
Jika kehilangan sekarang bisa membuatmu merasa lebih tenang, maka ikhlaskan
Karena alam mempunyai cara sendiri untuk membuatmu tersenyum meski dalam remangnya temaram
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah perpisahan Raka dan Krisna, paginya Krisna berjalan memasuki ruangan Raka dengan lesu. Melihat meja Raka yang masih kosong, Krisna menundukkan kepalanya.
Bukan tentang waktu yang singkat bersama Raka di ruangan itu, tapi tentang kenyamanan yang Raka berikan kepadanya saat itu. Krisna mengingat setiap moment yang berjalan begitu cepat. Perasaan pertama kali ketika dia memasuki ruangan itu, perdebatan kecil dengan Raka, hingga perpisahannya dengan Raka kemarin.
Tak luput Krisna mengingat tingkah bodohnya yang rela dipeluk Raka ketika wanita itu merasakan luka di hatinya. Perlahan seulas senyum terbit ketika mengenang semuanya.
"Oke, lupakan Raka dia hanya seperti masa lalumu laki-laki yang selalu ada disaat Poda melukaimu. Dan sekarang bagaimana dengan hatimu? Bahkan kamu masih dengan bodoh memikirkan laki-laki tanpa perasaan itu," ucap Krisna datar.
Wanita itu menyeringai sinis saat mengingat betapa banyak laki-laki yang selama ini mendekatinya, namun semua itu tidak pernah ada yang berhasil menggetarkan pendiriannya. Semua dilakukan hanya demi Poda, tapi malang Krisna justru mendapat balasan yang tidak setimpal. Bisa dibilang pembalasan yang lebih menyakitkan.
"Lalu untuk apa aku menjaga hati jika kamu dengan sengaja mengumbar janji? Harus berapa laki-laki yang mendekatimu lagi agar kamu menyadari semua kesalahanmu? Ingat, cepat atau lambat aku merasa jiwa ragaku akan lelah. Dan aku percaya, ketika nanti aku memilih meninggalkanmu, tidak semua itu karena salahku. Aku mencintaimu dengan tulus hingga detik ini, tapi apakah kamu juga mencintaiku setulus aku menyayangimu? Kurasa tidak. Terlalu sering kamu membuatku kecewa, namun apakah kamu pernah menyadarinya? Tidaaakkk! Kamu bahkan tidak sedikitpun peduli akan hidupku," ucap Krisna yang perlahan menjadi isak.
"Aku masih dengan bodohnya berdiri disini menanti keajaiban menghampiri. Aku lelah karena harus selalu mengalah. Aku lupa akan sebuah cinta, aku lupa akan sebuah tawa. Aku lupa dengan semuanya. Mengapa takdir begitu tega menuntunku ke jalan yang terlampau gelap untukku? Adakah sedikit terang yang akan menemaniku? Aku menoleh kebelakang, mengingat setiap langkah yang tak kan berubah, mengingat setiap tapakan yang menyisahkan sebuah kenangan. Meski semua buruk, setidaknya aku masih bersyukur karena aku tidak langsung terjun ke jurang yang membuat hidupku hancur. Aku tertawa mengingat senyummu di atas tubuhku, namun aku terluka mengingat jarimu yang tak hanya menjam*hku!," ucap Krisna disela tangisnya.
Menyadari jika saat ini dia berada di kantor, Krisna segera mengusap air matanya. Sekarang dia kehilangan tempat untuk berbagi. Mulai detik ini wanita itu akan menjalani hidupnya seorang diri. Sama seperti saat sebelum Raka hadir di hidupnya sebagai pelipur lara.
"Aku tahu kebodohanku, aku tahu memilih meninggalkanmu laki-laki yang jelas selalu berusaha tersenyum untukku. Raka, bukan hanya kamu laki-laki yang pernah mengisi hariku dan berbuat baik kepadaku, tapi sungguh aku tidak bisa memilihmu karena komitmenku. Ya, untuk keberapa kalinya aku menyadari kebodohanku. Entah harus berapa kali lagi aku tidak menghargai perjuangan seorang lelaki," gumam Krisna.
"Tok tok tok," suara ketukan pintu membuatkan Krisna.
Untuk kedua kalinya wanita itu mengusap bekas air matanya agar tidak terlihat. Namun tetap saja masih terlihat karena matanya masih merah dan hidungnya sedikit berair.
"Masuk," ucap Krisna dengan serak.
Pintu terbuka menampilkan sosok laki-laki yang selama ini menemaninya. Laki-laki itu adalah Raka. Raka kaget bukan main melihat keadaan Krisna yang mengenaskan. Raka berjalan menghampiri Krisna dan mendudukkan pantatnya di meja.
"Ada apa denganmu?," tanya Raka.
"Tidak papa," jawab Krisna.
"Tidak, aku disini untuk mengambil berkas ku yang tertinggal. Jaga diri baik-baik, aku tidak mau melihatmu seperti ini lagi suatu hari nanti," ucap Raka.
"Tidak akan," ucap Krisna.
Raka mengamati wanita di hadapannya sekali lagi dan mungkin untuk yang terakhir kalinya sebelum dia pergi. Sungguh penampilan berantakan seperti yang sering dilihat ketika wanita itu putus asa atau kecewa.
"Lukamu adalah lukaku, jadi tetaplah tersenyum seakan aku selalu di sampingmu. Oh ya, semoga Poda segera sadar dengan kelakuannya. Jika dia masih saja seperti itu ketika kamu lelah, aku dengan senang hati akan menemanimu," tukas Raka.
"Baiklah, maaf selalu merepotkan mu," ucap Krisna.
Kini Raka berlalu meninggalkan Krisna bersama kenangan yang pernah terlukis di ruangannya. Tempat yang menjadi rumah keduanya selama ini.
Melihat punggung Raka berlalu bagaikan mengamati dunianya yang perlahan runtuh. Krisna mulai membuka laptop dan menyelesaikan pekerjaan yang ada.
Hari-hari dilaluinya dengan berat. Sementara Poda datang dan pergi sesuka hati. Terkadang laki-laki itu membuat Krisna tertawa, namun kadang membuatnya bersedih.
Hanya seseorang yang menjadi sandaran yang sekarang membedakan hidup Krisna. Dulu wanita itu mampu melalui semuanya dengan baik karena masih ada Raka. Krisna terlihat tegar di depan Poda, namun begitu rapuh di samping Raka.
Suatu hari ketika Krisna pulang lebih cepat, dia mendapati Poda berada di kost nya sedang terlelap di atas kasur empuk. Sementara ponselnya tergeletak begitu saja. Awalnya Krisna berniat ingin mengambil benda pipih untuk diletakkan di meja, namun ketika mendapati aplikasi WA ada notifikasi masuk, wanita itu tanpa sengaja memencetnya.
Aplikasi terbuka dan menampilkan banyak nama wanita disana. Krisna menscroll hingga ke bawah, lalu membuka satu per satu pesan yang ada. Poda dan para wanita saling mengirim godaannya membuat Krisna merasa miris menjadi dirinya.
"Berarti benar, dia adalah laki-laki labil yang bisa berbuat seenaknya. Sekarang membuat bahagia, esok atau lusa pasti memberi luka," gumam Krisna.
Wanita itu hanya bisa menitikkan air mata. Dia lupa kapan terakhir menangis karena Poda. Yang dia tahu, semenjak kehadiran Raka di sampingnya, wanita itu mampu bersikap baik di hadapan Poda. Lalu ketika Raka pergi, Krisna kembali menjadi dirinya sendiri yang hidup dalam gumulan luka.
Duka dan nestapa tak pernah lelah menghampiri Krisna hingga wanita itu merasa lelah sendiri. Lelah karena tidak pernah ada yang mengerti hatinya. Kecewa karena selama ini selalu membiarkan setiap laki-laki yang peduli kepadanya hanya karena Poda.
Ketika mendapati Krisna memegang ponselnya, Poda memasang wajah polosnya lalu meminta maaf. Tentu saja Krisna luluh akan rayuan Poda. Namun beberapa hari setelah Krisna memaafkannya, Poda kembali mengulangi kesalahannya.
Kembali Krisna hanya bisa menitikkan air mata. Saat ini wanita itu kembali lemah dan cengeng. Krisna sungguh membenci keadaan dimana dia harus menangisi laki-laki brengsek seperti Poda.