
{Pagi hari}
Matahari sudah mulai menyeruak dan menembus jendela-jendela villa.
Angin pun dengan lembut ikut mengiringi dan mensejukan cuaca pagi hari ini.
Reyhan sudah duluan bangun karena dia tidak mau menyiksa diri sendiri dengan melihat Merisha yang tidur tanpa pakaian dan tidak mau disentuh.
Setelah selesai mandi, Reyhan melihat Merisha juga belum bangun dan bahkan selimut yang tadi nya menutupi tubuh Merisha kini teronggok di lantai.
Mungkin karena merasa panas.
Dan lagi-lagi Reyhan harus melihat sesuatu yang tidak bisa dia sentuh.
"astaga". gerutu Reyhan dan menghampiri Merisha.
tahan Reyhan tahan. Kalau kau sentuh maka kau harus puasa entah sampai kapan.
Reyhan menghembuskan napas kasar nan panjang dan berlanjut menggoyang-goyangkan tubuh Merisha agar bangun.
"sayang". panggil Reyhan.
Panggilan pertama Merisha masih belum bangun.
"sayang". panggil Reyhan lagi dan akhirnya Merisha pun merespon.
"hmm". Merisha hanya berdehem tanpa membuka mata.
"bangunlah. Kau lihat matahari nya mengejek mu karena kau terlihat jelek saat ini". untuk mengalihkan gairah nya Reyhan memilih mengajak Merisha bercanda, tapi dia tidak menduga akan hal ini.
Merisha bangun dengan mata yang terbelalak, dan karena mendengar Reyhan membuat lelucon kalau dia jelek, Merisha pun langsung menarik Reyhan hingga terjerembab ke kasur.
Dan entah kenapa tenaga Merisha menjadi kuat sekali.
Sementara Reyhan begitu terkejut karena saat Merisha menarik nya sampai terjatuh ke atas kasur, di saat itu pula Merisha menaiki nya.
"jangan seperti itu". ucap Merisha dengan wajah yang cemberut.
"apa". tanya Reyhan dengan suara yang tertahan.
Daripada menjawab pertanyaan Reyhan, Merisha langsung fokus dengan wajah Reyhan yang sudah memerah.
"kau kenapa, demam". tanya Merisha sambil mendekatkan dahi nya dengan dahi Reyhan, Merisha memang kebiasaan memeriksa dari dahi ke dahi apakah orang itu demam atau tidak.
"tidak panas".
"tapi kenapa wajahmu merah sekali". lanjut Merisha dengan menepuk-nepuk lembut pipi Reyhan yang kemerahan.
"sayang, apa perkataan mu semalam masih berlaku saat ini". tanya Reyhan.
"perkataan". ulang Merisha.
"kau mengatakan kalau aku menyentuh mu maka kau tidak akan memberiku jatah mu". ucap Reyhan dengan suara pelan.
"ohh itu. mm aku tidak tau bagaimana kalau sekarang".
"memangnya kau kenapa". tanya Reyhan.
"aku tidak tau, entah kenapa kalau kau mencium ku atau apapun aku mau mual, tidak nyaman sekali".
"sudahlah aku mau mandi dulu".
Saat Merisha ingin turun, Reyhan menahan nya.
"bagaimana kalau kita coba".
"coba ap..".
Reyhan menekan punggung serta menekan tengkuk Merisha agar bisa mencium nya.
Saat bibir mereka bersentuhan, Reyhan langsung m****** bibir Merisha.
"bagaimana". tanya Reyhan disela-sela ciumannya.
Lama Merisha tidak menjawab.
"tidak lagi". ucap Merisha tersenyum.
Reyhan tersenyum senang akhirnya dia tidak perlu lama-lama menahan hasrat nya.
"kalau begitu kita lanjutkan". ucap Reyhan penuh goda.
Merisha hanya mengangkat bahu, dia tau kalau Reyhan semalaman pasti tersiksa.
Karena perjalanan mereka semalam harus berhenti di tengah-tengah.
kasihan sekali. haha.
Yaah dia biasa nya suka mengerjai ku, dan ini balasan nya.
Tapi kenapa muka nya harus seperti anak kecil yang belum di beri makan, membuat orang lemah saja.
Dasar curang.
Reyhan kembali m****** bibir Merisha, karena sekarang Merisha tidak berontak maka Reyhan pun melakukan lebih jauh lagi.
Dia tidak peduli kalau dia sudah mandi, karena hasratnya saat ini lebih penting.
Bersambung!!!