My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 117 Failed Engangement



Cinta hadir dengan sendirinya


Jadi jangan pernah menyalahkan waktu atas keterlambatannya


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam hari saat Krisna hendak memejamkan mata, terdengar suara matic berhenti di depan kamarnya. Wanita itu enggan beranjak. Dia sadar tidak mungkin ada orang yang menemuinya kecuali Terry. Bahkan laki-laki itu selalu memberi tahu terlebih dulu.


"Ceklek" pintu kamar terbuka.


Krisna kaget ketika sadar ternyata lupa mengunci pintu. Dalam kegelapan wanita itu melihat bayangan Poda, tapi segera menepisnya saat ingatannya kembali ke kenyataan pahit yang menimpanya.


Laki-laki itu tidak mungkin datang kembali. Biarlah dia pergi bersama senangnya saat ini. Lampu menyala saat Krisna hendak memejamkan matanya kembali.


"Apa kamu tidak mengharao kehadiranku?," tanya suara bariton yang sangat dihafal siapa pemiliknya.


Refleks Krisna duduk dan membuka matanya lebar-lebar saat mendengar suara Poda terlontar.


"Apa aku tidak bermimpi?."


"Mana ada mimpi senyata ini?."


Poda berjalan mendekat ke arah Krisna. Mengamati wanita itu dari jarak sangat dekat. Sementara Krisna mati-matian menahan air matanya agar tidak luruh. Dia tidak ingin kembali terlihat bodoh meski sebenarnya dia memang bodoh.


"Maaf," ucap Poda tulus.


"Darimana?," tukas Krisna.


"Aku pulang ke rumah, besok sore kita akan melangsungkan pertunangan," ucap Poda.


Laki-laki itu tidak memberikan ruang agar Krisna tahu tentang hidup yang di jalaninya. Poda segera pergi setelah mengutarakan maksud kedatangannya.


"Untuk malam ini aku akan tidur di kostku dan jangan lupa besok sore aku akan menjemputmu," imbuh Poda.


"Brak" pintu dibanting dengan kasar saat Poda keluar disusul deru matic yang perlahan menghilang.


Hening kembali menyelimuti malam. Seperti hati yang selalu kosong dan merasa kelam. Wanita yang tengah mengandung merenung seorang diri. Meratapi kebodohan yang telah dilalui.


"Akankah esok aku masih sanggup bertahan?Tiga bulan dia bahkan tidak bertanya kabarmu. Semoga menjadi anak yang tegar dan kuat baby," ucap Krisna seraya mengusap perutnya yang mulai membuncit.


Pagi menjelang terasa begitu berat untuk sekedar melangkah. Semua tak akan lekang oleh waktu. Hingga sore menyambut dan berganti senja merah di ujung sana.


Wanita itu menghembuskan nafas kasar setelah selesai membersihkan diri. Entah kenapa dia merasa dadanya berdebar semakin cepat. Dia tidak pernah merasa gugup sebelumnya, tapi kali ini satu hal yang tidak pernah dibayangkan muncul begitu saja.


"Instingku terlalu kuat untuk menyadari adanya bahaya, tapi hatiku terlalu lemah untuk mempercayainya," gumam Krisna.


Tepat pukul 17.00 WIB Poda datang dengan matic kesayangannya. Mereka melakukan perjalanan dalam diam. Ini bukan pertama kali keduanya saling diam, meski sebenarnya sangat menyakitkan.


"Krek krek krek" rantai matic putus di tengah jalan.


Krisna turun karena mendadak matic yang ditumpanginya berhenti.


"Ada apa?," tanya Krisna.


"Rantai los, sudah malam jauh bengkel juga. Aku harus menghubungi keluargaku," jawab Poda.


"Baiklah," ucap Kris pasrah.


Bayangan keluarga besar Poda menghantui benaknya. Krisna terlalu kecil jika bersanding dengan mereka. Ibu yang harusnya mendidik anaknya selalu membela kesalahan anaknya.


Dua puluh menit setelah Poda menghubungi keluarganya, sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan mereka. Semua penumpang mobil turun dan menanyai keadaan Poda.


Semakin tersingkir, itulah kata yang pertama kali hadir di benak Krisna. Wanita itu semakin mengasingkan diri dengan menjauh dari kerumunan. Sekalipun dia menghilang, tidak akan ada seorang yang mencarinya.


Kecuali Terry, itupun jika dia masih menganggap Krisna sebagai temannya.


"Tuhan, aku seperti tidak berguna disini," gumam Krisna menahan isaknya.


"Dimana wanitamu?," tanya mama kepada Poda.


"Dia bahkan tidak menyebut namaku, tapi memanggilku dengan sebutan wanitanya? Apa aku hanya pemuas nafsunya saja? Orang tua macam apa yang bicara seperti itu? Apa orang kaya berpendidikan tinggi selalu semena-mena seperti ini?," batin Krisna.


"Krisna di sana," jawab Poda seraya menunjuk ke arah dimana Krisna berada.


Mama mendekat Krisna menundukkan kepala. Dia tidak punya keberanian untuk bertemu Poda dan keluarga.


"Apa kamu mengandung janin dari anakku?," tukas mama.


"Astaga! Bahkan aku terlihat seperti wanita ******. Sakit saat wanita yang seharusnya juga menyayanginya seperti tidak menginginkan kehadirannya," batin Poda.


"Jawab!," ucap mama.


"I-iya," jawab Krisna gugup.


Poda menitipkan maticnya ke sebuah rumah yang kebetulan berada di dekat lokasi. Lalu mengajak Krisna masuk ke dalam mobil milik keluarganya.


Jangankan genggaman tangan, melirikpun Poda enggan. Krisna merasa asing di tempat yang sebentar lagi akan menjadi bagian hidupnya.


Perjalanan terasa sangat lama untuk Krisna karena wanita itu hanya berteman kesepian. Tanpa ada seorangpun yang mengajaknya bicara.


Mobil mewah memasuki halaman rumah yang terlihat biasa. Jauh dari kata sempurna apalagi pantas mendapat tamu mobil seperti seharusnya.


Krisna turun mengikuti keluarga yang lain. Semua yang ada di sana masuk ke dalam rumah dan duduk di tempatnya masing-masing.


Acara tunangan sudah berjalan, tapi Krisna tidak menyadarinya. Poda duduk bersama keluarganya sedangkan Krisna duduk terpisah dari keluarganya. Wanita itu dari dulu tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua.


Sakit saat mengingat semua yang dilakukan selalu salah hingga kebiasaan itu memaksa Krisna menjadi pribadi yang sedikit introvert.


"Apakah Poda bersedia menjadi calon tunangan Krisna?," tanya orang yang ditunjuk sebagai MC dalam acara kecil tersebut.


"Iya," jawab Poda.


"Apakah Krisna bersedia menjadi calon tunangan Poda?," tanya MC.


"Ragu," kalimat laknat itu terlontar begitu saja dari bibir Krisna.


Bahkan dia tidak sadar jika ucapannya membuat ayahnya murka. Dia tidak menyangka jika anak perempuannya akan membuat malu. Terlebih acara dilangsungkan di kediamannya.


"Ragu? Jangan pernah menikah seumur hidupmu!," tukas ayah dengan nada tinggi lalu pergi meninggalkan acara malam itu.


"Dia wanita yang kasar. Tidak baik untuk Poda. Aku bersyukur jika akhirnya mereka berdua tidak akan menikah. Beberapa menit yang lalu dia bahkan tidak menyapa atau bertanya kabar denganku. Dia tidak melihatku, mungkin dia mendadak buta. Sepanjang perjalanan diam. Malah sekarang tidak menyetujui acara tunagan ini," tukas Mama Poda dengan menggebu.


Seakan wanita paruh baya itu meluapkan segala yang menjadi amarahnya. Tidak semua yang dikatakan adalah benar, tapi Krisna tidak punya keberanian untuk membantahnya.


"Aku diam karena tidak berani menyapa. Aku pernah sekali hadir dan tidak dianggap keberadaanku. Aku takut hal itu terulang lagi. Selama ini aku selalu terluka. Aku kecewa karena Poda tetap saja memberiku luka. Dia selalu membohongiku. Apakah hubungan yang berawal dengan kebohongan harus diteruskan?," batin Krisna.


Wanita itu hanya bisa menjawab semuanya dalam hati.