MY LITTLE WIFE (Merisha & Reyhan)

MY LITTLE WIFE (Merisha & Reyhan)
Bahagia?



{ keesokan pagi nya }


"kau harus ikut aku nanti". ucap Reyhan yang saat ini sedang mengenakan jas nya.


"kau tidak lihat ini". dengan wajah merengut Merisha memperlihatkan tanda merah di rahangnya.


"bagaimana aku menutupi ini". lanjut Merisha.


Reyhan hanya mengangkat bahu tanda dia tidak peduli bahkan dia ingin tanda itu tidak disamarkan atau disembunyikan supaya orang yang melihat terutama laki-laki tidak akan pernah mendampingi istri kecil nya ini.


Reyhan menghampiri Merisha yang sedang melamun sambil menatap langit-langit kamar. Dia mengecup bagian rahang yang masih membekas jelas bekas ciumannya kemarin.


Merisha terkejut dengan Reyhan yang tiba-tiba sudah di depannya dengan menyodorkan sebuah dasi.


"apa yang kau lamunkan".


"tidak ada".


Merisha mengambil dasi dari tangan Reyhan dan mengikatkan nya di kerah baju Reyhan.


"aku disini saja ya".


"kenapa. kau tidak mau mengikuti. kau tidak sayang padaku. apa kau tidak takut kalau tiba-tiba nanti ada wanita yang sengaja menggoda ku". pertanyaan bertubi-tubi di lontarkan Reyhan dengan suara memelas nya.


"kau seperti anak kecil saja. kau bisa jaga diri kan, kalau ada yang menggoda mu bilang saja kau punya istri dan kalau mereka tidak tau siapa istri mu suruh mereka cari di internet". Merisha juga tidak kalah memberi pernyataan bertubi-tubi pada Reyhan dengan wajah acuh nya membuat Reyhan bertanya-


tanya kenapa istri nya ini sungguh tidak romantis.


"sayang, aku mohon. ya ya. ikut aku. hiksss. kalau aku diculik bagaimana". perlu usaha yang besar untuk membuat Merisha menuruti keinginan nya.


"itu lebih mustahil, tubuh mu yang seperti ini memangnya orang mana yang bisa menculik mu, kau juga punya Abi sekretaris mu yang selalu menempel pada mu bahkan mungkin dia ada diluar pintu itu dari tadi".


duh ketahuan. Abi.


"hmm ya sudah kalau begitu. aku berangkat". dengan kesal Reyhan pergi dan meninggalkan Merisha yang masih diam di tempat nya.


"apa aku salah". gumam Merisha lalu mengambil ponsel nya.


Dia juga sudah lama tidak menghubungi Fahra karena Reyhan melarang Merisha memainkan ponsel jika bersama diri nya.


"hai". sapa Merisha saat sambungan ponsel nya untuk Fahra sudah di terima.


hai. kau dimana selama. kau ya benar benar melupakan ku sekali setelah menikah.


Merisha tertawa mendengar ocehan Fahra yang memang benar kalau setelah menikah Merisha jarang menghubungi Fahra, ya itu semua karena Reyhan.


"kau tau kan Reyhan melarangku memegang ponsel jika bersama nya, dan kalaupun tidak aku juga tidak ingat untuk menghubungi mu, tapi karena aku ingat kali ini maka nya aku menghubungi mu". Merisha terus cengengesan sehingga membuat Fahra kesal mendengarnya.


"apa kau mau aku jodohkan".


hei hei jangan macam-macam kau ya. sejak kapan kau memiliki sikap seperti ini, biasanya juga tidak akan memberi saran seperti ini kau selalu acuh pada ku.


"ya itu karena aku mempunyai kenalan yang mungkin cocok untuk mu".


akhh tidak usah. biarkan saja aku sendiri dulu lagipula jodoh kan tidak kemana seperti kau saat ini. kau pasti bahagia sekali ya.


Mendengar arah pembicaraan Fahra sudah mulai tentang nya, dia pun mengalihkan nya ke topik lain.


"ekhhemm, bagaimana hari-hari mu bekerja".


ck.. Merisha, kenapa kau tidak mau mengakui nya. kau bahagia bukan, apalagi saat ini kau kerja di kantor Reyhan. kau juga harus akting supaya wanita yang ingin mengganggu hubungan mu dan Reyhan mendapat pengakuan sendiri dari Reyhan langsung bahwa dia bukan siapa-siapa nya.


ayolah Merisha, buka hati mu.


"Fahra, bukan begitu maksud k.. ".


sudah, aku tidak mau bicara padamu kalau perasaan mu belum jelas seperti ini. aku tutup bye.


Fahra menutup ponsel sepihak, meninggalkan Merisha yang masih membeku dengan ucapan panjang lebar dari sahabatnya itu.


"ehh kenapa Fahra juga marah-marah. memangnya aku salah apa".


Merisha naik ke atas kasur dan merebahkan tubuh nya sambil menatap langit-langit kamar.


"bahagia. haha bahagia ku hanya untuk ayah". Merisha tertawa masam mengingat kata bahagia. Ya hanya ayah nya yang layak untuk dia bahagia kan.


*tapi kenapa hati ku sakit ya saat Reyhan marah tadi.


bahagia kata Fahra, meyakinkan perasaan, dan membuka hati, semua itu jika ku lakukan mungkin akan menyakiti ku suatu hari nanti.


aku tidak mau karena orang lain aku harus membuang air mata berharga ku, aku tidak mau hati ku sakit Karen orang lain.


tidak tidak Fahra untul saat ini aku tidak bisa, walaupun aku juga belum pernah berhubungan dengan laki-laki sebelumnya, tapi hati ku ini selalu bilang kalau aku jangan terlalu bergantung, jangan terlalu mencintai, dan jangan terlalu bahagia bersama nya.


aku harus menjaga diri ku sendiri*.


Merisha tertidur padahal masih pagi, tapi entah kenapa akhir-akhir ini dia mudah lelah ,bahkan mengantuk saat badannya masih segar.


Merisha meringkuk diselingi dengan isakan yang dia sendiri tidak tau kenapa harus menangis di saat seperti ini.


Bersambung!!!