
"kan aku sudah bilang disini dingin, kenapa kau nakal sekali tidak mau mendengarkan aku". ucap Reyhan dengan memeluk erat Merisha dari belakang dan diselimuti oleh selimut tebal.
"ehh". seketika Merisha membelalakan mata nya dan menolehkan kepala nya ke samping walaupun tetap tak terlihat wajah Reyhan yang berada di belakang nya.
"kau.. kau tidak membunuhku". tanya Merisha tergagap.
Mendengar pertanyaan Merisha membuat Reyhan kebingungan.
"apa yang kau pikirkan dari tadi, bodoh". gerutu Reyhan sambil terus mengeratkan pelukan nya agar bisa menghangatkan Merisha.
"kau tidak marah padaku". tanya Merisha lagi.
"tentu saja aku marah, memangnya suami mana yang tidak kesal jika istri nya membantah, dan maka dari itu kau harus menerima hukuman mu nanti". ucap Reyhan menggoda Merisha.
"hentikan, ini diluar". Merisha terus mengedutkan lehernya karena bibir Reyhan tidak bisa berhenti untuk mencium nya.
"ini sebagai permulaan saja. Sebaiknya kau
pikirkan nasib mu nanti bagaimana, sayang". Reyhan memberikan ciuman terakhir barulah dia menghentikan ulah nya.
"duduk". Reyhan menekan Merisha agar duduk dengan tenang pastinya dia tidak melepaskan pelukannya.
Merisha menuruti perkataan Reyhan dan dia pun duduk dengan tenang.
Dihadapan mereka berdua saat ini, terlihat lautan luas yang entah sampai mana baru bertemu dengan daratan yang lain.
Dihiasi kemilau bulan yang memantul di permukaan air. Indah.
Setelah puas melihat pemandangan yang sedari tadi ingin dia lihat, Merisha langsung berpikir ke arah lain.
ngomong-ngomong soal hukuman, kenapa dua bulan ini aku belum datang bulan juga ya. Ya aku pernah telat sih, tapi tidak sampai seperti ini.
Apa jangan-jangan...
Merisha sekali-sekali melirik pada Reyhan walaupun hanya mata nya saja yang bergerak, tapi entah kenapa Reyhan tau.
"apa yang ingin kau bicarakan". tanya Reyhan dengan membenamkan wajah nya di leher Merisha.
bagaimana dia bisa tau.
"Rey".
"hmmm".
"jika suatu saat aku hamil, apa kau akan menjaga ku". tanya Merisha sambil memandang ke depan.
"tentu saja". ucap Reyhan dengan penuh semangat. Mungkin karena perbincangan nya tentang anak mereka kelak.
"kau semangat sekali". tawa Merisha.
"tentu... ". ucapan Reyhan terpotong saat mendengar pernyataan Merisha.
"tidak seperti ku, aku masih takut. Pengecut sekali bukan". Merisha tertawa masam dengan pandangan nya masih lurus kedepan.
Reyhan memandangi Merisha dengan tatapan mengiba.
"sayang". panggil Reyhan.
"hmmm".
"lihat aku". perintah Reyhan.
Merisha pun menoleh ke samping dimana Reyhan berada.
"mmmm".
Reyhan m****** bibir Merisha. Menekan tengkuk Merisha untuk memperdalam ciuman nya.
Dan setelah beberapa saat, Reyhan melepaskan ciuman nya.
"kau istriku bukan". tanya Reyhan.
"kenapa bertanya".
"yaaah karena istriku itu bukan penakut apalagi pengecut, dia bahkan telah membantu ku memberantas para penggemar gila ku. Dia membuat ku kagum". Reyhan menatap langit-langit berbintang sambil tersenyum.
kenapa aku cemburu pada diriku sendiri.
Reyhan diam-diam melihat Merisha yang seperti nya sedang memikirkan hal lain
Walaupun Reyhan mengatakan sambil tertawa, Merisha dapat mengambil kesimpulan dari yang dikatakan Reyhan.
"jadi ayo kita buat". bujukan Reyhan mengandung keambiguan.
"buat. buat apa". tanya Merisha kebingungan.
Reyhan mengusap perut datar Merisha dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah
Merisha memerah.
"kita buat ini". bisik Reyhan dengan suara menggoda.
"ap.. ".
Tanpa mendengar Merisha lagi, Reyhan langung membopong Merisha yang telah dlilit nya dengan selimut.
Abi yang melihat pemandangan itu kembali menghembuskan napas dan tersenyum singkat.
memangnya tahan kalian berdua ini bertengkar seharian.
Sementara Reyhan membawa Merisha sampai ke kamar.
Setelah memasuki kamar, Reyhn melempar Merisha sembarang di atas kasur. Karena tubuh Merisha masih dililit selimut dengan kuat, bahkan tangan saja belum keluar.
"lepaskan ini". Merisha terus memberontak layak nya seekor ulat.
haha lucu sekali.
Reyhan perlahan naik ke kasur dan melepaskan lilitan selimut.
"bagaimana ulat bisa hidup seperti ini seumur hidup". Merisha merasa lega setelah lilitan selimut itu di buka, tapi saat ia ingin bangun tiba-tiba Reyhan menindih nya.
"mau kemana". tanya Reyhan.
"mau tidur lah".
"nanti saja". Reyhan menunduk dan menempelkan bibir nya dengan bibir Merisha.
"mmm".
Tangan Merisha terus mencoba mendorong Reyhan, tapi tidak bisa malahan tangan nya langsung di angkat Reyhan dan diletakkan nya ke atas kepala Merisha.
Setelah di bibir, Reyhan berganti ke leher Merisha. Di buat nya tanda merah sana sini.
Sementara Merisha seperti ada sesuatu yang dia rasakan.
kenapa ini. Rasanya tidak nyaman sekali.
Sementara Reyhan masih melanjutkan aktivitas nya dan bahkan saat ini dia sedang melepaskan pakaian nya dan juga Merisha.
Reyhan beralih mencium di bagian dada Merisha. Jika berada dibagian itu Reyhan selalu terlihat seperti kesetanan, tidak bisa lembut sedikitpun.
aku ingin muntah.
Karena sudah tidak tahan dengan rasa aneh ini, Merisha sekuat tenaga berusaha membalikan posisi mereka dan ternyata berhasil.
"wahh apa sekarang kau mau mencoba". dengan senyum tak tau malu nya Reyhan tunjukan dengan tangan nya yang tidak bisa diam di dada Merisha.
kenapa tidak ada rasa muntah lagi.
apa...
Untuk membuktikan sesuatu Merisha harus berinisiatif.
Merisha terlihat diam sebentar melihat Reyhan dibawah nya sampai dia memutuskan untuk mencium Reyhan.
Dan benar saja, belum lama dia mencium Reyhan muntah nya kambuh.
Merisha pun bangun dan segera merapikan tidurnya.
Sementara Reyhan melihat Merisha dengan keheranan, apalagi saat Merisha menaruh sebuah guling di tengah-tengah mereka.
"ini batas, jangan sampai kau melewati nya. Jika kau lewat maka tidak jatah untuk mu". Merisha langsung merebahkan diri dengan tubuh yang tidak memakai sehelai benangpun.
apa lagi ini.
Bersambung!!!