf karena selalu menjauhkan mu dari ibuku. Aki tidak pernah mengerti diri mu, kau yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu sedari kecil dan ketika sudah mendapatkan ibu mertua sebagai pengganti ibu kandung mu kau juga tidak pernah bermain dan berbincang lebih dengan nya itu karena aku yang tidak mau berbagi dirimu dengan orang lain".
aaa aku kira apa.
"benarkah, kau tidak marah padaku". tanya Reyhan dengan semangat dan mata yang penuh binar.
Merisha mengangguk sebagai jawaban.
"dan satu lagi, aku akan merawat dan menjaga mu dengan sangat sangat baik dan memastikan kalau calon bayi kita kelak akan sehat-sehat saja begitu juga dengan mu sayang".
"kau tidak perli khawatir tentang proses kelahiran nya karena aku akan mendapatkan dokter terbaik untuk membantu mu bersalin tentu saja dokter itu harus perempuan". lanjut Reyhan.
Merisha begitu terkejut mendengar penuturan Reyhan.
bagaimana dia tau kalau aku sedang khawatir tentang kelahiran.
"jika kau ingin bertanya bagaimana aku bisa tau kalau kau sedang dalam masalah ini, aku akan jawab kalau pak Bisma yang menguping pembicaraan mu dengan ibu". ucap Reyhan santai seperti perbuatan nya ini tidak berdosa saja. ck.
"haaaa. kau mengajarkan hal tidak baik pada bawahan mu sendiri". Merisha jadi kesal sendiri.
"terserah aku lah bagaimana mengajarkan mereka, yang penting mereka mempunyai secuil sikap dingin dan tegas agar orang-orang yang melihat mereka bisa merasa terintimidasi"
sikap narsis nya Reyhan muncul lagi.
"terserah kau saja".
"kau harus bersiap ya".
"apa". tanya Merisha kebingungan.
"kita akan berangkat bulan madu minggu depan".
"berapa lama".
Reyhan mengangkat bahu sambil tertawa.
"tidak tau". ucap Reyhan tanpa beban.
"memangnya kau tidak peduli dengan kantor mu lagi sampai kau sendiri tidak tau pulang nya kapan".
"itu juga gara-gara kau".
"kenapa aku lagi". tanya Merisha merasa tidak adil jika dia selalu di gara-gara kan oleh Reyhan.
Alih-alih menjawab, Reyhan beranjak dan duduk di samping Merisha.
Lama dia menatap Merisha sampai membuat Merisha ingin langsung kabur dari situasi ini, tapi dengan cepat Reyhan menghalangi sisi sofa agar Merisha tidak bisa kabur.
"itu gara-gara kau yang selalu membuat ku kepikiran terus dengan mu".
Reyhan meraih dagu Merisha dan mencium bibir kecil itu dengan lembut.
itu salah mu. aku juga tidak pernah menyuruhmu untuk memikirkan ku. dasar mesum.
Bersambung!!!