
Setelah melewati hukuman yang berat, akhirnya Merisha dan Reyhan pun turun untuk ikut sarapan bersama.
Di meja sarapan, terdapat ayah yang tengah membaca koran sambil menunggu Reyhan dan Merisha.
"ayah". sapa Merisha berlalu duduk di depan ayah nya yang diikuti Reyhan.
Sebelum ayah memulai percakapan, terlebih dahulu beliau menganalisis raut wajah kedua orang didepannya itu.
Di lihatnya, Reyhan yang terus sumringah sambil memainkan jari-jari Merisha, sementara Merisha sebaliknya dia memperlihatkan raut wajah kekesalan.
hehe sebenarnya sesuatu yang menguntungkan Reyhan terjadi, tapi tidak bagi Merisha.
Mereka mulai memakan sarapan yang sudah tersaji lengkap di atas meja, suasana yang biasanya hening tidak berlaku saat ini.
Reyhan yang terus terusan meminta Merisha agar menyuapi nya membuat ayah tertawa.
Para pelayan hanya bisa menahan tawa mereka melihat kelakuan Reyhan layaknya anak kecil yang merengek minta makan pada ibu nya.
Setelah Reyhan puas dengan suapan Merisha, kini gantian dia ingin menyuapi Merisha.
"tidak usah". Merisha menyingkirkan sendok yang Reyhan sodor kepada nya.
"mau atau tidak".
Reyhan sudah menetapkan hukuman nya jika Merisha berani membantah perintahnya. Dia tau kalau Merisha tidak akan berani jika dia sudah bertanya seperti itu.
Huuhh!!
Merisha menghembus napas panjang, dan dia pun menuruti permintaan Reyhan.
Ayah yang melihat kelakuan mereka berdua hanya bisa tergelak, begitu juga bi Mila yang sedari tadi menonton kelakuan sepasang pengantin baru itu.
Akhirnya sarapan selesai, ayah pergi ke kantor sementara Reyhan dan Merisha di rumah.
Merisha dan Reyhan duduk di sofa depan tv.
kenapa ayah tidak ikut libur saja, aku tidak bisa menghabisi waktuku dengan nya sendiri.
dia seperti anak kucing yang sedang bermain dengan permainan nya.
Lewat beberapa jam, Reyhan masih juga tidak bosan dengan rambut Merisha, sementara yang punya rambut sudah tertidur lelap dari tadi.
Keusilan Reyhan di mulai, dia berhenti dengan rambut Merisha, tapi tidak dengan bibirnya.
Di balik tidurnya, Merisha merasakan semua apa yang dilakukan terhadapnya kini.
Merisha perlahan bangun, dan dia begitu terkejut karena Reyhan menciumnya di ruang yang begitu besar, bahkan mungkin beberapa pelayan ada yang melihatnya.
"berhentilah". Merisha menutup lehernya dari Reyhan.
"apa kau tidak tau tempat nya, bagaimana kalau orang-orang di rumah ini melihatnya bisa-bisa a.. "
uhh perutku sakit. aku paling benci nyeri haid.
Reyhan yang melihat Merisha seperti menahan sakit pun mulai khawatir.
"kau kenapa, kau sakit, dimana". tanya Reyhan beruntun dengan perasaan kalut.
"Rey Reyhan bawa aku ke kamar cepat, sakit sekali".
Dengan sigap, Reyhan langsung bergegas membawa Merisha ke kamar, bi Mila yang melihat Merisha kesakitan langsung menyiapkan air madu hangat karena dia tau Merisha sedang nyeri haid.
Setelah membaringkan Merisha di kasur, Reyhan hendak menelpon dokter, tapi Merisha melarangnya.
"aku akan telepon dokter ku". Secepat kilat Reyhan meraih ponsel nya.
"tidak. tidak perlu Reyhan, bi Mila akan membawa sesuatu untuk ku kau tenang saja". ucap Merisha yang masih menahan sakit itu.
Tak lama bi Mila pun datang membawakan segelas air madu hangat dan menyerahkan pada Reyhan yang masih kebingungan tentang sakit nya Merisha.
Bersambung!!