
Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 4 jam. Dengan tempat yang dituju masih jadi misteri bagi Merisha.
Sekarang mungkin di negara mereka sudah malam, tapi tidak disini.
Merisha yang sudah lelah berdebat dengan Reyhan akhirnya tertidur dengan pangkuan Reyhan sebagai bantal nya.
Dan Reyhan juga ikut tertidur, dengan kepala yang bersandar di kursi nya dan tangan yang melingkar di leher Merisha.
Abi yang melihat momen itu sebenarnya tidak tega membangunkan kedua orang itu, tapi itu harus karena mereka sudah tiba di tujuan.
Namun, sebelum dia membangunkan tuan muda nya, terlebih dahulu dia mengabadikan momen itu melalui kamera.
"tuan". panggil Abi setelah dia puas mengambil gambar Reyhan dan Merisha.
Dengan sekali panggil Reyhan langsung membuka mata nya perlahan.
"kita sudah sampai". tanya Reyhan dengan suara khas bangun tidur.
"iya tuan".
"baiklah, kau tunggu di luar".
"baik". Abi mengangguk dan meninggalkan tuannya disana.
Sementara Reyhan terus memandangi Merisha yang memegang erat tangan nya.
pulas sekali dia.
"sayang". panggil Reyhan lembut dengan tangan satu nya yang mengusap-usap pipi Merisha.
"sayang hei bangun. kenapa susah sekali setiap membangunkannya".
Reyhan terus menggerakan kaki nya supaya Merisha bangun tapi nihil.
Bahkan mata nya saja tidak berkedut atau menunjukan tanda-tanda ingin bangun.
Sebagai percobaan terakhir, Reyhan harus mencoba cara yang kramat atau yang membuat Merisha marah jika dibangunkan dengan cara seperti itu.
Reyhan mengambil napas panjang sebelum mencoba cara nya.
aku harus berkorban sebentar, yah paling tidak saat dia tau aku membawa nya kemana dia akan terpukau dengan kejutan ku.
Reyhan menaruh jari telunjuk di depan hidung Merisha. Menyumbat pernapasan agar Merisha bangun.
Dan benar saja, beberapa detik saja mata Merisha langsung terbuka.
Merisha langsung terduduk dan melihat Reyhan dengan kesal.
"kau".
Reyhan seketika menyatukan tangan nya menjadi satu seperti memohon ampun.
"kau.. apa aku susah lagi untuk dibangunkan". tanya Merisha dengan polos.
Reyhan yang tadi nya sudah siap menerima murka Merisha, sekarang terkejut karena respon Merisha tidak seperti biasa nya.
"kau tidak marah padaku, sayang". tanya Reyhan dengan nada was was.
"marah". Merisha langsung tersadar kalau Reyhan membangunkan nya di dengan cara yang tidak dia sukai.
"haaa.. Terima kasih sudah mengingatkan. Tentu saja aku marah. Dan dimana ini".
hei kau marah atau tidak sih.
Reyhan dibuat bingung oleh Merisha yang kata nya marah tapi tak terlihat marah.
Merisha yang menyadari Reyhan menatap nya dengan kebingungan pun menyadarkan nya.
"lihat apa". Merisha menjentikkan tangan di depan Reyhan dan membuyarkan lamunan nya.
"aah tidak. Iya kita sudah sampai, ayo turun".
Reyhan beranjak dan menggandeng tangan Merisha.
"aku masih marah padamu ya". ucap Merisha sambil terus melirik tajam pada Reyhan.
"iya iya aku tau. Tapi aku ragu kau akan marah dalam jangka waktu lama pada ku".
"memangnya apa yang membuat mu ragu".
"tunggu dan lihat saja nanti".
"kau memberi kejutan. Memangnya kejutan seperti apa sampai kau sepercaya diri ini mengatakan aku tidak akan marah lama padamu. Seperti apapun kejutan mu nanti aku tidak akan tergoda". Ucap Merisha dengan nada meremehkan dan yakin dengan apa yang dia bicarakan.
"baiklah terserah kau saja sayang ku". Ucap Reyhan dengan berlagu riang dan mencium pipi Merisha dengan gemas.
Membuat orang-orang yang menyambut mereka di bawah terkejut akan sikap tuan muda mereka, kecuali Abi.
Bersambung!!!