My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 123 Beach



Jika saja malam paham dengan istilah kelam ~ lalu untuk apa berharap pada bintang yang hanya memiliki sinar remang? ~ pada dunia yang enggan menyapa, kutitipkan sebuah luka untuk kau ubah menjadi cinta


-Krisna Yosepha-


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tidak ada yang berubah selama tujuh tahun berhubungan. Poda masih sama seperti dulu. Menjadi laki-laki yang terus bersembunyi di balik keluarga yang selalu membelanya.


Setahun berlalu dari kelahiran anak pertamanya. Siang itu Krisna berada di kota kenangan dimana dia dan Terry di pertemukan. Seakan takdir tidak ingin membawa Krisna dalam kebahagiaan.


Terik matahari membakar jalanan yang memantulkan panasnya hingga ke pinggiran. Wanita berwajah sendu duduk seorang diri meratapi alur yang selalu membaur. Sesekali wanita itu memejamkan mata berharap panasnya mentari mampu membakar luka di hatinya.


"Jika hadirku mampu menghilangkan lukamu, izinkan aku selamanya bersamamu," ucap laki-laki yang baru saja mendaratkan pantatnya di sebelah Krisna.


Sontak menoleh karena merasa ada suara familiar yang terdengar. Matanya membulat sempurna serta senyum manis tersungging di bibirnya.


"Terry," ucap Krisna dengan mata berbinar.


Dia tidak bisa menyembunyikan bahagianya. Tidak menyangka akan ditemukan di tempat yang sama. Sekedar membayangkan saja dia tidak berani, apalagi untuk mengharapkan.


"Ya, tenanglah aku selalu di sampingmu," ucap Terry santai.


Terry lupa jika dia membawa mineral dingin di tangannya. Tangan kanannya terulur memberikan air tanpa rasa kepada Krisna. Sementara untuk dirinya, Terry memilih minuman bersoda tinggi.


"Minumlah, biarkan otakmu dingin lalu teruskan menikmati indahnya hidupmu," sindir Terry.


"Oke, it's my beautiful life," dengus Krisna.


"Ceklek" Krisna membuka tutup botol yang masih tersegel lalu melirik laki-laki di sebelahnya.


"Curang," tukas Krisna.


Terry mengernyitkan dahi. Dia tidak sadar kemana arah ucapan Krisna. Laki-laki itu melirik Krisna sekilas.


"Curang?," Terry mengulangi ucapan Krisna dengan nada bingung.


"Hm, air putih tanpa rasa untukku dan minuman berasa, berwarna dan bersoda untukmu," ucap Krisna.


Mendengar ucapan Krisna, Terry justru tersenyum.


"Kurasa kamu masih menyukai air tawar," gumam Terry.


"Terlalu lama minum air tawar membuat hidupku semakin hambar," dengus Krisna kesal.


Biasanya Terry menjadi manusia yang sangat mengerti keinginannya sekalipun tanpa diminta. Kali ini dia tidak memberikan apa yang diinginkan Krisna.


"Aku mau milikmu," rengek Krisna seraya mengarahkan matanya ke minuman Terry.


"Ini tidak baik untukmu sayang, kamu menyusui. Perhatikan minumanmu dengan baik. Ternyata selain bernasib malang kamu minus pengetahuan juga," jelas Terry.


Krisna terkejut mendengar ucapan Terry. Kenapa dia bisa lupa jika saat ini tidak hanya makan untuk dirinya sendiri. Lagi-lagi harus Terry yang mengingatkannya.


"Apa kamu tercipta untuk menjadi penasehat ku?," tanya Krisna.


"Tidak hanya menjadi penasehatmu, tapi sebagai pelindungmu sekaligus menjadi manusia yang akan selalu membahagiakanmu," jawab Terry penuh percaya diri.


Kembali berdebat dengan Krisna hanya akan membuat hatinya merasa nyeri. Kadang cinta hadir di waktu yang salah. Tak jarang cinta akan egois karena tidak bisa mengalah.


"Jika waktu tidak menyatukan kita, setidaknya aku bersedia di sampingmu untuk selamanya. Menerima semua kekuranganmu, serta mengikhlaskan kisah buruk masa lalumu," batin Terry.


"Kris, kita pergi yuk," ajak Terry setelah selesai menenggak minumannya.


"Kemana? Bahkan aku masih kerja," ucap Krisna.


"Pantai mungkin. Ayolah, jarang kan kita ketemu. Kali ini aja ya," rayu Terry dengan tatapan memohonnya.


"Kris, ayolah," rengek Terry lagi.


Kali ini laki-laki itu sudah menggenggam jemari Krisna dengan erat. Seolah menyiratkan jika ajakannya adalah kesungguhan.


Dengan terpaksa Krisna menyetujui ajakan Terry. Namun dengan rasa yang berbeda di dalam jiwanya. Ya, sebenarnya di satu sisi dia takut adanya karma karena pergi dengan laki-laki lain. Namun di sisi lain dia juga ingin merasakan kebahagiaan walau hanya sebentar.


Tanpa sadar Terry memeluk Krisna lalu mencium bibirnya singkat. Laki-laki itu bahagia akhirnya bisa pergi lagi bersama wanita yang dicinta.


"Eh, maaf," sesal Terry saat mendapat tatapan tajam dari Krisna.


"Nggak papa kok," ucap Krisna santai.


Bukan melepaskan, justru dengan jahil Krisna membalas pelukan Terry.


"Cup" tak lupa mengecup bibirnya singkat seperti apa yang dilakukan Terry.


"Cepat pergi sebelum sore," tukas Krisna yang tidak ingin Terry membahas kelakuannya.


"Hm, ayo," ajak Terry.


Satu jam kemudian, Terry dan Krisna berada di pantai selatan kota Yogyakarta. Parangtritis Beach adalah pantai yang menjadi pilihan Terry untuk melepas penat.


Melepas sepatu miliknya, lalu melepas sepatu Krisna.


"Terry nggak usah! Aku malu," tolak Krisna saat Terry sudah menyentuh tali sepatu miliknya.


"Tidak papa," ucap Terry santai.


Dengan kelembutan, Terry melepas sepatu dari sang empunya. Lalu memegang dengan tangan kiri. Membiarkan dua pasang sepatu mengiringi langkah mereka. Sementara tangan kanan Terry menggenggam jemari Krisna.


"Thanks," gumam Terry.


"Bagaimana keadaanmu? Oh ya bagaimana dengan sikecilku? Apakah dia tumbuh dengan sempurna? Em, apakah dia tampan sepertiku?," cerca Terry dengan berbagai pertanyaan.


Krisna memutar bola matanya karena jengah dengan pertanyaan Terry.


"Bagaimana mungkin kamu menamakan si kecilmu jika kamu saja tidak mendonorkan spermamu?," tanya Krisna kesal.


Wanita itu ingin Terry sadar jika ada yang salah dengan ucapannya. Namun itu tidak berlaku untuk tersangka. Terry justru dengan bangga tersenyum lebar karena senang.


"Apa kamu mau kita melakukannya?," goda Terry.


"Tentu saja tidak," ketus Krisna.


"Tidak untuk saat ini, tidak menolak untuk nanti," kekeh Terry.


"Terryyyy!! Hentikan sifat mesummu yang menyebalkan itu!," teriak Krisna.


"Cup! Suatu saat aku akan membuatmu mendesah di bawahku," bisik Terry setelah mencium leher Krisna.


"Oh Damn!," pekik Krisna kesal.


Terry terus berlari menyusuri bibir pantai tanpa memperdulikan Krisna yang terus mengejarnya. Mulai saat ini laki-laki itu berjanji akan membuat hidupnya seperti gelombang tinggi.


Indah dari kejauhan, istimewa dari segi kegagahan, namun bahaya ketika mencapai puncak tertingginya. Mungkin juga akan sama bahaya ketika kita menghampirinya.


Jangan mendekat jika kita tidak berniat untuk terikat. Ada kalanya hidup sendiri lebih berarti daripada bersama namun tidak memilikinya. Bersama bukan berarti cinta, tapi sendiri sudah pasti tak ada yang memiliki.


Apa tidak ingin kehilangan adalah tanda adanya cinta? Lalu bagaimana jika kita terpaksa bersama karena sebuah dusta? Apakah semua ada karena rasa?


Tidak ada yang harus ditakutkan jika berkomitmen untuk saling menguatkan. Namun saat janji hanya berbalas irisan hati, jangan berharap hidup bahagia tanpa nestapa.


Banyak jiwa berkata jika letak kebahagiaan ada di titik cinta yang saling terbalaskan.