My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 116 Roti Sobek



Waktu berjalan seperti biasa layaknya jarum jam berputar semestinya. Sorot mentari selalu menyinari bumi sepanjang hari. Namun tidak untuk wanita yang tengah merasa kecewa.


Seakan hidupnya hanya sarang ribuan luka. Dua bulan berlalu semenjak kepergian laki-laki yang menjadi ayah dari bayi dalam kandungannya. Trimester pertama yang harusnya penuh dengan perhatiannya, kini hanya bisa dirasakan seorang diri tanpa sentuhan laki-laki yang merusak kehidupannya.


Jika saja Terry tidak menemaninya, Krisna akan merasa sangat terluka. Benih telah menyatu dan membentuk zigot yang perlahan tumbuh menjadi embrio, tapi tidak pernah sekalipun Poda bertanya tentang keadaannya.


"Terry," panggil Krisna.


"Hm," balas Terry.


Sore hari Terry memaksa Krisna agar wanita itu mau keluar barang sebentar. Hanya sebatas untuk melupakan kenangan yang tidak seharusnya dilakukan. Mereka berada di taman kota yang padat dengan pengunjung walau hanya menikmati waktu santai.


"Terima kasih atas waktumu yang hanya terbuang untukku," ucap Krisna tulus.


Lubuk hati yang terdalam tergelitik mendengar suatu pengakuan, tapi tidak untuk saat ini. Terry sadar dengan posisi Yang seharusnya tidak diinginkan. Laki-laki itu tidak baik, namun tidak pernah sekalipun berpikir untuk menggalakkan kenyataan pelik.


Terry membawa Krisna ke dalam pelukannya. Membiarkan wanita itu menikmati debaran dada sebagai alunan merdu darinya.


"Cup" kecupan singkat mendarat di puncak kepalanya.


"Jika kehadiranku tidak berarti apa-apa untukmu, setidaknya hadirku mambu mengubah lukamu menjadi senyummu," ucap Terry.


Krisna mengangguk setuju dengan ucapan Terry. Jauh di lubuk hati, rasa tidak ingin berjauhan hadir tanpa sebuah sapaan membuat wanita itu tidak sanggup membayangkan.


"Berhentilah bersikap baik, aku takut suatu hari nanti tidak bisa jauh darimu".


"Percayalah akan waktu yang selalu membuat kita bertemu".


"Haruskah seperti itu?".


"Apa aku terkesan membohongimu?".


"Tidak untuk saat ini, tapi entahlah seiring waktu berlalu".


"Cup! Tenanglah," Terry mencium pipi Krisna yang menurutnya membuat sang pemilik terlihat sedikit chubby.


"Apa kamu selalu mencium wanita seperti ini?," tanya Krisna polos seraya mendongakkan kepalanya menatap Terry yang ternyata juga menatapnya.


"Tidak semua, tapi hanya kepada yang bisa menggoyahkan hatiku saja," jawab Terry.


"Bahkan semua wanita mampu membuatmu membuka hati yang telah terluka," cibir Krisna.


Bersamaan dengan cibiran yang terdengar, Terry mendekatkan bibirnya di bibir Krisna. Tepat saat itu juga wanita di depannya memalingkan wajah. Dia selalu menghindari ciuman Terry yang tiba-tiba.


"Berhentilah bermain api jika kamu tidak sanggup memadamkannya," dengus Krisna.


"Aku tidak ingin memadamkan karena aku ingin mengubahnya menjadi kobaran," tukas Terry sengaja ingin menantang Krisna.


Jam di pergelangan tangan berbunyi menandakan jam tepat di angka 00.00 WIB. Mereka di taman sejak sore, tapi tidak ada yang merasa senang beranjak dari sana.


"Sudah malam, ayo pulang," ajak Terry.


Bagaimanapun dia sadar dengan kesalahannya. Apalagi membawa pergi wanita hamil sama dengan membawa makanan lezat untuk kesalahannya.


"Aku tidak bisa pulang, ini sudah tengah malam," ucap Krisna datar.


"Berhentilah memikirkan dia yang tidak pernah memikirkanmu," ketus Terry.


Dengan berat hati, Terry menggenggam jemari Krisna agar wanita itu rela meninggalkan taman yang hampir sepi. Hanya beberapa petugas kebersihan yang bergerak melakukan pekerjaannya.


"Cek in di hotel, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa diantara kita," ucap Terry.


"Terjadipun juga tidak masalah, aku sangat lelah," gumam Krisna.


"Kurasa pura-pura tidak mendengar lebih baik," batin Terry.


Lima menit keduanya sudah berada di kamar hotel dan lima jam kemudian mereka telah bersiap cek out dari sana.


Entah bagaimana bisa ketika dia bangun tidak mendapati wanita yang semalam bersamanya. Ternyata wanita itu tengah mandi dalam guyuran shower air hangat.


"Tidak terlalu pagi?," tanya Terry saat melihat Krisna keluar dari kamar mandi.


"Tidak, semakin lama bersamamu hanya mengulur waktu seberapa tingkat kekalutanku," jawab Krisna seraya berjalan melewati depan Terry.


Masih dengan handuk yang melilit di rambutnya, Krisna mendaratkan pantat seksinya di ranjang.


"Apa kamu puas?," goda Terry sebelum masuk ke kamar mandi.


Gelengan kepala adalah jawaban dari pertanyaannya.


"Aku tidak puas karena tidak akan membiarkanmu menyentuhku begitu saja. Lalu apa yang kamu pertanyakan? Puas tentang tidur nyenyak ku?," gerutu Krisna.


Pasalnya semalam mereka tidur di atas ranjang yang sama, tapi tidak terjadi apa-apa. Hanya satu ranjang berdua, dan satu selimut berdua. Tentu saja Terry tidur dengan keadaan memeluk Krisna. Mana mungkin dia membiarkan wanita kedinginan saat bersamanya.


Setelah sadar akan hal itu, perlahan kelopak mata Krisna mulai berat hingga berakhir pada tidur panjangnya. Terbangun pagi hari saat udara masih dingin, tapi berdiam diri di ranjang akan membuat Terry semakin jauh ke dalam khayalan.


"Klek" Terry keluar dari kamar mandi dengan handuk meluluh di pinggangnya.


Roti sobek tidak membuat Krisna melirik sedikitpun.


"Cepat pakai bajumu dan kita akan segera pulang," tukas Krisna.


"Terlalu cepat," ucap Terry santai.


Dengan penuh percaya diri Terry duduk di tepi ranjang. Meski dia memiliki bentuk tubuh atletis, tapi dia ragu bisa menggoda wanita yang bersamanya akhir-akhir ini.


"Ehem" Terry berdehem dengan canggung.


Sekilas matanya melirik Krisna yang hanya menatapnya dengan malas.


"Apa dia tidak ingin menyentuh roti sobekku?," batin Terry.


Hening, terlalu cepat Terry memburu sesuatu yang ternyata sulit berlalu. Dia sama sekali tidak menyangka mendapat respon yang jauh dari ekspektasinya.


Jika Terry sibuk dengan serapah yang ada dalam benaknya, Krisna memilih kembali memejamkan mata guna menikmati suasana yang lama tidak dirasakannya.


"Siapa disini yang tidak normal? Dua kali kita tidur bersama, tapi tidak sekalipun kamu mau menyentuhku dengan suka rela? Apa aku seorang hyper? Kurasa tidak," gumam Terry yang sibuk beradu argumen dengan dirinya sendiri.


"Cup! Morning kiss," tukas Terry setelah berhasil mendaratkan ciuman di bibir Krisna.


Wanita itu menggeliat karena terganggu dengan keberadaan benda asing yang menyentuh bibirnya. Namun tidak mengganggu pejaman matanya. Bahkan kelopak mata indah itu enggan terbuka.


Kesal, itulah yang saat ini dirasakan Terry. Mantan tunangannya saja selalu menginginkan lagi dan lagi, tapi wanita di depannya saat ini sungguh berbeda.


"Apa mendapatkan perhatianmu sesulit ini?," gumam Terry.


"Terus katakan apapun yang mengganjal dan aku akan mendengarkannya dengan asal," batin Krisna.


Hanya Krisna yang tau jika saat ini dia pura-pura tidur. Lagi pula untuk apa memberi tahu Terry. Itu tidak penting untuknya. Malah sebaliknya, tidur pura-puranya menguntungkan karena bisa mendengar ocehan Terry yang terdengar gamblang.


"Ayolah buka matamu, aku tersiksa jika terus seperti ini," ucap Terry yang mulai menyadari miliknya sedikit mengeras.