
"Reyhan". teriak Merisha di dalam ruang ganti. Reyhan yang ingin memejamkan mata langsung mengurungkan niat mendengar teriakan Merisha dan langsung menghampiri sumber suara.
"ada apa". dengan suara khawatir Reyhan langsung masuk ke ruang ganti dan dia melihat Merisha yang masih berbalut handuk dengan rambut yang masih basah.
deg!
ini anak mau nguji atau apa.
"kenapa semua baju tidurku model nya seperti ini". Merisha mengambil satu baju tidurnya di lemari dan menunjukan pada Reyhan.
aku kira apa.
Reyhan menghembuskan napas pelan dia lega karena Merisha tidak apa-apa.
Tapi dia langsung tersenyum begitu melihat wajah Merisha yang memerah gara-gara baju tidurnya
"memangnya kenapa". Reyhan berusaha menahan tawa nya dengan suara datar.
"aku masih dibawah umur untuk memakai pakaian seperti ini. aku tidak mau pakai". ucap Merisha mengembalikan baju ke dalam lemari.
"dan kau ingin memakai handuk saja seperti itu, apa kau ingin menggoda ku".
Merisha melihat penampilannya saat ini yang masih menggunakan handuk dan rambut yang basah.
"ya sudah aku pakai kau pikir aku menggoda mu, dasar narsis. pergi sana aku mau ganti baju".
"buat apa aku keluar karena kau telah membangunkanku, aku juga mau mandi, terima kasih ya". Reyhan masuk ke kamar mandi meninggalkan Merisha yang masih kebingungan apa dia harus memakai baju itu.
bagaimana ini, kalau si mesum sudah berulah memangnya hal apa yang bisa menghentikan dia. semoga saja dia tidak tau datang bulan ku sudah habis.
Dengan berat hati Merisha memakai baju tidur yang menerawang itu.
astaga percuma saja memakai ini, bagian mana yang mau di sembunyikan kalau begini.
aku harua cari cardigan ku untuk menutupi nya.
Merisha keluar dari ruang ganti dengan menggunakan baju tidur yang berkerawang yang disembunyikan di balik cardigan tipis nya tapi cukup untuk menyembunyikan bagian tubuhnya yang terlihat.
Dia langsung naik ke kasur membenamkan seluruh tubuhnya di selimut.
"sayang bangunlah aku tau kau pura-pura tidur, keringkan rambut ku dan rambutmu juga pasti masih basah sini aku keringkan juga". Reyhan duduk di tepi kasur samping Merisha.
sudah lah aku tidak peduli tentang rambutku, memangnya kau tidak punya tangan keringkan rambut mu sendiri.
aku lebih sayang nyawaku dari pada rambutku. pergi sana cepat.
Lama tidak mendengar jawaban Merisha, Reyhan langsung menyibak selimut sampai seluruh tubuh Merisha terlihat. Matanya masih tertutup, tapi Reyhan tau kalau Merisha pura-pura tidur.
memangnya aku tidak tau kau pura-pura tidur.
"bangun atau". belum habis apa yang ingin Reyhan katakan tiba-tiba Merisha membuka mata nya.
Reyhan tergelak melihat ekspresi Merisha yang sedikit kesal.
"keringkan rambut ku". Reyhan menyerahkan handuk nya ke Merisha.
"memangnya kau tidak punya hair dryer ,kau juga punya tangan kenapa minta aku keringkan".
"aku tidak mau memakai itu, benda itu bisa membuat rambut rusak. kau juga mulai sekarang tidak boleh memakai nya lagi".
Reyhan meraih tangan Merisha agar mengikut nya.
Mereka duduk di ujung kasur dengan Merisha yang setengah duduk di belakang Reyhan sambil mengeringkan rambutnya.
Merisha mengeringkan rambut Reyhan dengan pelan sehingga Reyhan merasa nyaman.
"ke depan". ucap Reyhan yang masih memejamkan matanya menikmati kenyamanan gosokan kepala dari Merisha.
"apa. buat apa, aku bisa dari sini sudah hampir selesai".
Reyhan menarik tangan Merisha supaya Merisha bergerak.
"ke sini". Reyhan masih tetap ingin Merisha beralih ke depannya.
Dan Merisha pun menuruti nya.
Bersambung!!