My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 29 Merasa Nyaman



Kau hadir dalam ketenangan


Menyambut hangat sebuah pelukan


Memberi kenangan meski berupa perpisahan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


POV Krisna setelah makan siang


Setelah makan siang itu, aku merasa ada yang aneh. Dari gelagatnya Poda terlihat menyembunyikan sesuatu. Seperti yang dia lakukan sebelumnya. Aku bisa merasakan gerak-geriknya, juga bisa merasakan ada yang di sembunyikan dariku. Tapi aku tidak pernah tau apa itu.


Ponselnya berdering saat kita selesai makan. Poda hanya meilirik ponsel itu bahkan tidak menyentuhnya. Aku penasaran siapa yang menghubungi Poda karena tidak biasanya dia mengabaikan panggilan seperti ini. Apakah itu dari selingkuhannya.


Aku semakin penasaran ketikan ponsel itu berdering lagi, namun lagi-lagi Poda tidak mengangkat panggilan itu. Malah dia membalikkan ponselnya. Kenapa dibalik padahal aku baru akan meliriknya. Melihat siapa yang menghubunginya. Kecurigaan ku semakin bertambah ketika panggilan masuk ke tiga kalinya, Poda justru mengambil ponsel dan menonaktifkannya. Ah padahal aku sudah berharap dia mengangkatnya.


"Sayang, kamu kembali ke kantor kan?," Poda bertanya ketika aku selesai meminum es teh.


Jarang sekali Poda bertanya seperti itu. Apakah dia akan melakukan sesuatu. Biasanya dia lebih senang bertemu denganku lebih lama. Tapi kali ini Poda benar-benar berbeda. Aku yakin sesuatu akan terjadi.


"Iya aku akan ke kantor, kerjaanku menumpuk," aku menjawab seperlunya.


Poda segera membayar makanan dan mengantarkanku kembali ke kantor. Sampai di depan gerbang, aku berpapasan dengan Raga. Bawahan Raka. Sekaligus seseorang yang pernah menjadi orang ketiga di hubungan Raka dan Rena. Aku hanya tersenyum saat melihat Raga.


Aku memeluk Poda lalu mencium pipinya. Itulah kebiasaan ku ketika akan berpisah dengannya lalu melambaikan tangan dan masuk ke kantor ketika Poda sudah tidak terlihat. Aku segera menuju ruangan ku. Pasti Raka sudah berada di sana.


**********************************************


"Dari mana kris?," Raka langsung menyambutku dengan pertanyaan.


"Makan di Al*an ka," ucap Krisna.


"Tumben, makan sama siapa?", tanya Raka.


"Sama Poda, tumben banget dia mengajakku makan," jawab Krisna santai.


"Eh Kris, kamu tidak curiga kenapa Poda iba-tiba mengajakmu makan siang?," Raka kembali bertanya.


"Tidak, tapi aku curiga ketika makan siang ada yang menghubunginya namun Poda tidak mengangkatnya," jawab Krisna.


"Serius?," Raka bertanya dengan tatapan mengintimidasi.


"Iy," jawab Krisna lirih.


"Bisa jadi itu tanda-tanda perselingkuhan di mulai," ujar Raka.


"Rakaa....", Krisna berkata seraya mencubit lengan Raka.


"Kris aku serius, tau sendiri pengalamanku tentang cinta di level berapa?," jelas Raka


"Hahaha betul juga," Krisna mencoba tertawa.


Krisna mulai memikirkan kejadian tadi. Dimana ada panggilan masuk berkali-kali namun Poda tidak menjawabnya. Malah Poda membalikkan ponselnya. Itu menambah persepsiku tentang tanda-tanda selingkuh.


Tanpa di duga, pintu ruangan mereka ada yang mengetok.


"Tok.. Tok.. Tok," kemudian pintu terbuka.


"Ada apa ga?," tanya Raka.


"Maaf mas, aku bukan untuk berbicara tentang pekerjaan," jawab Raga.


"Iya tidak apa-apa, ada apa ga?," ucap Raka.


"Aku mau bicara sama Krisna," lirih Raga.


"Kamu ingat kita ketemu di Al*an tadi?," tanya Raga.


"Iya," jawab Krisna.


"Tadi pacar kamu?," tanya Raga lagi.


"Raga, kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu menaruh perasaan sama Krisna?," tukas Raka menyela ucapan Raga.


"Raka, sudah! Kamu kenapa marah setiap ada yang bicara sama aku?," ucap Krisna menyela perdebatan Raka dan Raga.


"Kris, kamu tahu kan dia selingkuhan mantanku? Aku tidak mau kamu jadi korban selanjutnya," jelas Raka.


"Tidak ka, kamu tenang aja," ujar Krisna santai.


"Maaf kris, aku beneran tanya apakah tadi pacar kamu?," tanya Raga kedua kalinya.


"Iya ga, kenapa ?," ucap Krisna penasaran.


"Kamu tadi makan di Al*an?," ujar Raga.


"Iya, Raga tolong jangan membuatku penasaran, ada apa sebenarnya," tanya Krisna semakin penasaran.


"Aku tadi ke Al*an memesan makanan tiba-tiba pacar kamu datang. Awalnya dia sendiri, aku pikir ada sesuatu yang ketinggalan. Ternyata ada seorang wanita datang, kemudian wanita itu duduk disamping pacar kamu. Mereka kemudian bicara dengan wajah serius. Sesekali sang wanita berteriak seperti melampiaskan amarah," terang Raga yang berhasil membuat Krisna diam seperti merasakan adanya pisau tajam yang menghunus dadanya.


"Dddeegg, ini kedua kalinya aku terlihat rapuh di depan Raka namun aku mencoba terlihat tegar," batin Krisna.


"Kamu yakin ga? Tolong jangan mengarang cerita jika hanya menginginkan Krisna," ancam Raka yang ditujukan kepada Raga.


"Aku serius mas, aku tidak memaksa kalian percaya atau tidak ku hanya mengatakan apa yang ku lihat," jelas Raga.


"Oke ga, terima kasih atas infonya," ucap Raka.


"Iya mas, maaf mengganggu," lirih Raga seraya berlalu.


"Di dalam ruangan ini aku benar-benar rapuh seperti memperjuangkan cinta sendiri, tidak pernah sekalipun Poda menghargaiku, tidak pernah sekalipun Poda menganggapku ada! Aku kecewa entah untuk yang ke berapa kalinya, aku sadar jika aku terlalu bodoh untuk mempertahankan sesuatu yang tidak mungkin di pertahankan," gumam Krisna.


Raka memutar lagu "One Thousand Years". Lagu yang diputar ketika pertama kali aku dan Poda bertemu. Raka memutarnya tanpa sengaja. Sementara Krisna kembali teringat pertemuan pertama kalinya dengan Poda. Mereka berdua menikmati indahnya hujan dibalik jendela yang mempersatukan dua insan iti. Tertawa bersama dan saling menggoda. Tidak ada dusta di antara mereka.


Perlahan Krisna meneteskan air mata.


Krisna terlalu bodoh untuk semuanya. Dia berdiri bermaksud keluar dari ruangan ini mencari tempat ternyaman untuk melampiaskan semuanya. Wanita itu benar-benar tidak tahan dengan semua ini hingga dia lupa jika saat ini ada Raka disampingnya yang sedari tadi memperhatikan. Kemudian Raka memegang tangan Krisna seperti menguatkan wanita di sebelahnya.


"Kris, duduk," pinta Raka.


Krisna duduk kembali enatap Raka yang sedari tadi menatapnya. Krisna melihat juga ada luka di pelupuk netra Raka. Mungkin laki-laki itu teringat ketika mantan kekasihnya selingkuh di ruang ini. Krisna memejamkan mata, dia tidak sanggup menangis di depan Raka untuk kedua kali. Dia tidak mau Raka berharap lebih.


Raka kemudian memeluk Krisna. Menenangkan Krisna dalam dekapannya. Dia menikmati aroma musk yang memenuhi Indra penciumannya. Raka mengelus rambut Krisna pelan lalu menciumnya. Wanita itu benar-benar lelah, dia hanya ingin dicintai.


Perlahan Krisna membalas pelukan Raka. Terserah bagaimana Poda menganggapnya Jika apa yang dilakukan Krisna salah, lantas apakah yang dilakukan Poda benar?. Bahkan sepertinya yang dilakukan Poda lebih parah dari Krisna. Wanita itu hanya ingin menikmati kenyamanan ini.


Tidak dipungkiri, Krisna merasa nyaman dalam pelukan Raka. Mungkin hatinya seditik tersentuh oleh perlakuan Raka. Laki-laki itu selalu ada di saat Krisna membutuhkannya. Fia tidak pernah menganggap kehadiran Raka, namun Raka dengan sabar selalu berkata bahwa dia akan selalu ada.


Raka mencium pipi Krisna, sedangkan wanita itu hanya tersenyum menyembunyikan pipi yang terasa panas. Ketika Raka memeluknya lebih erat, Krisnapun membalasnya.


"Jujur aku menikmatinya," lirih Krisna dalam hati.


"Teruntuk hati yang telah lelah, terimalah ini sebagai pelepas penatmu, teruntuk jiwa yang rapuh terimalah dia sebagai pelepas jenuh," gumam Raka bermaksud menyadarkan wanita itu jika masih ada Raka disampingnya.


"Aku sangat berterima kasih kepada sosok yang selama ini menemaniku dengan suka rela tanpa ku minta dan tanpa di sangka, meski kamu hadir di saat hariku telah berlabuh, namun aku berjanji pada diriku sendiri, semoga aku bisa membuka lembaran baru untukmu, aku berharap semoga Tuhan menyatukan kita dalam sujudnya dan teruntuk kamu, Feri Poda Mardana terima kasih atas luka yang selalu ku terima


setidaknya kamu adalah alasanku untuk tidak mempertahankanmu," lirih Krisna.