
Merisha kembali memejamkam mata dan tanpa diduga Reyhan ikut berbaring.
"Abi, suruh dia keluar dan hubungi Garild langsung bukan gadungan seperti dia.
Dan apa saat ini kau luang sampai tidak memperhatikan bawahan mu.". ucap Reyhan yang terus memijat pelan kepala Merisha.
"maaf, tuan".
"kau.. keluarlah dan jangan pernah kemari lagi". Abi pergi mendahului dokter Lyna.
Dokter Lyna seperti mendapat petir di siang bolong.
Apa dia akan dipecat? Sudah tau Reyhan punya istri kenapa dia berani untuk terang-terangan menggoda.
"m ma maaf tuan, saya salah. Saya akan berusaha segiat mungkin untuk menambah ilmu dan tidak memakai pakaian seperti ini lagi.
Kalau gitu saya permisi, tuan". dokter Lyna menunduk tanda hormat dan berlalu pergi meninggalkan pasangan yang saling berpelukan itu.
"kau sungguh tidak apa-apa kan". tanya Reyhan lagi saat dokter Lyna sudah keluar.
"hmmm. Awal nya aku sakit perut dan memang sakit kepala saat kau mengangkat ku, aku kira cuma masuk angin maka nya aku langsung meninggalkanmu disana tadi. Maaf ya aku berteriak padamu tadi". Merisha membuka mata dan mendongak melihat Reyhan yang sedang memijat kepala nya pelan.
kenapa jadi saling merasa bersalah seperti ini.
Reyhan tersenyum, lalu menarik dagu Merisha dan mencium bibir Merisha.
"justru aku yang merasa bersalah karena telah membuat mu kesakitan, tapi dari pernyataan mu tadi seperti nya kau tidak terlalu mengeluhkan sakit kepala mu".
"aku sudah biasa mengalami nya".
Jawaban singkat Merisha membuat Reyhan bertanya-tanya.
"apa waktu kecil kau sudah mengalami sakit ini". tanya Reyhan memastikan.
Dan dibalas anggukan oleh Merisha.
"aku sedang tidak ingin berdebat dengan mu saat ini karena memanggilku bodoh.
Untuk periksa semuanya telah ku lakukan, segala macam pemeriksaan telah aku jalani bahkan ayah membawaku ke dokter yang sangat ahli dalam urusan saraf di otak ataupun masalah kepala.
Dan beliau juga mengatakan kalau sakit ku ini hanya sakit biasa, dan untuk reaksi nya mm apa ya aku tidak ingat lagi.
Intinya sakit ku ini hanya sakit biasa, jadi kau tenang saja ya".
Reyhan tidak menjawab, dia sibuk memikirkan bagaimana derita Merisha dimasa lalu saat sakit kepala nya melanda.
Baru saat ini saja dia melihat Merisha benar-benar kesakitan hatinya terasa tercabik-cabik, apalagi membayangkan ayah mertua nya yang kesusahan dan khawatir dengan kondisi anak semata wayang nya ini.
Pergi ke negara-negara yang terkenal akan bidang medis nya, juga tidak bisa mendeteksi penyakit Merisha.
Lama Reyhan melamun sampai tidak menyadari kalau orang yang dia peluk dari tadi sudah tertidur pulas terasa dari pelukannya yang mulai mengendur.
Reyhan mengecup kening Merisha dan mengeratkan pelukan nya.
"terlalu banyak rasa sakit yang kau pendam Merisha. Aku salut padamu". Setelah memberikan pijatan di kepala Merisha, Reyhan pun ikut tertidur.
Sementara, di luar terdengar ocehan tak jelas dari seorang dokter muda nan tampan.
"bagaimana ini, dia juga ikut tertidur. Apa aku harus menunggu. Sampai kapan". pertanyaan beruntun dilontarkan dokter Garild pada Abi yang bahkan tidak menghiraukan nya.
"begini cara kalian memperlakukan tamu terhormat sepertiku. Yang satu nya kasmaran, dan yang satu nya lagi pacaran dengan ipad. Dan bukannya urusan periksa sudah selesai, ada bawahan ku kan yang kesini tadi".
"heh.. bawahan mu seperti orang bodoh sama seperti dirimu. Berani sekali dia menggoda tuan muda di depanku, apalagi di depan istri nya tuan muda. Hei kau kriteria pegawai mu kenapa aneh-aneh semua".
"siapa yang bodoh. Dan dengarkan ini ya kriteria pegawai ku itu semua kau yang aturkan, aku hanya sebagai ketua rumah sakit, kau pengkoordiner nya, dan tuan muda Reyhan sebagai pemiliknya. Secara singkat, tuan muda tidak tertarik untuk mengatur bawahan, tapi kau yang mengatur semua nya, dan aku juga tidak punya wewenang selain sebagai ketua. Mengerti kak Abi".
Garils menanh dengan telak sampai Abi tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Bersambung!!!