
Beberapa hari telah berlalu sejak perjamuan keluarga terlaksana.
Sikap Reyhan yang semakin hari semakin membaik membuat ibu semakin bahagia.
Akhirnya Merisha telah memenuhi harapan nya.
Tapi hari ini untuk pertama kali selama Merisha dan Reyhan menikah, Reyhan harus pergi ke luar negri untuk urusan bisnis.
Sebenarnya Reyhan ingin mengajak Merisha, tapi istri nya itu menolak dengan alasan tugas kuliah nya sedang menumpuk.
Jadi dengan berat hati Reyhan meninggalkan Merisha selama lima hari.
"hei bangun, bukankah kau hari ini akan berangkat ke luar negri. nanti kau terlambat".
Merisha menggoyang-goyangkan tubuh Reyhan yang masih melekat pada kasurnya.
Masih belum ada jawaban dari Reyhan, Merisha yang mulai kesal akhir nya menggunakan cara terbaik nya supaya Reyhan terbangun.
"Reyhaaaan". Merisha berteriak sekencang mungkin dan benar saja mata Reyhan langsung terbelalak.
Dia mengernyit kan dahi dan menggosok telinga nya yang kesakitan akibat teriakan Merisha.
"tidak bisakah kau membangunkan ku dengan cara yang lembut sedikit. kau ini perempuan lembut lah layak nya perempuan pada umum nya". dengan nada malas Reyhan berusaha mengumpulkan nyawa nya yang bertebaran karena ulah Merisha.
"ya sudah cari perempuan lain saja. kenapa kau menikahi ku kalau seperti itu. cih". dengan raut wajah tidak suka Merisha langsung turun dari kasur meninggalkan Reyhan yang masih belum sadar sepenuh nya.
"kau cepatlah bersiap-siap bukankah kau ada acara bisnis di luar negri".
Reyhan langsung mendekati Merisha yang sedang mengepak barang bawaan nya.
"kau begitu ingin mengusir ku dari sini". Reyhan memeluk Merisha dari belakang dan tangan serta bibir nya sudah mulai menggerayangi Merisha.
"kau sedang apa, mandi sana". Merisha menahan tangan Reyhan yang sudah mulai semena-mena.
Menurut Reyhan Merisha sangat menggemaskan saat sedang marah.
Makanya kejahilan nya akan meningkat jika Merisha sedang marah.
"kau sungguh lucu sekali". Reyhan mengacak-acak rambut Merisha yang sudah tertata rapi.
"berikan aku morning kiss dulu baru aku mandi".
"aku tidak peduli, jika kau terlambat maka itu salah mu bukan salah ku". Merisha memonyongkan bibir nya sambil bergumam walaupun masih terdengar oleh Reyhan.
"apa kata mu". Reyhan bertanya seolah-olah tidak tau apa yang barusan Merisha katakan.
"tidak ada".
makin rumit ini kalau tidak di turutin.
Merisha membalikan tubuh nya menghadap Reyhan.
Mata kedua orang itu bertemu satu sama lain dan tanpa aba-aba Merisha menarik tengkuk Reyhan dan mengecup bibir itu.
Karena pergerakan Merisha yang tiba-tiba, Reyhan membelalakan mata nya.
"sudah. sekarang kau mandi sana". Merisha melepaskan ciumannya dan meninggalkan Reyhan yang masih dalam mode terkejut.
Reyhan berlalu pergi ke kamar mandi.
Sementara Merisha sedang menyiapkan jas yang akan di pakai Reyhan nanti.
Setelah selesai mandi, Reyhan langsung menuju kasur dimana jas nya telah tersedia rapi di sana.
Tak lama Merisha datang membawa sebuah dasi dan langsung mengikatkan nya di leher Reyhan.
"apa kau akan merindukan aku selama lima hari kedepan". tanya Reyhan yang saat ini sedang melingkarkan tangannya di pinggang Merisha.
Merisha mengangkat bahu. Dia tidak tau mau jawab apa.
"jawab".
"aku tidak tau apa aku akan merindukan mu atau tidak".
Reyhan mendengus mendengar pernyataan Merisha.
"sudah". ucap Merisha setelah dasi yang dia pasang pada Reyhan terlihat sempurna.
Merisha ingin melepaskan diri dari Reyhan tapi tidak bisa.
Dia mendongakan kepala untuk melihat Reyhan. Terlihat gurat sedih di wajah tampan Reyhan.
"kau kenapa". tanya Merisha.
Bukannya menjawab pertanyaan Reyhan malah langsung memeluk tubuh kecil Merisha.
"aku akan kesepian disana, aku akan merindukan mu". ucapan lirih Reyhan membuat Merisha luluh.
Dia mengusap-usap punggung Reyhan dengan tangannya.
"sudahlah, lagian cuma lima hari".
Lagi-lagi Reyhan di buat kesal dengan ketidak pedulian Merisha. Dia melepaskan pelukannya tapi masih memegang lengan Merisha.
"apa kau sungguh tidak akan merindukan aku". tanya Reyhan yang saat ini sedang bertatap muka dengan Merisha.
"mm mungkin. mungkin aku akan merindukan mu".
Reyhan tersenyum mendengar jawaban Merisha.
Dia tau kalau Merisha itu terlalu pemalu untuk mengatakan itu.
Reyhan mengecup kening merihsa dan disusul dengan ciuman di bibir Merisha.
Setelah cukup perpisahan dengan dramatisasi (hanya bagi Reyhan sebenarnya, Merisha biasa aja) mereka berdua turun untuk sarapan.
Barang bawaan Reyhan sudah di bawa oleh sekretaris Abi duluan.
Dan setelah sarapan, Reyhan dan Merisha pamit. Merisha pergi ke kampus sementara Reyhan pergi ke bandara.
Setelah berada di depan kampus, Merisha yang hendak keluar ditahan oleh Reyhan.
"apa".
"ciuman perpisahan ku mana". dengan gemas nya dia menunjuk bagian bibir untuk dicium oleh Merisha.
tuan muda kau seperti anak kecil minta jatah. Abi.
apa dia tidak malu dilihat bawahan nya seperti anak kecil. Merisha.
Setelah mendapatkan jatah nya, Reyhan pun melepaskan Merisha dan berlalu pergi ke bandara.
huufftt. kenapa aku berasa sendirian ya sekarang.
Bersambung!!