
Jika cinta tidak harus memiliki, lalu kenapa kita harus dicintai? Untukku hati pantas dimengerti, oleh karena itu aku akan selalu mengejar rasa yang kupunya hingga nanti mendapat jawaban dari semua. Sebenarnya keinginanku hanya satu yaitu memilikimu sepanjang waktu meski akhirnya harus berpisah atau bersama, setidaknya tidak terlalu menyesal karena telah berjuang. Yah, meskipun itu semua sulit but don't give up to get it.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Semakin aku melupakanmu, semakin sering bayangmu hadir dalam benakku! Aku hanya ingin melupakan karena rasa yang ku simpan sangat membuatku tidak nyaman! Bagaimana mungkin aku bisa jatuh hati kepada wanita yang sudah punya kekasih? Bahkan dulu aku tidak pernah seperti ini! Tuhan, apakah aku telah dibutakan oleh cinta? Apakah ini yang dinamakan cinta buta? Aaarrgghhh!," ucap Raka putus asa.
Krisna segera pulang menuju kostnya. Sore itu perjalanan terhambat lima belas karena lampu yang terus menampakkan sinar merahnya. Melewati tiga traffic light yang biasanya selalu hijau, kali ini wanita itu mendapat warna merah.
Tiba di kost, Krisna segera mandi dan berganti pakaian. Melihat langit yang mendung dan angin yang berhembus membuat wanita itu sedikit kedinginan, akhirnya dia melupakan ucapannya untuk masak makanan kesukaan Poda.
Wanita itu memilih membuat sayur soup dengan sosis dan bakso di dalamnya. Tidak lupa menggoreng tempe asin dan membuat sambal dengan rasa pedas yang cukup untuk memerahkan kuping.
"Nih biar kamu tahu gimana rasanya ditinggal pas lagi sayang-sayange," ucap Krisna auto nyanyi seraya menumbuk bumbu.
Melihat sosis ada yang masih tersisa, Krisna segera membuatnya menjadi sosis sambal pedas manis. Tentunya dengan rasa pedas dan manis yang kuat. Setidaknya jika sayur yang dibuat tidak membuat Poda selera makan masih ada sosis yang tidak bisa ditolak keberadaannya.
"Awas kalau sosisnya habis sebelum aku memakannya," gerutu Krisna.
Setelah selesai masak, Krisna segera membawa makanannya ke kamar dan menghidangkan di atas meja. Wanita itu membuka ponselnya. Melihat aplikasi chatt bermaksud menghubungi Poda, tapi terlambat. Laki-laki itu sudah lebih dulu mengirim pesan.
From : Poda
"Lima belas menit lagi aku sampai, jangan lupa siapkan makan sore untukku! Aku mencintaimu"
Krisna tersenyum membaca pesan dari Poda. Mengagumi laki-laki yang sekarang menjadi perayunya. Selalu mengatakan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan Krisna sebelumnya. Wanita itu membalas pesan Poda.
From : Krisna
"Semua sudah siap tinggal menunggumu pulang saja"
Segera membuka aplikasi kamera yang ada di ponsel, lalu memotret masakan yang sudah terhidang di atas meja. Kebetulan asap masih mengepul di sosis bakar membuat siapapun yang melihat tidak sabar ingin melahapnya.
Menepati janji untuk pulang lebih cepat. Poda tiba di kamar Krisna lima belas menit setelah chat terakhir keduanya. Poda masih mengenakan pakaian kerjanya. Laki-laki itu terlihat buruk daripada tadi pagi.
Tentu saja Krisna perhatian. Segera dia menyiapkan handuk dan peralatan mandi yang di beli Poda kemarin. Wanita itu mengambil celana Poda yang tempo hari tertinggal dan kaos miliknya.
"Sayang, mandi dulu sana! Kamu masih bau debu jalanan," ucap Krisna seraya memberikan yang dibawanya.
"Terima kasih," ucap Poda sembari mengecup bibir Krisna sekilas.
"Hei pergi sana! Jangan mesum disini! Awas saja kalau kelewat batas!," usir Krisna pura-pura marah.
Laki-laki yang baru saja pulang dari kantor segera melepas jaketnya dan menuju kamar mandi. Melakukan rutinitas sehari dua kali. Setelah selesai, Poda keluar dengan handuk yang tersampir di tangannya.
Laki-laki itu mengeringkan rambutnya, tapi belum kering sempurna karena hanya menggunakan handuk. Segera masuk ke kamar Krisna karena cacing di perutnya protes sedari tadi.
"Aku sudah selesai, sekarang bolehkah aku makan semua ini?," ucap Poda dengan mata berbinar.
"Teruslah seperti ini cinta, aku berjanji akan terus melakukanmu seperti ini juga," batin Poda.
"Terima kasih," ucap Poda tulus.
Poda mengambil garpu lalu menancapkan ya pada sosis. Meniupnya pelan lalu menyodorkan ke Krisna. Tentu saja bermaksud menyuapi wanita itu.
"Enak," gumam Krisna.
"Tentu saja! Aku tahu kamu menyukainya, sekarang makanlah aku akan menyuapimu!," tukas Poda.
Krisna tersenyum mendengar penuturan Poda. Merasa senang kesabarannya selama ini membuahkan hasil. Kini mereka makan sepiring berdua. Hal mudah, tapi belum tentu bisa dilakukan keduanya.
"I love you," bisik Poda.
"Dasar mesum! Ucapanmu seperti bisikan setan," tukas Krisna.
"Tidak! Aku hanya belajar sedikit romantis seperti yang sering kamu lakukan! Dan aku belajar seperti ini darimu kalau kamu lupa," ucap Poda santai.
"Semoga saja setan jahat segera pergi dari hidupmu! Aku lelah berada dalam ketidakpastian seperti ini," gerutu Krisna.
"Hei, apa maksudmu sayang? Bukankah aku sudah menjadi yang kamu inginkan?," tanya Poda seraya memegang pipi Krisna.
"Aku tidak meminta ini semua dari kamu! Aku hanya ingin kamu meninggalkan kehidupan surammu! Ingatlah jika saat ini ada Raka yang selalu bersamaku, apa kamu tidak takut jika suatu hari aku berpihak padanya," jelas Krisna.
"Aku yakin kamu tidak seperti itu," tukas Poda.
"Sial! Tentu saja aku tidak seperti itu karena aku bukan kamu yang seenak jidat bersama wanita mura*an! Ingat aku masih punya moral untuk semua itu," gerutu Krisna dalam hati.
"Semoga saja," lirih Krisna.
"Hei, aku sudah berpikir seperti itu sayang! Aku juga tidak mau kehilanganmu makanya aku sekarang selembut ini, apa kamu tidak melihatnya hm?," batin Poda kesal.
Mengingat ini sudah kesekian kali Poda membuat Krisna bersedih, laki-laki itu segera mengangkat wajah Krisna dengan kedua tangannya. Menatap mata yang penuh dengan luka. Selama ini Poda selalu mengabaikan wanita di hadapannya, tapi itu karena tidak ada laki-laki lain disisinya.
Sekarang Poda menyadari kesalahannya karena sudah ada laki-laki yang menawarkan diri untuk bersemayam di hati. Tentu saja Poda tidak membiarkan hal itu terjadi. Sungguh, sejujurnya yang membuat Poda berubah adalah Raka sosok yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu bersama Krisna.
"Thanks bro kamu menyadarkanku jika wanita ini berharga, tapi maaf aku tidak akan mengizinkan kamu sedikitpun bersamanya! Bahkan aku tidak akan segan menghabisimu jika seinchi saja kamu menyentuh kulitnya," batin Poda.
"Maaf," lirih Poda.
Krisna mengangguk, dia sudah lelah mengucapkan kata. Sepertinya tenggorokan itu mendadak kering setelah mendengar ucapan Poda. Ucapan yang sering dilontarkan tanpa sebuah tindakan sebagai buktinya. Mana mungkin Krisna bisa mudah percaya.
"Semakin aku melupakan kenangan itu, semakin jelas sakit yang kurasa dulu," batin Krisna.