My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 48 Menggelikan



Ragamu


Untuk apa berdiri disitu


Disini aku menunggumu


Ingin ku genggam gejolak yang menggebu


Waktu


Inginku mengadu


Cukupkah ini disebut rindu


Ataukah hanya imajinasiku


Kau


Selalu ada tanpa di pinta


Asa


Naunganmu begitu besar singgah disana


Akan kupinta kau untuk selamanya


Kini


Rasa itu tak lagi sama


Indah kala kita mendua


Saat bulan menampakkan sinarnya


Namun malam menutup netranya


Andai semua itu nyata bukan ilusi semata


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tapi aku lapar," ucap Krisna pelan. Dia takut Raka menertawakannya. Bangun tidur langsung makan. Apa kata Raka nantinya.


"Yaudah kita makan dulu," jawab Raka.


Mereka masih berada di area parkir pasar tradisional tersebut. Bermaksud keluar namun belum ada juru parkir yang mendekat, akhirnya Raka terpaksa melambaikan tangan kepada penjaga parkir yang berjarak jauh dari dirinya.


"Pak, aku mau keluar sekarang," teriak Raka yang ditujukan untuk penjaga parkir.


"Iya mas, sebentar," jawab penjaga parkir.


Krisna dan Raka menunggu penjaga parkir datang. Suasana di mobil terasa sunyi hanya terdengar derasnya suara hujan dari luar. Krisna menimbang akankan dia memutar musik atau hanya memutar lagu dari ponselnya. Namun sepertinya itu akan membuat Krisna terlihat bodoh di mata Raka. Walau sebenarnya Raka secara terang-terangan memang tau kalau wanita yang disebelahnya itu minim pengetahuan tentang mobil. Bahkan Raka pernah berniat akan membuat rencana untuk mengajarkan Krisna bagaimana cara mengemudi yang baik dan benar. Namun Krisna menolaknya dengan alasan dia tidak bisa naik mobil jika tidak bersahabat dengan Antimo dulu. Mungkin hanya alibi agar Raka berhenti mendekatinya.


"Raka?," Krisna berusaha memanggil Raka yang sedang malas menunggu penjaga parkir.


"Iya?," jawab Raka singkat.


"Tumben bilang iya, biasanya kalau dipanggil cuma bilang Hem?," erutu Krisna dalam hati.


"Nggak jadi," jawab Krisna.


"Loh, kok nggak jadi kenapa?," tanya Raka yang justru bingung melihat Krisna yang tadinya memanggil namun setelah Raka menjawab justru tidak jadi.


"Nggak papa kok," jawab Krisna lagi.


"Yaudah," ucap Raka pelan.


"Keluar sekarang mas?," tanya penjaga parkir yang tiba-tiba sudah ada di depan mobil.


"Oh, iya pak," Raka menjawab dengan singkat namun dia tetap menampilkan senyum tipisnya.


"Terima kasih pak," ujar Raka setelah mobil berhasil keluar dari area parkir tersebut. Tentunya sembari menyerahkan lembaran kertas untuk membayar jasa parkir.


Melajukan mobilnya dengan lebih cepat karena Raka memilih menembus hujan menuju kilometer yang lebih tinggi. Ternyata lebih ke atas hujannya lebih deras lagi.


"Enggak emang kenapa?," Krisna menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Sebenarnya pertanyaan yang dilontarkan Raka termasuk jenis pertanyaan retoris. Namun Krisna tetap menjawabnya, ya meskipun dengan pertanyaan juga.


"Kita ke Kaliurang aja ya?," pinta Raka sekali lagi. Dia berharap Krisna setuju dengan ajakannya kali ini.


"Mau ngapain Raka, ini kan hujan?," jawab Krisna.


Raka terlihat diam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Dia ingin sekali menjadikan hari terakhir mereka menjadi berkesan. Namun akan ke mana jika tujuan yang saat ini diinginkan justru malah hujan deras.


"Raka?," tanya Krisna. Dia benci situasi saling diam seperti ini.


"Hem?," jawab Raka.


"Tadi kenapa bilang iya, sekarang bilang hem lagi dasar laki-laki aneh," gerutu Krisna sengaja agar Raka mendengarnya.


"Segitu perhatiannya sama aku sampai gaya bicaraku aja hafal?," ucap Raka yang pastinya sengaja untuk menggoda Krisna.


Namun Krisna diam. Dia merasa malu dan kini yakin jika kedua pipinya terasa memerah. Sifat ingin tahunya, terkadang membuat orang yang ada disekitarnya justru merasa sangat di perhatikan. Padahal bukan karena itu, tapi karena sebenarnya Krisna mempunyai sifat ingin tahu yang tingginya kelewatan.


"Eh Kris, kok pipinya merah-merah sih? Kenapa? Digigit nyamuk ya? Perasaan nggak ada nyamuk?," ucap Raka dengan penuh penekanan. Dia menunggu saat dimana Krisna akan menggerutu dan marah-marah.


"Raka, apaan sih?," jawab Krisna dengan membulatkan matanya.


"Marah ya? Kamu lucu kalau marah," ucap Raka santai.


Krisna tetap tidak menjawab pertanyaan bodoh itu. Justru dia tanpa berkata apapun langsung menggelitik Raka yang masih mengemudikan mobilnya. Tidak peduli jika nantinya Raka akan kepayahan mengendalikan mobilnya. Sepertinya saat ini jalanan sedang sepi.


"Eh, apaan sih kris? Geli tau, udah ah nanti kalau nabrak gimana?," Raka pura-pura marah agar Krisna berhenti menggelitiknya. Namun justru membuat Krisna semakin usil melakukan aksinya.


Kini Krisna menggelitik pinggang Raka dengan kedua tangannya. Padahal tadinya hanya menggunakan satu tangannya. Semakin Raka tertawa geli, semakin gencar pula Krisna menggelitiknya hingga tiba-tiba Raka meminggirkan mobilnya dan berhenti.


"Kenapa diam?," tanya Raka yang melihat Krisna langsung diam.


"Nggak papa," jawab Krisna. Dia merasa sesuatu akan terjadi padanya.


Benar saja, Raka langsung melepas sabuk pengamannya dan memeluk Krisna. Membenamkan wajahnya di leher Krisna laku menggelitik pinggangnya dengan sadis.


"Astaga Raka,, lepasinn!," Krisna menjerit di dalam mobil. Dia tidak bisa menahan sesuatu yang sangat menggelikan.


Tetap mengabaikan teriakan wanita disebelahnya. Raka tidak akan berhenti sebelum orang itu memintanya sendiri.


"Oke Raka aku kalah," lirih Krisna. Dia tidak bisa menghadapi serangan Raka kali ini.


"Tidak semudah itu Krisna," elak Raka.


"Aaahhh, apa sebenarnya mau kamu? Tolong lepaskan aku," pinta Krisna dengan pasrah.


"Cium aku," ujar Raka dengan menunjukkan wajah yang tanpa dosa.


"Aku nggak mau," tukas Krisna.


"Kalau begitu aku juga tidak mau melepaskanmu," ucap Raka. Namun, sebenarnya dia berharap Krisna akan menciumnya tanpa paksaan.


"Ih Raka, oke aku akan cium kamu, tapi lepasin aku sekarang!," gerutu Krisna.


Meski begitu Raka segera menghentikan aksinya. Tidak ingat jika Krisna merupakan wanita licik. Disaat seperti ini, bisa saja Krisna membalas apa yang dilakukan Raka terhadapnya. Namun sepertinya Krisna mulai menikmati kedekatan mereka.


"Hehehe," Raka berkali-kali tertawa lirih. Hanya dia yang tau untuk siapa tawanya saat ini. Untuk menertawakan kebodohannya, atau untuk menertawakan kemenangannya.


"Cup" Krisna mengecup pipi laki-laki di depannya.


Raka ingin sekali memegang pipinya. Namun dia mengurungkan niatnya. Bagaimana mungkin seorang pria tampan ditertawakan wanita sederhana karena berhasil menciumnya.


"Mending kalau cantik, udah jelek, item, aneh, hidup lagi, yang lebih parah, kenapa juga aku bisa suka sama dia? Memang betul Tuhan pandai membolak-balikkan hati," gerutu Raka dalam hati.


Untuk menghindari kegugupannya, Raka sengaja membuka ponselnya. Berpura-pura melihat apakah ada yang menghubunginyabatau tidak. Dia baru akan mengambil ponsel, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari belakang.


"Tinn..tin...tin" suara itu terdengar lagi.


"Shit! Aku lupa kalau ini masih di jalan, lagian aku udah dipinggir kenapa nggak nyalip aja sih hm?," gerutu Raka.