
Setelah terlibat percakapan yang panjang dengan ayah, mereka berdua bubar ke kamar masing-masing.
"selamat malam ayah".
"kau juga nak selamat malam".
Reyhan menaiki tangga demi tangga sampai di depan pintu kamar Merisha.
apa dia sudah baikan.
Reyhan membuka pintu dengan pelan supaya tidak membangunkan Merisha.
Seperti yang sudah dia duga, Merisha sudah terlelap tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai bawah dagu.
Reyhan perlahan menaiki kasur memasukan tubuhnya ke dalam selimut dan memeluk Merisha dengan erat.
"Merisha, apa kau sudah tidur". tanya Reyhan setengah berbisik pada Merisha sambil mencium leher Merisha.
"hmmm". Merisha yang setengah sadar menanggapi pertanyaan Reyhan. Walaupun matanya tidak terbuka, tapi dia tetap bersuara.
"apa perutmu sudah merasa lebih baik". ucap Reyhan sambil mengelus perut Merisha.
"hmmm".
"apa kau tidak berterima kasih pada ku".
"hmmm".
Merisha hanya menanggapi dengan singkat semua perkataan Reyhan, karena dia sudah malas berbicara lebih dan sangat mengantuk.
"aku mau hadiahku jika kau puas dengan jasaku tadi pagi". Reyhan merengek pada Merisha, Merisha sendiri sudah tidak bersuara dia sudah di dalam mimpi indahnya.
Reyhan mendongakan kepala melihat Merisha yang sudah tidur dari tadi, hanya suara nya saja yang menanggapi sedangkan matanya sama sekali tidak terbuka.
"aku akan menganggap diam mu sebagai kata "iya", dan aku saja yang memilih hadiah apa yang aku mau".
Reyhan kembali mencium Merisha, dia mencium dahi Merisha di susul kedua pipi, hidung, kedua mata Merisha serta tak lupa nya di bibir kecil Merisha, waktu untuk mencium bagian ini memang lama.
Setelahnya, dia turun ke leher Merisha mencium keras sampai meninggalkan bekas merah, Reyhan melepaskan baju Merisha kecuali celana nya karena dia tau Merisha masih datang bulan jadi dia akan berusaha menahan hasrat nya untuk itu.
Reyhan mengelus perut Merisha dengan lembut, karena panas tubuh Merisha yang menurut Reyhan sangat nyaman.
Reyhan memberi kecupan singkat di perut Merisha, tanpa dia duga Merisha tertawa walaupun masih dalam mata tertutup dan tawa yang tidak langsung keluar dari mulutnya.
Reyhan mengulangi kecupannya, dan Merisha juga mengulang tawa nya tadi.
Setelah Reyhan puas dengan pemberian stempelnya, dia pun berhenti dan sebelum itu dia memberi ciuman dalam di bibir Merisha.
Reyhan memeluk Merisha dengan erat, dan entah kenapa Merisha membalas pelukan Reyhan, mungkin dia mengira Reyhan bantal nya.
Reyhan yang mendapar pelukan dari Merisha tentu saja bahagia, mungkin malam ini dia bisa bermimpi indah.
Merisha, aku akan berusaha untuk membahagiakan mu, walaupun tanpa ayah pinta aku memang berniat untuk membuat mu merasakan cinta, menjadi teman seumur hidup mu selamanya.
Reyhan mengecup lembut dahi Merisha dan tertidur.
{Pagi hari}
Merisha bangun lebih awal dari Reyhan, dia melihat kalau baju nya sudah terburai di lantai.
si mesum ini kenapa tidak pernah puas. aku bahkan tidak sadar kalau dia membuka bajuku semalam.
Merisha mengangkat tangan Reyhan hati-hati takut membangunkannya.
Merisha berlalu pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai, Merisha pergi ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya, dia melihat kalau Reyhan belum bangun juga.
Merisha mencoba mengguncang-guncang tubuh Reyhan supaya bangun, tapi nihil dia bahkan tidak bereaksi.
Merisha menyelesaikan pekerjaannya, dan dia mencoba membangunkan Reyhan tapi tidam juga berhasil.
mungkin perlu cara lain, tapi cara seperti apa.
Bersambung!!