
Setelah sampai di toko tujuan, Merisha dan Reyhan pun turun dari mobil nya.
Dengan penuh semangat Merisha menyusuri rak demi rak yang berjejer di toko tersebut.
Demi keselamatan Merisha, Reyhan pun mengikuti kemana kaki Merisha melangkah.
"hati-hati". ucap Reyhan dengan memeluk pinggang Merisha.
"hmmm.. bukannya kau tidak mau bicara dengan ku tadi". tuduh Merisha karena dia mengingat bagaiaman Reyhan tidak meresponnya tadi.
"kapan".
"memangnya kau tidak dengar aku tadi memanggilmu di mobil". desah Merisha kesal.
"kau memanggil ku ya, aku kira kau cuma berdehem biasa, jadi aku tidak menanggapi nya".
Reyhan hanya mengangkat bahu nya tak berdosa.
"ya sudah". dengan tampang cemberut nya Merisha melanjutkan belanjaan nya.
imut sekali.
Reyhan celingak celinguk melihat sekitar.
"ikut aku". ajak Reyhan sambil menarik tangan Merisha.
"ehh kemana". tanya Merisha.
"ikut saja".
Reyhan terus membawa Merisha hingga mereka sampai di rak paling ujung atau rak yang sepi pengunjung.
"hei kenapa kau membawaku kesini". ronta Merisha.
"tidak ada yang menarik". ucap Merisha sambil memandangi rak tinggi di depannya.
Tanpa dia sadari, Reyhan perlahan mendekati nya.
"yaah memang tidak, tapi kau iya". Reyhan menyibak rambut Merisha ke depan dan bibir nya mulai menempeli leher Merisha.
Dasar tidak tau tempat.
"euhh Rey kau tidak boleh melakukan ini, nanti kalau orang lihat bagaimana".
Reyhan sama sekali tidak menghiraukan apa yang Merisha khawatirkan, ya memang benar walaupun tempat mereka berdua saat sepi, tapi tidak menutup kemungkinan kan pengunjung akan kesini.
Reyhan melanjutkan aksi nya, dia memutar tubuh Merisha hingga menghadap nya.
"hentikan". desah Merisha saat Reyhan mencium leher depannya.
Dia beralih ke bibir Merisha dan ******* habis bibir kecil Merisha.
Dengan agresif lidah Reyhan bergerilya di dalam mulut Merisha.
Merisha terus meronta karena dia mulai samar-samar mendengar suara yang seperti nya semakin mendekat.
astaga bagaimana ini.
Dan suara itu semakin dekat seperti hanya berjarak dua rak dari mereka.
Hanya satu cara yang bisa Merisha lakukan supaya Reyhan bisa melepas sendiri ciuman nya, yaitu dengan ikut bermain dengan nya.
Merisha menarik leher Reyhan dan membalas ciuman panas Reyhan.
Yang tentu saja Reyhan suka.
Dan saat suara itu ada di rak belakang, Merisha pun melepaskan ciuman nya dan menutup mulut Reyhan dengan tangan nya.
"ahh iya kalau di toko ini memang banyak barang bagus apalagi untuk dijadikan buah tangan". suara 1
"yaa betul itu. Anak suka sekali jika aku belikan sesuatu dari toko ini". suara 2
"ya kan walaupun toko ini sederhana, tapi barang yang dijual lumayan... mesra". suara 1
Mata mereka terbelalak melihat pasangan yang diwarnai dengan merah muda itu (cinta), apalagi dengan manja nya suami tersebut memeluk istri nya dari belakang.
"astaga kapan suami ku bisa bermanja seperti itu". keluh suara 1
"suami ku saja boro-boro bersikap manja sama aku, kalau pulang ke rumah langsung minta makan, minta urut langsung tidur. Aku mau manja sama dia saja susah nya minta ampun. Dia bilang "aku capek".
Astaga maka nya anak kami saat ini masih satu gak nambah-nambah". curhat suara 2.
Setelah mereka melihat-lihat, dan akhirnya pergi juga.
Kembali menyisakan Reyhan dan Merisha.
Merisha menghembuskan napas panjang, lega.
Sementara Reyhan dari tadi terus tersenyum entah apa yang di pikirkan nya.
"menyenangkan ya dengar curhatan para ibu, tapi apa istriku ini suatu hari seperti itu juga ya.
Apa kau mau anak kita lebih dari satu". goda Reyhan sehingga membuat wajah Merisha memerah.
aaa kenapa aku malu dengar ibu-ibu tadi ngomong manja-manja sama suami.
Bersambung!!!