
Semua pergi tanpa ada yang mengerti
Dia pergi meninggalkan luka
Sementara angin pergi meninggalkan derunya
Waktu enggan menyapa
Kala fajar mulai menampakkan wujudnya
Sorot mentari menjadi saksi
Akan pilu yang hinggap di hati
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Poda pergi bersama keluarga yang meninggalkan Krisna. Keluarganya juga melakukan yang sama seolah semua adalah kesalahan wanita itu. Tengah malam harusnya waktu untuk beristirahat bagi wanita yang mengandung, tapi tidak untuk Krisna.
Dengan berat hati, wanita itu membuka ponselnya menghubungi Terry untuk meminta bantuan.
"Saat ini hanya Terry yang kupunya," gumam Krisna.
"Tut Tut Tut" terdengar nada terputus pertanda Terry tidak menjawab panggilannya.
"Terus aku kesana sendiri? Jam 21.00 WIB dari Kulon Progo ke Yogkarata, Ya Tuhan ini terasa berat," keluh Krisna disertai bulir bening yang mulai mengembun.
Melakukan persiapan seorang diri tentu menjadi kewajibannya karena dari kecil dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang seutuhnya. Mengenakan jaket adalah hal terakhir yang dilakukan Krisna sebelum wanita itu menaikki motornya.
"Drtt drrttt drttt" getaran di ponsel memaksa Krisna untuk mengundur perjalanannya beberapa saat.
"Hallo," ucap Krisna.
"Apa yang terjadi? Kenapa menelponku di malam larut seperti ini?," cerca suara seberang yang tidak lain adalah Terry.
"Hikss hikss," Krisna tak kuasa menahan tangisnya.
Kini bulir bening itu mulai luruh bersama kenyatan pahit yang menimpanya.
"Hei ada apa? Jangan berbuat bodoh! Aku di rumah jadi jangan membuatku panik," teriak Terry.
"Terr, aku di rumah," ucap Krisna lirih.
Terry diam mencerna ucapan Krisna. Laki-laki itu sadar jika pergi dari rumah adalah harapannya semenjak masih duduk di bangku sekolah. Lalu untuk apa Krisna kembali jika akhirnya Terry mendengar tangisnya seperti malam ini.
"Terr," panggil Krisna.
"Iya, kenapa?."
"Bisa nemenin aku ke kost?."
"Sekarang?."
"Iya."
Tanpa sadar Krisna mengangguk padahal jelas dia hanya sendiri. Namun berperilaku seolah Terry melihatnya.
"Baiklah, tunggu aku menjemputmu. Aku akan membawa mobil."
"Tidak usah, kita bertemu di persimpangan kota."
Lalu panggilan terputus begitu saja membuat Terry di seberang semakin gelisah.
"Ada apa? Kenapa seperti ini? Dia wanita gila yang akan melakukan apa saja. Dimana Poda? Dasar laki-laki brengsek! Awas saja berani menampakkan wujudmu di depanku," umpat Terry dengan murka.
Susah payah menerima fakta jika nyatanya Krisna tidak menerima Terry, tapi apa yang wanita itu dapatkan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan.
Lima menit Krisna dan Terry bertemu di persimpangan kota. Keduanya melakukan perjalanan hingga ke kost Krisna dengan diam. Bahkan mereka berada di jarak yang cukup jauh.
"Ternyata melihatmu seperti ini lebih sakit daripada melihatmu tersenyum karena dia," gumam Terry.
"Aku akan pulang, tidurlah dengan tenang," ucap Terry seraya mengacak rambut Krisna.
"Tidak, temani aku tidur malam ini," lirih Krisna.
"Baiklah," ucap Terry sedikit kaku padahal ini yang dia inginkan, tapi kenapa sekarang merasa ini bukan waktu yang tepat.
"Dengan satu syarat," tambah Terry.
Kedua alis Krisna menyatu. Baru kali ini Terry mengajukan syarat padanya.
"Apa?," tanya Krisna.
"Jangan menangis karena dia," jawab Terry ketus.
Krisna mengangguk, dia setuju dengan permintaan Terry. Wanita itu membuka pintu kamarnya lalu masuk dan merebahkan tubuhnya di kasur diikuti Terry yang sudah sangat ingin memejamkan mata.
"Aku tidur dimana? Disini hanya ada satu kasur," tanya Terry pura-pura bodoh.
"Disini! Seperti biasa! Jangan bersikap bodoh seperti ini. Aku sangat membencimu," jawab Krisna penuh penekanan.
"Mungkin kamu akan dengan senang hati tidur di bawahku atau di atasku," goda Terry.
Tatapan tajam terbit di kedua manik mata Krisna yang sedikit memerah. Kilat kekecewaan terlihat disana.
"Jangan memulai," gumam Krisna.
"Tak ada yang perlu dibicarakan jika itu menyangkut kehidupanku. Selamat malam Terry," ucap Krisna tulus seraya menarik selimut untuknya.
"Cup! Selamat malam juga sayang, aku berharap kita akan seperti ini," ucap Terry setelah mencium puncak kepala Krisna.
Tidak tau siapa yang lebih dulu memulai hingga akhirnya mereka saling terbuai dalam alunan mimpi. Merangkai cerita indah yang hanya bisa mereka gunakan sebagai pelipur gundah.
Pagi hari Krisna terbangun dengan kondisi yang berbeda. Wanita itu masih mengenakan selimut ketika Terry selesai mandi.
"Kris," panggil Terry sembari menempelkan punggung tangannya di dahi Krisna.
"Panas, apa mimpi buruk lagi?," tanya Terry.
"Iya," jawab Krisna lemah.
"Aku akan menemanimu sepanjang hari bahkan jika boleh untuk sepanjang waktu memberimu lama untuk berdiri," tukas Terry.
"Pergilah bekerja aku tidak apa-apa," usir Krisna.
"Tidak sayang, kamu bahkan lebih pucat dari biasanya," ucap Terry.
Tiba-tiba Terry sadar dan dia segera memegang perut Krisna. Mengelus pelan lalu tanpa permisi menarik selimut yang masih menempel di tubuh Krisna.
"Apa semua karana ini? Ceritakan semuanya padaku, aku tidak akan membiarkanmu merasakan ini. Kita selalu bersama, sampau kapanpun aku tidak akan membiarkan kamu menderita," tanya Terry masih dengan tangan kanan mengusap perut Krisna.
"Iya," jawab Krisna.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi," pinta Terry.
Cerita mengalir dengan sempurna tanpa ada yang tersisa. Sekedar terselip saja tidak. Selama bercerita, Terry sengaja menempelkan jemari Krisna di dadanya agar wanita itu sadar jika masih ada laki-laki yang bersedia menerimanya.
Satu kedipan mata air mata itu akan turun dengan leluasa, tapi sayang karena Terry dengan sigap mengecup kelopak mata indah milik wanita di depannya.
"Jangan pernah menangis karena dia, kali ini dengarkan semua ucapakanku. Kamu bahkan mengerti jika sebenarnya hatimu tersakiti. Hanya saja semua terjadi ketika kamu sudah kehilangan harga diri," bisik Terry.
Merasa Krisna akan menangis semakin keras, Terry membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Berharap agar dia lupa siapa Poda dan bagaimana berakhir dengan janin yang telah di kandungnya.
Ternyata salah, karena semakin Terry memberikan kenyamanan semakin Krisna merasakan penyesalan.
"Jika menangis membuatmu lebih baik, maka lakukanlah. Ingat jangan pernah menyesal karena saat ini bukan penyesalan yang kamu butuhkan. Kamu butuh kasih sayang sebagai obat penenang. Bukan penyesalan yang akan membuatmu semakin tertekan. Semua sudah terjadi, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri. Kamu mengawalinya dengan sebuah cinta meski dia tidak pernah menginginkanmu bersanding dengannya," ucap Terry.
"Aku rela menjadi yang kedua jika kamu butuh tempat untuk berbagi luka. Aku tidak pernah ingin menjadi yang pertama karena itu hal yang tidak mungkin kudapatkan. Namun jika dengan menjadi selingan mampu membuatmu memahami sedikit rasaku, aku akan senang hati melakukannya. Aku mencintaimu meski cintamu tidak tercipta untukku," imbuhnya.