
Kadang kita butuh mengingat masa lalu
Bukan untuk mengulang
Namun untuk mengenang
Bagaimana kita pernah berjuang meski berakhir dengan kegagalan
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Raka ingin sekali makan pizza, tapi tidak tahu dengan wanita yang bersamanya. Biarkan kali ini saja Krisna mengalah. Membaca menu, Raja langsung memutuskan pizza full cheese dan king burger. Sedangkan Krisna hanya membolak-balik daftar menu. Tidak tahu makanan apa yang cocok di lidahnya.
"Bolehkah aku meminta nasi goreng dan air putih saja?," lirih Krisna.
"Sudah ku duga," dengus Raka.
"Kamu sengaja makan di sini kan? Padahal kamu tahu aku tidak suka makanan seperti ini," tukas Krisna.
"Iya, baiklah aku akan memesan nasi goreng dengan telur mata sapi yang matang dan air putih. Meskipun itu tidak ada di daftar menu," ketus Raka.
"Lihat! Dia hanya meminta nasi goreng, dan walaupun hanya nasi goreng itu sudah membuatku malu karena menu itu tidak tersedia di sini! Sabar Raka! Sabar!," umpat Raka dalam hati.
"Mas, nasi goreng dan air putih satu," ucap Raka membuat pelayan disebelahnya mengerutkan dahi.
"Maaf mas, itu tidak ada di daftar menu," ujar pelayan.
"Saya mengerti mas, tapi saya minta tolong buatkan nasi goreng dengan telur mata sapi matang dan air putih satu gelas untuk istri saya yang sedang hamil," tukas Raka.
"Nanti saya akan membayar berapapun harganya," tambah Raka.
Pelayan tersenyum dan menganggukkan kepala tanda bahwa bersedia membuatkan pesanan spesial ibu hamil.
"Suami yang romantis banget, kalau aku kayaknya nggak mungkin bisa kaya gitu," pikir pelayan.
Kepergian pelayan awal kesialan Raka. Laki-laki tampang itu dilahap habis oleh Krisna. Apa yang ingin dimakan Krisna memang betul adanya, tapi berkata jika dia istri Raka dan hamil tidak ada di hidupnya.
Menatap Raka tajam dan membiarkan mata bulatnya terlihat jelas membuat Raka bergidik ngeri. Namun dia tetap memberanikan membalas tatapan Krisna. Mata elang versus mata belok.
"Tamatlah riwayatmu mata belok," gumam Raka.
"Tamatlah riwayatmu mata elang," gumam Krisna.
Saling tersenyum dengan seringai liciknya. Mereka merencanakan kejahilan yang tidak bisa ditebak. Raka mendekati Krisna, Krisnapun juga mendekat. Krisna tersenyum, Raka juga tersenyum.
"Ehem, permisi," suara seorang laki-laki mengagetkan keduanya.
"Mampu*! Kalau dia Poda tamatlah riwayatmu," batin Raka.
Keduanta segera berbalik ke sumber suara, ternyata pelayan yang tadi. Pelayan itu juga tersenyum melihat betapa romantisnya pasangan di depannya.
"Fyuhhh ku kura," gumam Raja seraya bernapas lega.
"Maaf mas, minunmannya cuma satu?," tanya pelayan.
"Baik mas saya permisi," pamit pelayan kemudian meninggalkan mereka.
Raka hanya diam tidak melanjutkan aksi gilanya. Sudah beruntung bukan Poda yang datang, dan sekarang laki-laki itu akan was-was jika tiba-tiba Poda mendekat.
Krisna memegang benda pipih dan membuka aplikasi berwarna hijau tanpa menatap Raka. Dia juga tidak mau laki-laki dihadapannya berharap lebih. Begini sudah cukup membuat Krisna merasa dekat dengan Raka, jadi dia tidak perlu alasan untuk lebih dekat dengan Raka.
Tidak ada yang tahu bagaimana badai akan berlalu. Namun percayalah, jika pepatah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian memang benar adanya. Ya, Raka percaya akan hal itu.
Percaya jika Krisna bukanlah cinta untuknya, setidaknya dia masih ada untuk memberi sedikit waktunya. Cinta tidak bisa dipaksa, karena itu Raka tidak mau melakukan hal bodih untuk mendapatkan Krisna. Wanita yang tulus akan rasanya, wanita yang sederhana akan perilakunya, serta wanita yang masih suci lahir batinnya.
Meskipun Raka tahu bagaimana kepahitan Krisna, laki-laki itu tetap menganggap Krisna wanita baik. Semua orang punya masa lalu, dan tidaj semua masa lalu itu indah. Terkadang dia seperti cerita yang sungguh sempurna, tapi tak bisa dipungkiri ketika dia seperti benang lusuh dalam guratan hidup.
Sejenak Raka menyadari bahwa sebenarnya Krisna terluka yang sangat dalam. Wanita itu hanya berusaha untuk tersenyum. Jika dulu Raka langsung meninggalkan Denada karena pengkhianatannya, Krisna justru bertahan dengan perselingkuhan pasangannya.
Semua memiliki alasan untuk tetap bertahan atau meninggalkan. Benar jika Krisna memilih bertahan karena tidak ingin membalas pengkhianatan itu, tapi Krisna terlalu lemah jika bertahan untuk seseorang yang hanta memanfaatkan kelemagannya.
Laki-laki tampan dan mapan adalah idaman semua wanita, tapi Kriana bahkan tidak melirik Raka sedikitpun. Jika kebanyakan wanita yang tergila-gila dengan Raka, kini Raka harus rela gila hanya karena sosok Krisna. Berkali-kali Raka berpikir, namun tak kunjung menemukan ujungnya.
Seperti memikirkan hal tabu, Raka justru terbelenggu dalam ambigunya. Melihat Krisna sesekali tersenyum, membuat Raka menarik bibirnya hingga membentuk seulas senyum. Jujur saja Raka merasa bosan memikirkan wanita yang tidak mungkin menjadi miliknya, tapi jika mengingat luka yang berusaha ditutupi Krisna membuat Raka tidak ingin menyerah.
"Aarrggghh!! Tuhan, kenapa pikiranku kacau seperti ini! Aku tidak bisa berpikir jernih bahkan aku tidak mengerti dengan apa yang kupikirkan," ucap Raka putus asa dengan menjambak rambutnya.
"Hei, kamu terlihat menggoda jika mengacak rambutmu seperti itu," tukas Krisna dengan senyum licik.
"Krisna, tolong jangan membuatku marah!," geram Raka.
"Bagaimana mungkin Krisna mengatakan hal bodoh? Apa dia lupa jika aku adalah laki-laki sehat? Dasar!," gerutu Raka dalam hati.
Krisna hanya mengerucutkan bibir kesal atas ucapan Raka. Lalu keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing hingga makanan datang. Tentu saja Raka menahan malu ketika memesan semuanya.
"Uhuy, nasi goreng dengan toping telur mata sapi matang serta air putih! Cekrek aploud cekrek aploud uuunncchhh," ucap Krisna dengan gaya lebaynya.
Membuat seorang Raka Rahardian menggelengkan kepala atas tingkah konyol Krisna.
"Cekrek aploud, cekrek aploud," tukas Raka menirukan gaya Krisna.
"Done! Happy rating honey," send.
Ternyata Krisna mengirim gambar makan sialnya ke nomor Poda. Mungkin sengaja agar sang pujaan hati ingat makanan favorit Krisna. Setelah itu mengaploud Poto ke dalam status nomornya dengan caption "terima kasih rekan kerja ter uluh-uluh".
Sengaja Raka menunggu nomor Krisna muncul agar dia bisa melihat apa yang sebenarnya dilakukan Krisna. Dua detik kemudian nama Krisna muncul di pembaruan status terbaru. Raka langsung membuka gambar dan membaca caption yang ada.
"Heh? Uluh-uluh bahasa dari planet mana?," gumam Raka.
Krisna yang mendengar segera menjawab dengan menyipitkan mata. Merasa heran dengan laki-laki di depannya. Hampir setiap Krisna melakukan apapun, Raka selalu berkomentar.
"Maaf bapak komentator yang terhormat, uluh-uluh itu adalah bahasa yang saya ciptakan khusus untuk Bapak Raka Rahardian! Mohon jangan bertanya lagi karena ini sudah waktunya makan siang bukan waktunya menanggapi sesi tanya jawab," ucap Krisna dengan wajah serius seolah apa yang dikatakan adalah ancaman.
"Sial!," umpat Raka.