My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 62 Cara Pulang



Cinta ada karena terbiasa


Namun selalu terbiasa bisa membuat cinta tak lagi ada \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mengamati Krisna tidur adalah kebahagiaan tersendiri untuk Poda. Dari sekian banyak yang dilakukan Poda, itulah salah satu kegiatan yang digemarinya. Meski sering kali otak mesumnya terpancar, namun sebenarnya dia adalah laki-laki yang lembut hatinya. Tentu saja jika orang lain memahaminya. Kalau tidak, jangan harap bisa melihat sisi baiknya. Kurang beruntung bisa mendapat amukan dari Poda.


Betapa dunia ini mempunyai wanita sederhana yang tidak merusak mata jika di pandang. Betapa alam menciptakan wanita yang lemah lembut akan hatinya. Tidak pernah mengeluh akan kehidupannya. Tidak pernah membalas kelicikan yang Poda lakukan.


Semilir angin dengan sengaja bertiup kencang. Menembus pintu kamar yang sedikit terbuka. Membawa udara dingin yang menyelimutinya. Poda bergidik ngeri karena merasa tulang-tulangnya sedikit linu.


"Sial! Kenapa dingin sekali? Padahal hujan sudah hampir reda," gerutu Poda.


Perlahan berjalan mendekati kipas angin yang masih menyala. Melihat benda itu mengeluarkan aura Sepoi ke seluruh tubuh Krisna. Hanya dengan mengenakan hotpants dan kaos pendek juga baru saja selesai menjemur pakaian namun masih terlihat peluh di dahinya.


"Apa dia tidak kedinginan? Biasanya paling menolak dingin, kenapa sekarang menikmati hawa dingin itu? Apa dia butuh ketenangan?," pikir Poda.


Apapun yang terjadi, Poda tetap akan mematikan kipasnya. Lalu berjalan ke luar untuk menutup pintu. Bagaimanapun dia tidak ingin ada orang lain yang melihat.


"Tadi memang sepi, tapi aku tetap tidak mau ada yang mengintip", gumam Poda.


Poda memandangi wanita di depannya. Setelah dirasa wanita itu tidur, Poda segera mengambil selimutnya untuk menutupi seluruh tubuh Krisna. Laki-laki itu tidak mau Krisna sakit karena kedinginan.


Melihat dengan dekat dan menyadari jika baju Krisna sedikit basah, Poda tidak tega. Dia berniat akan menggantinya, namun ingat jika keduanya akan mengakhiri hal terlarang sebelum mereka melangsungkan pernikahan.


"Tidak! Tolong jangan lakukan! Jangan pernah kamu menghancurkan hatinya lagi!," pikir Poda.


Secara umum Poda adalah laki-laki yang masih normal. Bagaimana mungkin dia tidak tergoda akan indahnya tubuh di depannya. Tubuh yang dia hafal dengan pasti setiap inchinya.


"Shit! Aku susah payah menahannya. Kenapa kamu malah seperti ini!", umpat Poda.


Baru saja Poda akan menyelimutinya, Krisna malah menggeliat merenggangkan ototnya. Kaos yang dipakai Krisna sedikit terangkat memperlihatkan pusarnya. Niat jahat kembali terbesit di benak Poda. Namun dia tetap akan menahannya.


"Semoga kali ini aku berhasil," gumam Poda.


Poda pergi menuju kamar mandi. Tidak mau Krisna memergoki jika Poda sedang memandangnya. Lima menit di kamar mandi, Poda kembali. Dia melihat Krisna masih tidur nyenyak.


"Sepertinya Krisna hanya menggeliat, bukan bangun," lirih Poda.


Beradu dengan pikiran kotornya, mau tidak mau Poda harus mengalah. Dia akan berusaha semampunya untuk tidak menyentuh wanita itu lagi. Kemudian dengan penuh hati-hati, selimut itu di balutkan ke tubuh Krisna. Sementara Poda tidur di sampingnya dengan menjaga jarak.


Jangan bertanya bagaimana usahanya, sungguh saat itu Poda sangat tersiksa. Tidur berhadapan dengan Krisna adalah hal terbodoh untuknya. Bagaimana mungkin untuk saat itu dia tidak melakukan apapun, padahal biasanya selalu menyalurkan kegilaannya.


"Sabar, ini ujian," batin Poda mengingatkan.


Akhirnya Poda membelakangi Krisna. Dia tidak mau hal buruk menimpa keduanya. Tidak mau kekhilafan hadir diantara mereka lagi.


"Selamat tidur sore muachh..," lirih Poda saat mengecup bibir Krisna sebelum akhirnya dia benar-benar membelakangi wanita itu.


"Jangan pergi, tetap di sini," pinta Krisna.


"Sial! Ternyata dia hanya mengigau," gerutu Poda.


Akhirnya sore itu Poda benar-benar sedang diuji jiwa lelakinya. Dengan penuh paksaan dia melupakan semuanya. Termasuk keinginan bodohnya.


"Sadarlah Poda! Sadar! Saat ini ada Raka yang mendekatinya, jika kamu tidak bisa mengendalikannya maka berarti kamu dengan sengaja memberikan Krisna untuk Raka, tidak! Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi!," uujar Poda.


Sepanjang sore Poda menghabiskan waktunya dengan menggerutu seperti orang yang sedikit terganggu kejiwaannya. Kebaikan dalam dirinya berperang melawan pikiran mesumnya. Hingga tanpa sadar akhirnya Poda terlelap sendiri.


Jam menunjukkan pukul 21.30 WIB ketika Krisna terbangun dari tidurnya. Dia menggeliat pelan merasakan ada beban yang menindihnya.


"Berat sekali, siapa yang menindihku?," pikir Krisna ketika dia belum membuka mata.


Perlahan menggerakkan tubuhnya, tapi masih bisa. Tidak terlalu berat karena hanya kakimya yang tertindih. Perlahan dia juga membuka mata, tampaklah kaki besar berbulu lebat.


"Mamp*s! Apa itu kaki genderuwo?," batin Krisna. Dia semaki tidak berani menggerakkan kakinya. Keringat dingin mulai menetes di sekujur tubuhnya. Hawa dingin langsung menyergap aliran darahnya.


"Kenapa?", terdengar suara gumaman laki-laki.


Krisna semakin tidak berani bergerak. Bahkan untuk bernafas pun dia harus pelan agar hembusannya tidak terasa hingga ke sosok di sebelahnya. Dalam pikirannya yang panik, dia berpikir bagaimana cara membuat makhluk itu pergi.


"Plak," kini lengan besar menindih tepat di kedua matanya. Sontak saja Krisna berteriak dan mengibaskan lengan itu.


"Aaaaaaa, tolooong!," teriak Krisna.


Membuat laki-laki di sebelahnya terperanjat dan langsung bangun membekap bibir Krisna agar tidak berteriak. Krisna tidak ingiat dimana dia tidur. Bahkan tidak mengingat jika saat ini masih berada di kamar kost Poda.


"Diam!," ketus Poda seraya menatap Krisna tajam.


Krisna membulatkan mata ternyata yang di sebelahnya adalah Poda. Padahal dia sudah berpikir jika dia ditindih makhluk tak kasat mata.


"Fyuhh... Ternyata Poda, aku tidak bisa membayangkan jika yang kupikirkan benar-benar terjadi," batin Krisna.


"Kenapa kamu berteriak? Lupa jika saat ini kamu masih berada di kamarku? Atau kamu sengaja agar penghuni di sini mengetahui keberadaanmu?," tanya Poda lirih yang hampir menyerupai bisikan.


"Aku lupa, maafkan aku," ucap Krisna.


Sementara diluar kamar, para penghuni kost langsung keluar dari kamar merek. Saling bertanya darimana suara jeritan itu datang. Apakah itu adalah penghuni dari belakang kost mereka. Ya, karena kost mereka berada di kompleks perumahan paling ujung berbatasan langsung dengan sungai yang banyak pohon bambunya. Konon kata warga disitu, kebanyakan makhluk astral berada di sana. Jadi jika ada sesuatu janggal jangan mencarinya. Mereka tidak akan menganggu selagi penghuni kost tidak macam-macam.


Penghuni kost lain langsung bergirdik ngeri mengingat kata-kata warga. Lalu kembali masuk menuju kamar masing-masing.


"Sstt.. Kamu dengar sendiri kan jika mereka mencari asal suara jeritan itu? Jangan pernah berteriak lagi, sekarang tidrulah," ucap Poda.


"Bagaimana caranya aku pulang?," tanya Krisna.


"Mmm, aku sendiri juga tidak tahu," jawab Poda.