
Aku menyerahkan seluruh hidupku
Kepada takdir yang kan menyapa
Mengahbiskan waktu yang tersisa
Aku terkubur dalam arus masa
Tenggelam dalam gelapnya dunia
Menari diatas alunan sepi
Berdiri tegak ditengah pijakan duri
Inginku menepi
Namun semua sudah terjadi
Inginku berlari
Namun teramat sulit kujalani
Kali ini saja
Kumohon Tuha,
Kabulkanlah permintaanku
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seminggu sudah Krisna berada dirumah Poda. Merawat laki-laki itu dengan penuh kasih sayang. Perlahan rasa kecewa yang dirasakan Krisna mulai menghilang tergantikan oleh kenangan dalam keabadian. Perlahan rasa sakit itu terganti oleh cinta yang kembali ada.
Ketulusan Krisna dalam merawat Podapun membuahkan hasil. Perlahan Poda yang keras kepala perlahan menjadi sedikit melunak meski belum seutuhnya. Keangkuhannya lambat laun menjadi kelembutan. Keras kepala yang selama ini merasuki jiwanya, perlahan berubah menjadi rasa cinta yang teramat dalam.
"Sayang bangun, kita kesiangan," lirih Poda ketika dia terbangun dengan hawa yang mulai panas, dia melihat keluar kamar ternyata matahari telah menampakkan wujudnya kepada semesta.
"Sebentar saja, aku masih ingin tidur," gumam Krisna.
"Sayang," Poda membangunkan Krisna seraya mencium pipinya.
Namun Krisna tetap pada posisinya. Bahkan tidak ada tanda-tanda dia akan membuka mata. Setengah jam berlalu. Usaha Poda membangunkan Krisna sia-sia. Kemudian Poda berbaring disamping Krisna. Mengamati wajah wanita di depannya. Wanita yang menemaninya beberapa tahun terakhir. Sederhana, tidak pernah melakukan hal buruk dan lengkap dengan kepolosannya.
"Krisna semakin cantik saat tidur," pikir Poda dalam hati.
Poda mencium kening Krisna perlahan. Takut membangunkannya. Poda lalu kembali menarik selimut untuk mereka berdua. Dia mengamati Krisna sekali lagi.
"Lanjutkan tidurmu sayang, aku akan menemanimu," gumam Poda.
Kemudian mereka sama-sama terbuai ke alam mimpi. Poda meneruskan mimpi yang tadi sempat tertunda. Sementara Krisna tetap dengan mimpi indahnya yang tidak terjeda. Mereka merajut indahnya cinta, membingkai lukisan cinta, dan membuat cerita yangs sempurna meski hanya dalam mimpi belaka.
Dua jam setelah Poda tidur, tiba-tiba Krisna terbangun karena mimpi buruk dengan ambut yang berantakan, wajah yang lesu, serta kerongkongan yang terasa sangat kering. Dia mengambil gelasbyang berada di sebelahnya, lalu meneguk air didalamnya.
"Akhirnya," ucap Krisna dengan lega.
Kini kerongkongan itu terasa lega setelah dilewati air putih. Menengok sebelahnya, melihat Poda masih terlelap. Krisna menggoyangkan bahu Poda. Berharap pria itu segera bangun, namun sia-sia. Pria didepannya tetap saja terlelap.
Kali ini tidak seperti biasanya. Krisna ingin menghilangkan kebiasaan buruk yang selalu bersamanya. Setiap bangun tidur, kebiasaan Krisna adalah selalu memandang wajah Poda yang masih terlelap karena itu memperlihatkan betapa wajahnya penuh ketenangan. Dan mulai hari ini Krisna berjanji akan menghilangkan kebiasaan itu. Dia tidak mau berharap lebih. Harapannya adalah andai suatu saat Krisna tidak bersama Poda lagi, maka akan dengan mudah dia melupakannya.
"Sayang bangun," rengek Krisna manja.
Tidak ada jawaban.
Kembali Krisna menggoyangkan tubuh Poda. Mencium bibirnya, dan mengigit lehernya. Benar saja, Poda bangun karena kaget. Dia berfikir digigit tikus. Namun setelah menyadari Krisna yang menggigitnya dia tersenyum.
"Kenapa bangun?," tanya Krisna.
"Sayup-sayup aku mendengar seperti ada yang menggerutu, ternyata kamu membangunkanku," jawab Poda.
"Oh," Krisna hanya ber oh ria.
"Kemana handuk itu? Apa aku lupa menaruhnya?," gumam Krisna.
Wanita itu kembali menuju ranjang, melihat di sebelah Poda. Ternyata handuk itu ada di sana. Lengkap berjumlah dua.
"Apakah aku lupa menaruhnya di sana ****** kris, tamatlah riwayatmu!," umpat Krisna dalam hati.
"Eh, em kok handuknya ada di situ?," tanya Krisna ragu-ragu.
"Iya, tadi aku mengambilnya dari sana. Aku sudah membangunkanmu tapi sepertinya tidurmu nyenyak," terang Poda dengan menunjuk ke twmpar dimana handuk biasanya ditaruh.
"Oh," lagi-lagi Krisna ber oh ria.
"Heh kenapa dari tadi kamu hanya bilang "oh"?," kata Poda seraya menatap Krisna tajam. Dia tidak jika ada yang menjawab kata-katanya dengan singkat.
"Tidak," ucap Krisna seraya berjalan mendekati Poda untuk mengambil handuk itu.
Sementara Poda, ketika Krisna mendekat dia justru menarik Krisna dalam pelukannya. Tentu saja Krisna meronta, dia tidak mau di perlakukan tidak manusiawi lagi.
"Lepaskan!," tegas Krisna yang segera berlalu menuju kamar mandi.
"Sial! Kenapa dia jadi seperti ini?," umpat Poda.
Hari ini Krisna berencana mencari pekerjaan di kota kelahirannya. Menyusun surat lamaran yang telah dibuat, membacanya sekali lagi memastikan apakah semua berkas sudah lengkap atau belum. memasukannya ke dalam tas. Setelah memasukkan ke dalam tas, Krisna segera bergegas ganti baju. Menggunakan kemeja pendek dengan model tali kimono, celana panjang, dan sepatu nik* airma* kesayangannya. Kemarin Krisna meminta pulang untuk mengambilnya, namun Poda tidak membolehkannya. Dia justru menyuruh orang lain untuk mengambilkan itu semua dari rumah Krisna.
Mematut diri di cermin, setelah merasa cukup Krisna segera mencari Poda. Hari ini Poda mengusulkan jika dia akan ikut. Laki-laki itu akan mengantar Krisna kemanapun wanita itu pergi. Kini Krisna berangkat diantar Poda dengan motor maticnya. Mereka berdua menembus kota kelahiran menuju sebuah kota di seberang sungai yang merupakan batas di wilayah mereka.
Menuju sebuah kantor yang ditempuh dengan perjalanan sekitar satu jam. Krisna mempunyai teman yang berada disana, namanya Rika. Kemarin Krisna sempat menghubungi Rika untuk membantu mendapatkan pekerjaan dan hari ini Krisna berencana menemuinya.
"Aku sampai di depan kantor," Krisna mengirim pesan kepada Rika.
"Tunggu sebentar, aku akan keluar," balas Rika.
Setelah sang teman keluar, Krisna segera memberikan berkas lamarannya. Dia sangat berharap bisa diterima disini.
"Aku bawa kedalam dulu ya," tutur Rika.
"Iya," ucap Krisna.
Lima belas menit kemudian ada seseorang yang menghamipir Krisna. Sepertinya sacurity kantor ini.
"Dengan Mbak Krisna?," tanya security.
"Iya saya sendiri," jawab Krisna.
"Mbak disuruh masuk ke kantor menemui Bapak Wiliam, pintu itu masuk saja nanti belok kiri mbak," jelas security itu
"Iya mas, terima kasih," ucap Krisna.
Krisna masuk kantor menemui Pak Wiliam meninggalkan Poda yang sedari tadi menemaninya. Membiarkan Poda tetap berada di tempat semula.
"Semoga saja aku diterima disini," ucap Krisna dengan penuh harap.
"Tok..tok..tok," Krisna mengetuk pintu
"Silahkan masuk," sahut suara dari dalam.
"Permisi Pak, saya Krisna, bisa bertemu dengan Pak Wiliam? Menurut security di depan, beliau memanggil saya kemari," jelas Krisna.
"Iya dengan saya sendiri, silahkan duduk!," ucap Pak Wiliam.
Krisna duduk berhadapan dengan sang Manager. Memulai interviewnya hari ini dan beruntungnya, Krisna langsung diterima. Krisna ditempatkan di bagian lapangan namun setiap hari harus finger di kantor.
"Baik Pak, terima kasih untuk semuanya, kalau begitu saya permisi," Krisna berpamitan dengan menjabat tangan sang Manager.
"Akhirnya aku bekerja lagi. Aku sudah bosan menjadi pembantu di rumah Poda. Semoga ini jalan terbaikku," gumam Krisna dalam hati.