MY LITTLE WIFE (Merisha & Reyhan)

MY LITTLE WIFE (Merisha & Reyhan)
Marah



Seminggu telah berlalu, hari ini Merisha mulai kuliah lagi karena cuti nya telah habis.


Pagi ini disambut dengan keceriaan Merisha yang sudah lama hilang sejak dia menikah dengan Reyhan.


Kemenangan tender nya membuat suasana hati nya berubah, padahal semalaman dia terjaga karena Reyhan tidak berhenti nya mengganggu tidur nya.


"kau benar-benar akan mengabulkan permintaan ku kan". tanya Merisha yang kini sedanh duduk di meja ria sambil mengeringkan rambutnya.


"hanya satu, kau jangan berlebihan". Reyhan beranjak dari kasurnya dan duduk di belakang Merisha, dia mengambil hair dryer dari tangan Merisha dan mulai mengeringkan rambut itu.


"ya ya aku tau, permintaan nya akan ku sebutkan jika aku perlu".


Setelah selesai di keringkan, Reyhan menguncir satu rambut Merisha saat mengikat nya tak jarang dia mengambil kesempatan mencium leher Merisha.


Sekarang giliran, Merisha yang mengeringkan rambut Reyhan tapi posisi mereka berubah.


Merisha duduk di pangkuan Reyhan.


Layaknya tugas seorang istri, Reyhan meminta Merisha menata rambutnya dan memasangkan dasi untuknya.


Saat melihat Merisha yang sedang fokus melilit dasi nya, Reyhan tersenyum.


"Merisha". panggil Reyhan dengan nada lembut yang bahkan tidak pernah Merisha dengar selama ini.


"hmm".


"bukankah lebih baik kau memanggil ku dengan sebutan sayang". ucap Reyhan sambil menarik punggung Merisha agar mendekat padanya.


"tidak perlu, aku lebih nyaman dengan panggilan sekarang, kau Reyhan dan aku Merisha. baiklah selesai ayo berangkat". Merisha mengencangkan ikatan dasi Reyhan dan menepuk-nepuk dada Reyhan untuk merapikan jas nya.


Merisha ingin berbalik pergi, tapi Reyhan masih menahan tubuhnya.


Merisha mendongakan kepala dan dia melihat wajah Reyhan yang dingin.


"mau atau tidak". suara Reyhan mulai meninggi.


Sementara Merisha langsung kesal karena Reyhan selalu memaksa nya.


"kau tidak boleh memaksa ku, kau selalu memaksa ku. apa kau tau ancaman, hukuman selalu kau tujukan padaku.


Ini sebab nya aku tidak mau berhubungan dengan lelaki, ini juga sebab nya aku paling benci lelaki. lepaskan".


Merisha benar-benar marah, dia selama ini selalu menahan emosi nya agar tidak marah pada Reyhan, tapi nyata nya dia luapkan hari ini.


Padahal dia ingin kuliah dengan semangat, tapi lagi-lagi Reyhan merusak mood nya.


Merisha tergolong gadis yang cengeng, walaupun dia tidak pernah menangis di depan orang, dia selalu mencari tempat sepi jika ingin meluapkan kekesalannya.


Dan tangisan yang selama ini dia tunjukkan pada orang-orang itu semua hanyalah sandiwara.


Pertahanan merisha hampir runtuh jika Reyhan tidak melepas nya saat itu juga.


Secepat kilat Merisha mengambil tas nya dan keluar. Bunyi pintu tertutup dengan keras sehingga ayah yang duduk di meja makan ikut terkejut.


Masih di depan pintu kamarnya, Merisha mengambil napas supaya air mata nya tidak terlihat oleh ayah nya.


Merisha berpura-pura ceria saat melihat ayah nya.


"ayah, Merisha gak sarapan ya, Merisha hampir telat nanti ngebut lagi". ucap Merisha sambil menahan suara nya yang bergetar dengan tawa.


"iya, hati-hati". ayah mengelus rambut Merisha dan mengecup dahi Merisha.


Setelah Merisha berlalu menuju mobil nya, akhirnya Reyhan pun turun.


Bersambung!!