My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 106 Pencitraan



**Lebih baik tidak bersama daripada menjadi yang kedua, meskipun pada akhirnya nanti akan menjadi yang pertama. Karena sesuatu yang berawal dari mendua tidak akan bertahan untuk selamanya.


Aku tidak memungkiri adanya rasa ingin menguasai, namun aku memilih menyendiri ketika rasa itu tak terbalas seperti dulu lagi.


Kecewa, adakah kau yang telah mengubah sinar cinta menjadi sebersit luka?


Aku tidak mengerti, tapi aku akan belajar memahami.


Jika cinta tidak selamanya membuatku bahagia**.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bodoh! Kenapa kalimat itu yang keluar dari bibir seksiku? Padahal ada seribu kata yang sudah kurangkai, sia-sia sudah pencitraan ku selama ini," batin Terry.


Semakin Terry mengubur perasaannya dalam-dalam, semakin laki-laki itu tidak bisa memejamkan mata. Berbeda dengan Krisna yang perlahan mulai terlelap. Lalu entah sampai dimana alam mimpi membawa wanita itu.


Terlihat begitu damai ketika wanita itu tidur. Namun akan kembali sadis dan bersikap acuh ketika dia membuka mata.


Tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Terry jika mereka akan tidur berdua. Jangankan Terry, Krisna saja tidak berani untuk sekedar berharap. Wanita itu sangat mengerti akan siapa dirinya sesungguhnya.


Berasal dari rakyat biasa, yang ekonominya jauh di bawah Terry. Krisna berasal dari keluarga sederhana, sementara Terry sudah terlahir dari keluarga yang lebih dari cukup.


Satu hal yang Krisna banggakan dari seorang Terry, yakni tekad laki-laki itu untuk bekerja keras demi mendapatkan sesuatu yang menjadi keinginannya.


"Tik tik tik" hanya alunan waktu dari putaran jam yang menjadi saksi bisu Terry.


Dua jam berlalu setelah Krisna tidur, Terry sama sekali belum bisa membiarkan matanya terpejam. Terry segera menenggelamkan kepalanya di leher Krisna membuat wanita itu mengeluarkan suara khas bangun tidurnya.


"Terry, jangan melakukan hal bodoh," gumam Krisna.


Mata Terry membulat sempurna ketika wanita di hadapannya tidak menampar pipi mulus miliknya.


"Kamu mengigau?," tanya Terry.


"Tidak," jawab Krisna.


"Kenapa tidak menamparku?," tukas Terry.


"Kamu mengganggu tidurku dan aku ingin melanjutkannya, cepat menjauh," ucap Krisna seraya menjambak rambut Terry.


Bukan menjauh Terry justru mendekatkan tubuhnya agar menempel di tubuh Krisna. Wanita yang merasa kedinginan itu tak lagi memberontak. Dia kembali memejamkan mata membuat Terry mengacak rambutnya karena kesal.


"Menyebalkan, kenapa nggak bangun sekalian sih," gerutu Terry.


Saat Terry mencoba menutup mata, gerakan kecil menggoyangkan tubuh membuatnya kembali melirik ke arah Krisna. Kini wanita itu sempurna terbangun dari tidurnya.


"Monster apa ini? Barusan tidur lagi kenapa sekarang bangun? Aneh," batin Terry.


"Kenapa?," tanya Terry.


Melihat raut wajah Krisna yang pucat seolah Terry tau apa yang diinginkan Krisna. Segera Terry berdiri dan mengambil air putih kemasan yang tadi dibelinya.


"Minumlah, apa mimpi buruk menimpamu?," ucap Terry seraya memberikan minumnya.


Anggukan kecil terlihat sebagai jawaban. Terry hendak memeluk Krisna, tapi tubuh wanita itu berbeda dari tadi. Keningnya terasa panas, sementara ujung kakinya terasa begitu dingin.


Sesaat rasa panik menyerang Terry. Dia berada di hotel bersama pasangan orang lain. Tidak melakukan apapun, tapi wanita itu mendadak demam. Terlebih Terry tidak bisa membiarkan orang yang disayangi dalam keadaan buruk.


"Kamu sakit?," ucap Terry.


"Tidak," lirih Krisna.


"Lalu kenapa kamu demam seperti ini?," tanya Terry seraya kembali meletakkan punggung jarinya di dahi Krisna.


"Aku selalu seperti ini ketika mimpi buruk," jawab Krisna.


Masih dalam keadaan membuka mata, Krisna dengan lancang mengamati wajah Terry. Tentu saja membuat pemiliknya salah tingkah. Bukan apa-apa, tapi Terry takut jika nanti akan memangsa Krisna.


"Aku tidak bisa tidur setelah mimpi buruk," ucap Krisna.


Terry menaikkan sebelah alisnya, di saat dia akan memejamkan mata kenapa harus ada hal yang mengganggunya. Sejak tadi rasa kantuk sama sekali tidak menghampirinya, tapi ketika perlahan rasa itu ada, Terry justru harus mendapati Krisna yang seperti ini.


"Apa hal aneh ini merupakan kebiasaanmu?," tanya Terry.


"Iya," jawab Krisna polos.


"Tapi aku mengantuk," ucap Terry setelah dia menguap.


"Apa yang membuatmu tidak mengantuk? Terry, aku tidak bisa begadang sendiri. Aku takut kesendirian di tempat asing seperti ini," ucap Kris a dengan nada manja.


"Em, aku tidak yakin kamu mau melakukannya," goda Terry.


"Katakan, aku akan mengabulkannya," ucap Krisna.


"Bercinta hehe," kekeh Terry.


Sontak Krisna langsung menjitak kepala Terry karena kesal mendapat jawaban yang menurutnya tidak masuk akal.


"Kenapa? Bukankah kamu yang meminta agar aku mengatakannya?," dengus Terry.


"Aku tahu kamu hanya melakukannya dengan wanita kesayanganmu bukan bersamaku," gerutu Krisna.


"Kamu aja yang nggak tau kalau aku sayang kamu wkwk," batin Terry.


Perlahan kelopak mata Terry mulai mengatup, namun jari telunjuk Krisna menahannya.


"Ayolah, jangan biarkan aku sendiri," ucap Krisna seraya menempelkan kepalanya di dada Terry.


"Hei bodoh! Jangan lakukan ini kepadaku!," batin Terry.


Mati-matian Terry menahan debaran dada yang tidak menentu iramanya. Aliran darah seakan berdesir lebih cepat. Malam ini hidupnya tidak tenang karena ide gilanya sendiri. Awalnya Terry hanya berniat memberitahu jika dia tidak pulang agar Krisna menghampirinya, meskipun Terry yakin Krisna tidak akan datang.


Siapa sangka jika malam itu Krisna begitu putus asa dengan masalah asmaranya. Dan dengan segera mengiyakan ucapan Terry. Krisna dan Terry awalnya saling melempar umpatan ketika di ponsel, tapi ketika Krisna datang wanita itu tidak jadi melanjutkan amarahnya.


"Cium aku," tukas Terry.


"Cup" Krisna mencium bibir Terry tanpa rasa bersalah.


"Sial! Kamu berbanding terbalik ketika marah, kecewa, terluka, dan bahagia. Aku baru menyadarinya sekarang," batin Terry.


"Cup" Terry juga mencium bibir Krisna.


Seolah sesuatu itu harus ada sebab dan akibat. Seperti ciuman yang saling balas-membalas.


Terry mencium lalu ********** sementara kedua tangannya mengunci pergerakan Krisna agar wanita itu tidak terlepas. Awalnya Krisna menolak, tapi kemudian membalas ciuman Terry dengan ******* bibir bawahnya.


Erangan halus mulai terdengar di telinga Krisna membuat wanita itu bergidik ngeri. Tidak pernah dia berniat untuk memberikan ciumannya kepada orang lain. Akal sehatnya muncul seketika tepat saat itu Krisna menggigit bibir Terry.


Refleks Terry mengaduh dan melepaskan Krisna.


"Sakit," ucap Terry seraya memegang bibir bawahnya.


"Disini lebih sakit," tunjuk Krisna pada dadanya.


"Cup" tanpa berdosa Terry mendekatkan kepalanya ke gundukan kembar milik Krisna lalu menciumnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Saat Krisna hendak menjitak Terry, laki-laki itu lebih dulu mencium bibirnya. Sontak Krisna membulatkan mata dengan sumpah serapah dan segala cacian yang terlontar.


"Brengs*k!," umpat Krisna.


"Sstttt jangan marah sayang, aku selalu menemanimu kapanpun dan dimanapun," bisik Terry sengaja ingin menggoda Krisna.