
{ Di mobil }
"apa kau juga akan tidur di rumah ayah nanti". tanya Merisha.
"kenapa. kau juga ingin aku ikut dengan mu. ternyata kau tidak bisa tidur tanpa ku ya".
Merisha hanya melihat kenarsisan Reyhan dengan jengkel.
"tentu saja tidak".
"baiklah terserah kau saja. aku ikut. kau tau kau harus membayar lebih untuk ini nanti. sebenarnya nanti malam aku akan pulang larut jadi jangan menungguku ya". Reyhan semakin menjadi-menjadi untuk membuat Merisha kesal.
Saat ini mereka telah berada di didepan rumah tuan Karsya, disana terlihat seorang pria paruh baya berdiri melambaikan tangn sambil terus tersenyum.
Merisha langsung turun tanpa menunggu Reyhan. Dia langsung memeluk serta mencium ayah nya.
Membuat Reyhan yang melihat jadi kembali membandingkan perbedaan saat Merisha bersama ayah nya dan Merisha saat bersama nya.
aku mau dia seperti itu padaku. dia itu susah sekali mengekspresikan diri sendiri, tapi karena saat ini dia sedang berusaha berubah aku juga akan membantu nya.
Reyhan menghampiri mertua nya dan menunduk hormat. Sedikit percakapan terjadi antara Reyhan dan tuan Karsya.
Setelah pembicaraan selesai, Reyhan pamit untuk segera ke kantor nya.
Saat Reyhan berbalik ingin pergi, tiba-tiba sebuah tangan mengenggamnya.
"Rey, apa tidak apa-apa jika aku tidak ke kantor hari ini". Reyhan berbalik dan menatap Merisha.
"tidak apa-apa sayang ku, lagipula sebentar lagi saat kau datang ke kantor ku akan ada berita besar yang menyambut mu". Reyhan menarik tangan Merisha ke atas dan mencium punggung tangan nya.
Entah apa yang saat itu terjadi sampai-sampai ayah dan Abi berpikiran sama.
Mereka berdua masing-masing mengambil ponsel dan memfotokan momen Merisha dan Reyhan saat ini.
Tau kalau diri nya saat ini dan Merisha sedang di foto, Reyhan langsung mengecup bibir Merisha. Merisha kaget dan spontan melihat ke arah ayah nya yang nyata nya sedang asyik memfotokan diri nya dan Reyhan.
"ayah". teriak Merisha kesal. Dia malu sekali jika Reyhan berkelakuan seperti ini di depan ayah nya.
"panggilan yang bagus". Reyhan berbisik pada Merisha, tapi yang dibisik kebingungan.
"apa".
Reyhan tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan berlalu pergi menuju mobil nya.
apa maksud nya.
"jangan terlalu memikirkan sekarang. nanti saja, dan aku punya cara supaya kau ingat".
Reyhan pun menaiki kaca mobil dan meninggalkan rumah besar itu.
"nak, seperti nya hubungan mu dengan Reyhan semakin baik".
"begitu". tanya Merisha balik.
"tentu, nak. dan sepertj nya tidak lama lagi aku bisa melihat cucu ku".
Lagi-lagi mendengar itu, Merisha langsung kabur menuju kamar nya.
Meninggalkan ayah yang masih tergelak di bawah.
"haaahh, semoga kau bahagia, nak".
{ Dikamar Merisha }
"kenapa mereka sama saja. cucu? aku masih kecil begini memangnya sanggup. aku saja masih takut bagaimana menghadapi nya". Merisha meringkuk di balik pintu kamar nya.
Pemikiran nya beberapa hari ini memang terus ke arah sana.
Tentang anak memberikan cucu pada ayah dan ibu mertua nya dan juga Reyhan.
Tapi dia sendiri masih belum yakin kalau rahim nya kuat untuk menampung bayi.
bagaimana ini.
Tidak mau berlarut-larut memikirkan hal yang memusingkan, Merisha pun keluar dari kamar dan turun menuju ruang tv.
Di depan nya telah tersedia beberapa jenis cemilan yang memang kesukaan Merisha.
Ayah yang memperhatikan Merisha dari jauh tertawa.
"rindu sekali dengan anak ini. tidak pernah ada yang menonton tv lagi selama dia tidak tidur disini. ya aku tidak punya waktu untuk bersantai dan menonton tv".
Ayah pun menghampiri Merisha dan ikut masuk ke dalam cerita atau film yang di tonton Merisha saat ini.
Terkadang tertawa, terkadang marah melihat beberapa karakter film.
Suasana seperti ini kembali menghidupkan warna rumah yang hampa ini.
Bersambung!!!