
{Di kelas}
"enak nya jadwal hari ini. pak Banu gak masuk harusnya aku udah pulang dari tadi. Merisha mana ya lama bener". ucap Fahra sambil melirik jam tangannya.
Selang beberapa menit, Merisha memanggil Fahra untuk keluar.
"Fahra ayo pulang". teriak Merisha dari luar.
Walaupun Merisha seorang introvert, tapi bersama dengan orang yang akrab dengannya dia akan menunjukan jati diri sesungguhnya.
Mendengar Merisha memanggil dan mengajaknya untuk pulang, Fahra bergegas keluar dari kelas.
"ayo". ajak Merisha.
Setelah jarak mereka lumayan jauh dari kelas, Fahra bertanya kepada Merisha perihal dia yang di panggil ke kantor.
"kali ini kenapa kau di panggil". tanya Fahra
"seperti biasanya". jawab Merisha santai.
"ohh gitu". ucap Fahra.
Fahra sudah tau jika Merisha di panggil ke kantor pasti itu memperkenalkan nya kepada para CEO.
"tapi apa kau tau. Kali ini aku sedang sial". ucap Merisha dengan ekspresi cemas.
"sial kenapa". tanya Fahra yang mulai khawatir melihat kecemasan Merisha.
huuhh...
Merisha menghembuskan nafas perlahan. Membuang segala emosi yang dia simpan.
"aku bertemu dengan orang gila itu".
Mendengar hal itu, Fahra sontak kaget. Kenapa orang gila itu bisa ada disini.
"dia tuan muda Bariksya. CEO yang aku temui hari ini". ucap Merisha datar.
Mendengar hal itu, Fahra tambah kaget. Bagaimana mungkin itu si tuan muda Bariksya. Tuan muda yang dijuluki pangeran tertampan ini membuat Merisha tidak menyukainya karena ulah tidak sadarnya.
"yang benar. aaaaa pangeran tampan ku disini. kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau orang gila itu si tuan muda Bariksya". ucap Fahra dengan semangatnya. Dia tidak lagi khawatir tentang temannya yang sedang kesusahan.
siapa temanmu. kenapa kau lebih ingin tau tentang si gila itu. dasar teman tak sehati.
"hei kau, kenapa kau tidak khawatir dengan ku lagi. apa dia lebih penting dariku.
dan apa kau tau tatapan nya tadi padaku semakin menambah ketidaksukaan ku padanya". jelas Merisha dengan wajah tak suka terpampang jelas.
tatapan? tatapan apa. wahhh jangan-jangan si tuan muda naksir Merisha. Fahra
Setelah mereka berdua berada di luar kampus, tiba-tiba seseorang dengan sengaja menabrak Merisha dari belakang dengan keras sehingga Merisha hampir tersungkur ke depan.
Tapi tiba-tiba terdapat orang yang memeluknya dari belakang.
Fahra yang melihat siapa yang memeluk Merisha dari belakang menjadi tercengang.
Sementara Merisha masih tidak tau siapa karena dia masih dalam posisi hampir jatuh.
Tanpa aba-aba terlebih dahulu, si pemeluk memutar tubuh Merisha untuk menghadapnya.
Dan keterkejutan Merisha bisa dibayangkan, dengan wajah yang hanya berjarak beberapa centi dari si pemeluk, Merisha mendorong orang itu agar menjauh dari nya.
Tapi tenaga si pemeluk sangat kuat, tangan Merisha yang tadinya mencoba mendorong dada itu, kini tangannya di pegang erat oleh si pemeluk.
Kini usaha apapun yang dilakukan Merisha untuk menjauh hanya mendorongnya semakin dekat.
apa-apaan orang ini. aku tidak salah memanggil nya orang gila. Fahra kau kenapa bengong, tolongin aku lah...
Bersambung!!