
{di kamar Merisha & Reyhan}
Saat Reyhan masuk ke kamar, dilihat nya Merisha yang sedang menyandarkan kepala ke pinggiran sofa dengan mata yang terpejam.
Kegelisahan semakin menyelimuti Reyhan saat melihat Merisha terus meringis seperti menahan kesakitan.
Reyhan pun menghampiri Merisha dan menggenggam erat tangan Merisha.
"sayang kau kenapa". tanya Reyhan dengan raut wajah gelisah yang belum hilang.
Merisha tidak menjawab pertanyaan Reyhan, tapi terlihat ada sesuatu yang mengalir dari mata nya.
Reyhan begitu terkejut dan dia rasa bersalah nya semakin besar karena mengira kalau Merisha sakit saat dia memutar nya di pantai tadi.
Terdengar isakan lemah dari Merisha yang masih saja tidak membuka mata nya.
"Reyy.. kepalaku sakiit. hikss".
Merisha terus meremas rambutnya hingga rambut yang terlihat anggun tadi kini menjadi berantakan.
Hati Reyhan sakit sekali melihat Merisha seperti ini, dia melepaskan tangan Merisha dari rambutnya dan menggendong Merisha kemudian dia rebahkan di atas kasur.
Saat itu pula, Abi mengetuk pintu memberitahukan kalau dokter sudah datang.
Reyhan memperbolehkan dokter itu masuk dan langsung memeriksa kondisi Merisha.
Dokter itu dengan serius memeriksa semua alat vital Merisha, dan karena dia mendapat keluhan kalau Merisha sedang sakit kepala dokter itu pun langsung memeriksa nya.
Setelah selesai, Reyhan yang masih setia berada di sisi Merisha itu pun bertanya.
"bagaimana". tanya Reyhan dengan suara yang terkesan dingin tapi bercampur dengan kegelisahan.
"tidak ada yang aneh, tuan. Semuanya baik-baik saja". ucap dokter itu yang bernama Lyna.
"tapi kenapa dia sampai seperti ini". tanya Reyhan lagi.
"itu hanya sakit kepala biasa, saya juga tidak tau kenapa reaksi nya sampai separah itu".
aaa didengar dari suara nya seperti nya dia fanatik Reyhan juga. Terdengar tak enak di telinga ku karena dia terus berdecak kesal pada ku. Apa Reyhan tidak mendengar nya.
"apa anda dokter gadungan, kenapa tidak tau masalah seperti ini. Dimana Garild. Kenapa anda yang datang". sungguh kesal sekali Reyhan dengan dokter Lyna ini. Dia hanya tau nama penyakit dan tanpa tau reaksi lebiu daru penyakit itu sendiri. Bahkan penampilan nya saat ini melebihi ilmu nya.
"tidak tuan, saya bukan dokter gadungan. Ketua Garild sedang ada urusan kata nya, maka nya dia menyuruh saya yang kesini. Lihat ini name tag saya".
dokter Lyna dengan sengaja membusungkan dada ke arah Reyhan yang saat itu spontan memundurkan kepala nya dari serangan wanita itu.
Merisha perlahan membuka mata nya dan dilihat nya dokter wanita yang seakan-akan ingin naik juga ke atas kasur dan dilihat dia sekarang sedang menggoda Reyhan.
Daripada lama-lama melihat wanita penggoda lagi, Merisha pun langsung memanggil Reyhan.
"sayang". panggil Merisha dengan nada datar.
Reyhan seketika langsung teralihkan saat mendengar suara Merisha.
"kau tidak apa-apa". tanya Reyhan khawatir.
"aku sudah lebih mendingan sekarang. Siapa dia". tanya Merisha dengan raut wajah datar.
"dokter".
"ya aku tau dia dokter, tapi kau lihat penampilannya. Apa dia terlihat seperti seorang dokter".
Walaupun dengan suara yang masih lemah, dapat Reyhan kira kalau Merisha saat ini sedan cemburu.
"kau cemburu, sayang". tanya Reyhan dengan tawa kecil.
"mana ada. Ya sudah jika kau mau bermain dengan dokter itu pergi. Aku mau istirahat". Merisha kembali memejamkam mata dan tanpa diduga Reyhan ikut berbaring.
"Abi, suruh dia keluar dan hubungi Garild langsung bukan gadungan seperti dia.
Dan apa saat ini kau luang sampai tidak memperhatikan bawahan mu.". ucap Reyhan yang terus memijat pelan kepala Merisha.
"maaf, tuan".
"kau.. keluarlah dan jangan pernah kemari lagi". Abi pergi mendahului dokter Lyna.
Dokter Lyna seperti mendapat petir di siang bolong.
Apa dia akan dipecat? Sudah tau Reyhan punya istri kenapa dia berani untuk terang-terangan menggoda.
"m ma maaf tuan, saya salah. Saya akan berusaha segiat mungkin untuk menambah ilmu dan tidak memakai pakaian seperti ini lagi.
Kalau gitu saya permisi, tuan". dokter Lyna menunduk tanda hormat dan berlalu pergi meninggalkan pasangan yang saling berpelukan itu.
"kau sungguh tidak apa-apa kan". tanya Reyhan lagi saat dokter Lyna sudah keluar.
"hmmm. Awal nya aku sakit perut dan memang sakit kepala saat kau mengangkat ku, aku kira cuma masuk angin maka nya aku langsung meninggalkanmu disana tadi. Maaf ya aku berteriak padamu tadi". Merisha membuka mata dan mendongak melihat Reyhan yang sedang memijat kepala nya pelan.
kenapa jadi saling merasa bersalah seperti ini.
Bersambung!!!