
Setelah sepagian Reyhan menyalurkan gairah nya pada Merisha, akhirnya saat ini mereka berdua turun untuk sarapan bersama ayah seperti biasa nya.
"jam berapa kau pulang semalam nak Reyhan". tanya ayah yang saat ini sedang menyeruput kopi nya.
"sudah larut ayah. semalam mendadak ada tamu penting yang berkunjung". jawab Reyhan memakan sepotong roti yang telah di olesi selai buah.
Ayah mengangguk dan kembali memakan roti nya.
Reyhan diam-diam mencuri pandang pada Merisha yang saat ini sedang fokus memakan roti nya dan meminun segelas susu hangat.
Ide jahil kembali terlintas dipikirannya.
Di turunkan nya tangan kanan nya ke bawah meja dan mengarahkan tangannya ke paha Merisha.
pufftt!!
Untung saja minuman nya sudah di telan. Merisha hampir saja tersedak karena tangan Reyhan yang tiba-tiba mendarat di paha nya.
Ayah langsung menoleh pada Merisha yang sedang terbatuk ringan.
"ada apa, Merisha". tanya ayah dengan nada khawatir.
"tidak ada apa-apa, ayah. aku cuma tersedak". Merisha tertawa paksa mencoba mengalihkan perhatian ayah nya.
"hati-hati saja makan nya tidak ada yang berebut dengan mu".
"baik, ayah".
Merisha langsung menatap tajam pada Reyhan yang saat ini kembali menyantap makanan nya, seperti tidak berdosa. Reaksi nya cuma tertawa kecil bahkan hanya Merisha yang melihat nya.
Setelah selesai sarapan bersama, Merisha dan Reyhan pamit pergi ke kantor.
Karena saat ini Merisha masih pekerja magang di perusahaan Reyhan.
Tapi dua hari lagi magang Merisha akan berakhir dan untuk selanjutnya entah apa rencana Merisha.
Di dalam mobil, Reyhan terus meracau mengganggu Merisha yang semenjak dari rumah tadi terus bermimik datar.
"kau kenapa". tanya Reyhan dengan wajah memelas yang di buat-buat.
Merisha mengangkat bahu sebagai jawaban.
Melihat Merisha seperti tidak bersemangat, Reyhan langsung berinisiatif mendudukan Merisha di pangkuan nya.
"kau kenapa". tanya Reyhan lagi.
"bukan apa-apa. aku serius". Merisha mencoba meyakinkan Reyhan kalau dia tidak apa-apa.
"hmm baiklah jika kau tidak mau memberitahuku, tapi kau harus bersiap-siap saat datang ke kantor nanti aku harap mental mu kuat menghadapi nya".
Merisha menaikan alis sebelah dan mencoba menebak maksud Reyhan.
"apa lagi yang kau rencanakan".
Reyhan menundukan kepala Merisha sehingga dahi mereka saling bertemu.
"tidak ada". Reyhan mencium bibir Merisha dengan lembut dan terus memainkan lidah nya di mulut Merisha.
Jika saja Reyhan tidak memaksakan diri untuk menyudahi nya, mungkin saja dia melakukan nya lagi disini.
"dasar kau penggoda kecil". Reyhan memeluk Merisha dengan erat mencium aroma wangi di tubuh Merisha.
apanya penggoda kau saja yang sudah tergila-gila.
"sayang, kau tidak turun". tanya Reyhan yang saat ini sudah berada di luar membuka pintu mobil untuk Merisha.
"apa kau lupa hal yang aku beritahu padamu dulu, tentang aku mau berangkat sendiri ke kantor, kalau orang lain melihat aku bersama mu bagaimana".
"bilang saja kau istriku".
"kau nyaman-nyaman saja, kalau aku beda lagi hati para wanita dikantor mu ini picik-picik semua". Merisha mendengus kesal jika mengingat karyawan wanita yang bekerja di kantor Reyhan.
"tapi kau punya kemampuan kan menghadapi nya. ayolah dimana istriku yang sempurna setiap saat, hebat dalam menghadapi musuh, tapi payah dalam hal laki-laki". di balik pujian ada hinaan. Baru saja Merisha ingin terbang mendengar pujian dari Reyhan, tapi saat mendengar hinaan halus dari Reyhan wajah nya berubah kesal.
"haaahh.. biar saja. kau beruntung bisa menikahi ku yang belum pernah pacaran ini. aku masih suci". Merisha mulai menyombongkan diri, dia keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk.
Disusul Reyhan yang tidak mau Merisha meninggalkan nya dia pun menggandeng tamgan Merisha tidak peduli tatapan heran para karyawan yang berada di sana.
Sebaliknya, Merisha bukannya tidak peduli tentang tatapan orang-orang, tapi dia benar-benar tidak menyadari nya.
Dia masih sibuk bersenda gurau dengan Reyhan. Sama-sama pasangan narsis.
Sampai di depan lift Merisha yang hendak berjalan ke lift karyawan, tiba-tiba tangannya di tarik dan ikut masuk ke lift khusus presdir.
"hei bagaimana kalau ada orang yang melihat aku keluar dari sini".
"biar saja".
Menyadari kalau sekretaris Abi tidak ikut di lift ini Merisha pun bertanya.
"dimana sekretaris Abi".
"dia ku suruh naik saat kita berdua sudah sampai di atas".
"kenapa tidak bersama saja".
"aku tidak mau dia mengganggu. dan ku peringatkan ya jangan membicarakan pria lain di hadapan ku".
Merisha pura-pura bertanya dengan polos.
"berarti kalau tidak di hadapan mu boleh".
"tidak. kalau sampai kau membicarakan pria lain dibelakang maupun didepan ku. kau akan menerima hukuman".
"kau tidak bisa menghukum ku".
"baiklah sesuai permintaan mu". Reyhan mendekati Merisha perlahan dan spontan Merisha mundur ke belakang sampai belakangnya menyentuh dinding lift.
"apa. aku tidak menyebutkan kalau aku mau di hukum".
Merisha menutup mulut nya, tapi hal itu tidak bisa menahan Reyhan yang saat ini sudah semakin dekat pada nya.
"ini kantor kau jangan macam-macam".
Reyhan mengangkat bahu singkat dan tertawa kecil.
"aku tidak macam-macam, tapi hanya semacam". Reyhan memeluk Merisha dan menurunkan tangan yang sedari tadi berusaha menutupi mulutnya sendiri.
Reyhan m****** bibir Merisha menekan tengkuk nya agar lebih memperdalam ciumannya.
Ciuman mereka terhenti saat bunyi lift sampai di lantai tujuannya.
Bersambung!!!